Senin, 26 Januari 2026
Banten Raya
  • Daerah
  • NasionalNew
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal
No Result
View All Result
Banten Raya
  • Daerah
  • NasionalNew
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal
Senin, 26 Januari 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Banten Raya
  • Daerah
  • Nasional
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal

Dilema Mengajar di Masa Pandemi COVID-19, Antara Idealisme dan Realitas

Banten Raya Oleh: Banten Raya
21 November 2021 | 22:51
Dilema Mengajar di Masa Pandemi COVID-19, Antara Idealisme dan Realitas

Rudi Yana Jaya Dok Bantenraya

Bagikan Ke WhatsAppBagikan Ke FacebookBagikan Ke TwitterBagikan Ke Telegram

Oleh : Rudi Yana Jaya*

Pendidikan adalah sebuah proses untuk membentuk generasi penerus bangsa yang kompeten dan berkualitas. Pendidikan memegang peranan penting dalam pembangunan suatu Negara.

Jika tidak ingin menjadi bangsa yang tertinggal, maka generasi bangsa harus melawan kebodohan yang merupakan musuh nyata melalui pendidikan. Dengan pendidikan juga bisa menjadikan wadah bagi setiap orang untuk memperdalam suatu bidang ilmu. 

Pada awal Maret tahun 2020 bangsa ini mendapatkan cobaan dimana virus Covid-19 masuk ke Indonesia. Awalnya hanyadua orang warga Indonesia terjangkit virus tersebut sepulang dari Wuhan-China.

Namun akhirnya virus menggelinding menjadi pandemi yang merenggut ribuan nyawa bangsa Indonesia. Dengan merebaknya korona, pemerintah Indonesia sendiri harus memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) dan terakhir dikenal dengan PPKM untuk menekan penyebaran Covid-19 agar tidak semakin meluas ke seantero Indonesia.

Baca Juga: Sekolah Adiwiyata Dinilai Tanamkan Pendidikan Karakter

Dunia pendidikan menjadi salah salah satu sektor yang terdampak guncangan keganasan virus Covid-19. Dunia pendidikan Indonesia mengantisipasi pandemi ini dengan megambil langkah strategis yakni meniadakan pembelajaran tatap muka.

Ini dilakukan untuk penyikapi virus yang sifatnya mudah menular dan sulit untuk dikendalikan. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang dikepalai oleh Mas Nadiem Makarim membuat perubahan proses belajar mengajar dari luring menjadi Daring (Dalam Jaringan-Belajar Online).

Awalnya, metode ini menyebabkan masalah besar dan menimbulkan kontroversi dikalangan masyarakat khususunya siswa-siswi dan dewan guru. Imbas dari kasus Covid-19 tersebut proses pembelajaran harus menggunakan metode baru  yang lain dari yang biasanya. Kondisi ini menyebabkan shock bagi semua yang berkecimpung didalamnya. 

Merujuk pada pengertian guru atau tenaga pendidik di Indonesia tidak lepas dari tujuan untuk memberikan pengetahuan pada siswa , mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Semua sistem ini  tentunya ada dalam sebuah perangkat pembelajaran (RPP) sesuai dengan standar kompetensi agar peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran dengan baik. Tetapi dengan munculnya pandemi membuat semua guru harus menyiapkan segala keperluan (perangkat daring) untuk proses pembelajaran jarak jauh agar bisa berjalan efektif.

Dalam situasi ini guru tidak mudah menstransfer ilmu karena pembelajaran tidak dilakukan secara bertatap muka. Belajar jarak jauh tidak pernah dikenal awalnya dan tidak dikenal pada isi kurikulum pemerintah. Tidak sebatas itu,  seorang guru juga semasa kuliah belum pernah dapat materi pembelajaran bagaimana  menerapkan strategi pembelajaran jarak jauh.

Apalagi saat pembelajaran daring dilakukan ada beberapa faktor pendukung yang wajib ada seperti jaringan internet, gadget (HP Android), serta dukungan dari orang tua siswa dan guru akan penerapan sistem belajar seperti ini.

