BANTENRAYA.COM – Air selalu datang. Caranya sama. Diam-diam naik, tetiba menguasai. Di Kota Serang, banjir bukan lagi peristiwa luar biasa. Kini menjadi rutinitas, seperti tamu lama yang datang tanpa diundang, selalu disediakan ruang oleh kelalaian sendiri.
“Doanya dulur-dulur, depan rumah sudah kedatangan tamu (Air). Air sudah tinggi sekitar 30 cm. Semoga cepat surut,” ujar salah satu warga yang merekam video saat kedatangan air ke rumahnya, Senin 12 Januari 2026.
Beberapa hari terakhir, hujan turun seperti tak punya agenda lain. Langit gelap, enggan menampakkan terang. Sore hari air mulai merambat dari selokan, sungai, hingga halaman rumah.
BACA JUGA: Pemkot Serang Berkomitmen Rotasi Mutasi dan Promosi Jabatan Pakai Manajemen Talenta
Di sejumlah titik Kota Serang, genangan cepat berubah menjadi banjir. Rumah terendam. Jalan lumpuh. Aktivitas ekonomi berhenti mendadak. Ada yang cepat mengungsi. Ada yang berdiam mengawasi. Selebihnya pasrah.
Berita banjir kali ini terasa familiar. Data muncul berulang. Ratusan rumah terdampak, ribuan warga beradaptasi dengan air setinggi betis hingga dada orang dewasa, fasilitas umum terganggu. Nyaris, kantor layanan kesehatan RSUD Kota Serang ikut terdampak. Ironi nyaris satir, tapi nyata.
Narasi publik sering berhenti pada satu kata yakni, hujan. Curah hujan tinggi. Cuaca ekstrem. Fenomena alam. Banjir diposisikan sebagai takdir langit, bukan hasil akumulasi keputusan manusia bertahun-tahun.
Hujan hanyalah pemicu. Penyebab utama berada di bawah kaki kita. Tanah kehilangan daya serap, sungai menyempit, kota tumbuh tanpa jeda.
Kota Serang berkembang cepat. Permukiman baru bermunculan. Pusat ekonomi bergerak ke pinggir kota. Lahan hijau menyusut perlahan. Sawah berubah menjadi perumahan. Kebun menjadi ruko.
Daerah resapan tinggal cerita. Saat hujan turun, air mengalir di permukaan, mencari ruang, lalu masuk ke rumah-rumah.
Sungai-sungai kecil dahulu menjadi urat nadi aliran air kini tercekik. Di bantaran berdiri bangunan permanen maupun semi permanen. Sebagian berdalih kebutuhan ekonomi. Sebagian akibat pembiaran terlalu lama.
Sungai seharusnya melebar justru menyempit. Debit air meningkat. Kapasitas menurun. Hujan deras turun berjam-jam. Hukum fisika bekerja tanpa kompromi. Air meluap.
“Segini sudah ditanggul. Kalau belum, bisa masuk air ke rumah gua. Kalau di blok belakang sudah masuk rumah. Ada (Ketinggian air) yang sepinggang orang dewasa. Teman disana sudah ada ngungsi semalam,” ujar warga saat berbincang dengan penulis.
Drainase kota pun kelelahan. Saluran dangkal, tersumbat sampah, jarang dirawat. Air hujan tertahan lebih lama. Dalam kondisi normal sistem ini bertahan.



















