Oleh: Kang Ayip, Founder Happy Care
Tahun 2026 sudah di depan mata.
Tahun 2025 telah kita tinggalkan, tentu banyak hal yang menjadi pelajaran dan catatan bagi setiap orang, harapan yang tertunda, asa yang belum terwujud dan target lainnya yang belum tercapai.
Mari melangkah dengan penuh keyakinan agar tak ada lagi waktu yang kita lewati dengan sia-sia, mengakhiri tahun 2025 dengan husnul khotimah, mengawali tahun 2026 dengan kebaikan yang istikomah.
Tunda dulu keinginan untuk hura-hura, karena kita masih berduka, saudara kita di Sumatera belum pulih, mereka masih berusaha untuk hidup normal seperti sediakala.
Jangan ada lagi kembang api menyala dan mercon berbunyi memecah angkasa.
Saatnya kita berdo’a dan mengharap agar tak ada lagi bencana melanda, semoga Sumatera segera bangkit, Aceh kembali pulih.
BACA JUGA: Tutup Tahun 2025, Pemkot Tangerang Salurkan Bansos Beasiswa untuk 576 Mahasiswa
Jika harus euforia menyambut tahun baru, maka sekedarnya saja. Kita jaga rasa empati kita terhadap saudara yang masih belum hilang rasa traumanya atas musibah yang menerpa.
Kado pergantian tahun tak bisa kita duga
Hampir setiap perpindahan tahun musibah melanda beberapa daerah, termasuk Banten pernah dilanda Musibah dahsyat di akhir tahun 2018 yaitu tsunami Selat Sunda.
Setahun kemudian banjir bandang menjadi pembuka awal tahun 2020 di Kabupaten Lebak.
Berkaca pada peristiwa bencana alam di beberapa daerah, banyak yang menilai bahwa bencana tersebut tidak saja datang karena pengrusakan alam oleh tangan manusia, namun juga banyak yang meyakini musibah datang akibat ulah amoral penduduknya (na’udzubillahi min dzaalik).
Sudah tak ternilai nikmat Tuhan yang diberikan, potensi alam, kesehatan badan, kesempatan hidup dan lainnya, maka sepatutnya pergantian tahun kita isi dengan rasa syukur karena kita masih diberikan kesempatan hidup dan menjalankan skenario Tuhan selanjutnya.
BACA JUGA: Kesempatan Kuliah Gratis di Irlandia, Beasiswa S2–S3 Riset Terbuka untuk Mahasiswa Indonesia
Jangan sampai Tuhan murka, jangan sampai alam bosan dengan ulah kita yang tak lagi taat dengan Tuhannya, tak bersahabat dengan alamnya.
Jaga diri, jaga alam kita dengan menjaga perilaku kita, agar bencana tak menjadi pilihan Tuhan untuk menjadi penghapus dosa-dosa kita.
Saya tutup pesan singkat ini dengan sebuah hadits Rasulullah SAW dari Anas bin Malik rodiallohu anhu: “Tidaklah seorang muslim pun yang bercocok tanam atau menanam satu tanaman lalu tanaman itu dimakan oleh burung atau manusia atau hewan melainkan itu menjadi shadaqah baginya.” (H.R. Bukhari no. 2152).
Hadits tersebut memberi pesan bahwa menjaga alam adalah keharusan, dengan menanam pohon bukan saja kita menjaga ekosistem hutan namun juga menjadi amal ibadah bahkan sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.***


