Baca Juga: Seminar Merdeka Pembelajaran Abad 21 dari PGRI Tangsel, Upaya Optimalkan Pelayanan Pendidikan  

Sekolah di Kampung

Pemberian tugas pada awal masa pandemi banyak dan tidak efektif’ karena masih banyak siswa-siswi atau orang tua selaku yang mendampingi anaknya mengalami kegagapan pada system IT (Iinformasion Technology) begitu juga ada beberapa guru yang masih gagap menggunakan aplikasi, sebab  hal tesebut sangat sulit disampaikan pada kondisi/keadaan tanpa aktivitas nyata dan mesti berjalan dengan secara online.

Memang benar guru salah satu instrumen penyampaian ilmu pada anak. Maka untuk itu sekolah kami melakukan pembelajaran dengan pemberian tugas menggunakan dua cara, yaitu “Daring dan Tugas Cetak”, karena mau tidak mau harus menyesuaikan bagi siswa-siswi yang tidak memiliki HP atau jaringan disuatu daerah/lokasi siswa tinggal memang tidak ada. 

Tantangan yang dialami sekolah kami  adalah lokasi sekolah ada di kampung dan sangtlah berat dengan secara tiba-tiba melakukan perubahan pada pembelajaran. Maka tidak ada cara lain selain beradaptasi dengan pandemi tersebut sesuai intruksi pemerintah.

Pengalaman yang paling dilemastis khususnya pada kelas XII, karena selama pandemi pembelajaran hampir setahun lebih dilakukan dengan daring. Masih banyak siswa  kelas XII yang terpaaksa tertinggal melaksanakan tugas-tugasnya! Kemudian pertanyaan yang muncul adalah, apakah atas nama korona kita bisa meluluskan siswa sehingga melupakan aspek penting dalam pendidikan, yaitu tanggung jawab siswa?

Penialian yang saya lakukan tentunya tanggungjawab dan hal yang penting yang tak bisa hilang bagi seorang guru. Pada saat pleno pelulusan dan kenaikan kelas di sekolah untuk hasil penialian mata pelajaran, saya tetap memutuskan siswa yang bebal (tidak ada tugas) tidak Lulus/tidak naik, saya rasa dosa besar jika bagi seorang guru menaikan siswa yang sama sekali tak pernah hadir secara virtual atau tidak mengerjakan tugasnya namun lulus.

BACAJUGA:

mahasiswa

Mahasiswa Teknik Lingkungan Nilai AMPAL Banten Tidak Fokus Bahas Dampak Lingkungan

17 Januari 2026 | 17:40
pemuda

Isra Miraj, Pemuda dan Islam Berkemajuan

16 Januari 2026 | 21:22
Pemuda Kota Serang Minta SPMB Harus Ada Perbaikan Karena Banyak Warga Mengeluh

Peringatan Air Berulang di Kota Serang

13 Januari 2026 | 17:27
Soleh, Pemerhati Birokrasi dan Pelayanan Publik

Analisis Penerapan Manajemen Talenta dalam Birokrasi Pemerintahan

8 Januari 2026 | 15:54

Ketika tetap meuluskan sama sama saja menamkan kebodohan pada siswa. Atas dasar itu saya selaku guru SMAN 7 Pandeglang memutuskan bahwa pada saat menentukan penilaian tetap mengacu pada dasar hasil tugas siswa yang telah dikerjakan dalam tataran idealnya dan bisa dikompromikan agar menyentuh nilai KKM, dan bagi siswa yang tidak sesuai tetap tidak Lulus terutama bagi kelas XII dan bagi kelas X & XI ditinggalkelaskan atau pindah.

 Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Pelayanan Pendidikan, Ini yang Dilakukan Poltek PGRI Banten

Saya bisa memahami dengan kondisi pada saat pandemi tersebut, “pengetahuan boleh tertinggal selama corona tetapi tanggungjawab tetap tak bisa ditinggal”, apalagi diabaikan atas nama corona. Walau pun keputusan ini tidak akan disukai oleh banyak pihak khususnya bagi masyarakat (selaku orang tua siswa), karena nilai pendidikan harus tetap dijaga, walau pun pada waktu itu di masa corona. 

