BANTENRAYA.COM – Gubernur Banten Andra Soni mengusulkan kepada Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon agar dilakukan rekonstruksi terhadap Istana Surosowan yang berada di Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Istana Surosowan yang dahulu digunakan sebagai kediaman Raja/ Sultan Banten itu merupakan peninggalan bersejarah dari Kesultanan Banten.
Menurut Andra, keberadaan Istana Surosowan memiliki nilai historis yang sangat penting bagi masyarakat Banten karena menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan. Sayangnya, saat ini kondisi Istana Surosowan hancur akibat perang antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan anaknya Sultan Haji yang dibantu oleh penjajah Belanda.
“Saya ingin mengusulkan kepada Menteri Kebudayaan rekonstruksi Istana Surosowan. Itulah simbol perlawanan rakyat Banten kepada penjajahan,” ujar Andra saat perayaan Hari Musik Nasional yang diagendakan akan dihadiri Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Senin (9/3/2026).
Dia mencontohkan, keberhasilan negara lain dalam merekonstruksi bangunan bersejarah yang sempat hancur akibat perang. Salah satunya adalah istana bersejarah di Korea yang pernah dihancurkan pada masa pendudukan Jepang, namun kemudian dibangun kembali dan kini menjadi destinasi wisata dunia.
“Saat istana di Korea dihancurkan oleh Jepang dan dibangun kembali, saat ini menjadi objek wisata dunia,” katanya.
BACA JUGA : Banten Jadi Tuan Rumah Hari Musik Nasional 2026, PAPPRI Dorong Kesejahteraan Musisi Lokal
Karena itu, Pemerintah Provinsi Banten berharap upaya serupa dapat dilakukan terhadap Istana Surosowan agar dapat kembali berdiri sebagai simbol sejarah sekaligus daya tarik wisata budaya. Dengan begitu, masyarakat Banten bisa memiliki kebanggaan terhadap pendahulu mereka yang maju bahkan menjadi kota internasional pada zamannya.
“Kami harap Istana Surosowan dipugar, dibangun ulang, dan sebagainya,” jelasnya.
Namun demikian, Andra mengakui proses rekonstruksi menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait keterbatasan referensi historis yang dapat dijadikan acuan pembangunan ulang. Pasalnya, hingga saat ini belum ditemukan satu pun dokumen yang menggambarkan suasana atau tampilan dari Istana Surosowan.
“Kendalanya, tidak ada rujukan bagaimana bentuk aslinya,” ungkapnya.
Untuk itu, pihaknya berharap para peneliti dan sejarawan dapat menemukan manuskrip atau sumber sejarah yang dapat dijadikan dasar rekonstruksi bangunan tersebut. Dengan koneksi yang dimiliki Kementerian Kebudayaan RI di negara-negara yang memiliki dokumen sejarah tentang Banten diharapkan dokumen tentang Istana Surosowan dapat ditemukan.
“Diharapkan nantinya didapatkan manuskrip yang bisa menjadi rujukan,” tambahnya.
BACA JUGA : Angkanya Terus Meningkat, Pemprov Banten Dinilai Gagal Atasi Kemiskinan di Perkotaan
Andra juga menegaskan bahwa Kesultanan Banten memiliki sejarah panjang yang telah berlangsung selama ratusan tahun sebelum akhirnya dihapuskan pada masa kolonial, terutama saat kepemimpinan Thomas Stamford Raffles. Sebab Raffleslah yang menghapus sistem kesultanan dari sejarah Indonesia.
“Kesultanan Banten berusia sekitar 300 tahun sebelum dihapus oleh Thomas Stamford Raffles pada masa kolonial Belanda,” ujarnya. (***)
















