Kota Serang berada di persimpangan penting. Kota dapat menormalisasi banjir sebagai rutinitas tahunan. Kota dapat memperlakukannya sebagai peringatan keras.
Pilihan pertama murah dalam jangka pendek, mahal dalam jangka panjang. Pilihan kedua menuntut keberanian, konsistensi, kerja lintas generasi.
Banjir tidak menunggu siklus politik lima tahunan. Air mengikuti hukum alam, bukan kalender pemilu. Penanganan perlu melampaui kepentingan jangka pendek. Perencanaan kota tahan banjir adalah warisan, bukan proyek instan.
Pada akhirnya, banjir di Kota Serang mengajarkan satu hal sederhana yang sering diabaikan. Kota adalah ekosistem. Satu bagian rusak. Bagian lain menanggung akibatnya.
Hujan akan terus turun, mungkin lebih ekstrem dari sebelumnya. Pertanyaannya bukan apakah banjir datang, melainkan apakah kita masih terkejut saat ia tiba.
Air selalu jujur. Ia mengikuti ruang yang tersedia. Ruang sempit dan kacau menghadirkan pengingat. Air akan datang lagi, sampai kota mau belajar, berbenah. ***



