Memang saya akui jika SMAN 7 Pandeglang disetiap awal ajaran baru dengan konteks penerimaan siswa-siswi tidak begitu ketat pada penyaringan (penerimaan siswa), tetapi salah satu hal utama dari pendidikan ialah mengembangkan potensi dan mencerdaskan individu untuk lebih baik. Saya pikir, dalam lajur berpikir seperti inilah kita harus memahami bagaimana bisa siswa tinggal kelas pada masa corona.

Pada dasarnya suatu nilai mata pelajaran yang ada di sekolah adalah hak prerogatif guru yang bersangkutan untuk memberikan nilai. Tetapi, keputusan seseorang siswa naik kelas atau tidak itu adalah urusan sekolah sehingga tak jarang sekolah mengadakan “rapat pleno”, dan sering kali tujuan dari “rapat pleno” tidak lain adalah untuk “mengasihani” siswa agar naik kelas.

Baca Juga: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pandeglang Latih 160 Guru Tentang Pendidikan Antikorupsi 

Mengingatkan kembali pada siswa-siswi yang sudah lulus atau naik kelas khususnya pada tahun ajaran 2019-2020. menurut saya sangat kontroversial, terutama jika dikaitkan dengan masa kini yang sudah mulai memberlakukan belajar tatap muka walau belum sepenuhnya.Ternyata masih banyak siswa-siswi yang dimanjakan oleh beberapa mata pelajaran dan merupakan “dampak dari belajar daring” dimana ada sebagian siswa  yang masuk kelas (belajar tatap muka) dan membuat tugas-tugas semaunya”. Situasi ini terkesan memanjakan siswa  dan hal itu sudah keluar dari konteks pembentukan karakter pada dunia pendidikan.

Saya jadi teringat pada siswa-siswa saya sendiri. “Karakter, Keaktifan dan Nilainya rendah. Waktu remedial tak disanggupi”. Bentuk toleransi terakhir batas pengumpulan tugas tak ditanggapi. Tetapi masih ada saja dewan guru yang meluluskan (naik kelas) pada siswa tersebut!

 

Sebenarnya apa yang menjadi acuan dewan guru tersebut bisa meluluskan dan menaikan siswa tersebut?

Satu lagi pertanyaan yang masih mengganjal pada diri ini, “bisakah negara ini naik level kalau guruya saja tak berhak menilai siswanya, terutama di masa pandemi seperti saat ini”?

*Penulis adalah guru di salah satu SMAN di Kabupaten Pandeglang

 

Editor: Administrator
Tags: tidak lulus
Previous Post

Asyik, Bonus Atlet Kota Serang Peraih Medali PON Papua Bakal Cair

Next Post

Tinjau Proyek Jembatan Bogeg Senilai Rp165 Miliar, Gubernur Banten: Luar Biasa Lebarnya

Related Posts

mahasiswa
Opini

Mahasiswa Teknik Lingkungan Nilai AMPAL Banten Tidak Fokus Bahas Dampak Lingkungan

17 Januari 2026 | 17:40
pemuda
Opini

Isra Miraj, Pemuda dan Islam Berkemajuan

16 Januari 2026 | 21:22
Pemuda Kota Serang Minta SPMB Harus Ada Perbaikan Karena Banyak Warga Mengeluh
Opini

Peringatan Air Berulang di Kota Serang

13 Januari 2026 | 17:27
Soleh, Pemerhati Birokrasi dan Pelayanan Publik
Opini

Analisis Penerapan Manajemen Talenta dalam Birokrasi Pemerintahan

8 Januari 2026 | 15:54
tahun baru
Opini

Jangan Hura-hura, Kita Masih Berduka

2 Januari 2026 | 09:23
tahun baru
Opini

Malam Tahun Baru Tanpa Kembang Api, Ikhtiar Merawat Keselamatan dan Kewarasan Bersama

31 Desember 2025 | 13:58
Load More

Popular

  • truk sampah

    Anggaran Dicoret, Pengadaan Truk Sampah di DLH Kabupaten Lebak Batal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Arti Kalimat ‘Nyawit Nih Orang’ yang Banyak Digunakan di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Serang Boyong RKUD dari Bank BJB ke Bank Banten

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkot Cilegon Minta Jatah 20 Ribu Liter Minyakita untuk KKMP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Belum Ada Aturan Daerah, Pemprov Banten Siapkan Pergub Tata Kelola Tambang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lurah Kebonsari Bangun Saung Bengkel Inovasi Tanpa APBD Untuk Kumpul Warga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Serie A Sassuolo vs Cremonese, Pertemuan 2 Diaspora Timnas Pertemuan di Mapei Stadium

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Suami Agnes Jennifer Diduga Kembali Selingkuh, Begini Respon Sang Selebgram

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengusaha Turki Bidik Banten, Tertarik untuk Bangun Pabrik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Premier League Newcastle United vs Aston Villa, Tekad Pasukan Eddie Howe Bangkit di Kandang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trending
  • Comments
  • Latest
SMAN 1 Cimarga

Pengakuan Siswi SMAN 1 Cimarga yang Ikut Mogok Sekolah, Bukan Dukung Siswa Merokok tapi……

18 Oktober 2025 | 12:16
matahari cilegon

Gedung Eks Matahari Lama Cilegon Mulai Dibersihkan, Bakal Jadi Gedung UMKM

8 Januari 2026 | 18:36
Forum Honorer Kota Serang

Forum Honorer Serang Nilai Pelantikan 3.800 PPPK Paruh Waktu sebagai Pelecehan Martabat Pekerja

22 Oktober 2025 | 22:25
SMAN 1 Cimarga

Para Siswa SMAN 1 Cimarga Kena Mental Terus Dipojokan Warganet, Pemkab Lebak Kirim Psikolog

16 Oktober 2025 | 19:45

Dukung Pemulihan Ekonomi Nasional, Bjb Backup Total Pembiayaan UMKM

Asooooy… Kepala Desa akan Diajak Studi Banding ke Korea dan China

Seluruh Ospek di Kampus Diputuskan Digelar Online, Termasuk di Banten

Mudik Resmi Dilarang, Efektif 24 April

Persib Bandung

Menang Tipis, Persib Bandung Kudeta Borneo FC dari Singgasana Klasemen BRI Super League

25 Januari 2026 | 22:25
ODGJ

Melintasi Area Banjir, ODGJ di Binuang Langsung Hilang

25 Januari 2026 | 21:30
sushi

4 Tempat Makan Sushi Ternyaman di Cilegon, Rasa Enak Harga Pas di Kantong!

25 Januari 2026 | 21:15
NJOP KS

Pemkot Cilegon Bantah Penurunan NJOP Kawasan Jadi Alat Tukar Negosiasi Agar Dapat Pemanfaatan Lahan Akses ke Pelabuhan dari KS

25 Januari 2026 | 21:00

Tag

2022 Andra Soni ASN banjir Banten BRI Brigadir J BRI Super League Cilegon drakor drama Korea Film Harga Tiket Helldy Agustian Indonesia Jadwal jadwal tayang Kabupaten Lebak kabupaten serang Kota Cilegon Kota Serang Lebak link nonton link twibbon lowongan kerja Pandeglang Pemkot Cilegon pemkot serang Pemprov Banten pilkada Polisi Preman Pensiun 6 Preman Pensiun 7 profil provinsi banten Ramadhan Robinsar serang sinopsis spoiler sub indo Timnas Indonesia Twibbon UMKM viral
Banten Raya

© 2026 Banten Raya - Berkualitas dan Berbeda

Nomor ID Pers : 26666 | Status Pendataan : Terverifikasi Faktual | Sertifikat : 1393/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Digital Banten Raya
  • Ecommerce Banten Raya
  • Siding Banten Raya
  • Share Banten Raya

Ikuti Kami

  • Daerah
  • Nasional
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal

© 2026 Banten Raya - Berkualitas dan Berbeda