BANTENRAYA.COM – Masjid merupakan salah satu tempat yang digunakan untuk menjalankan ibadah sholat lima waktu maupun sholat sunnah.
Pada umumnya masjid dibuat dengan material yang sangat kokoh seperti adukan semen dan batu bata.
Namun berbeda dengan masjid Saka Buana milik ASTRA Infra Toll Road Tangerang-Merak di Provinsi Banten yang membgunakan material bambu sebagai bahan utama.
Baca Juga: Pemerintah Kabupaten Serang Gelar Operasi Pasar Selama Ramadan, Fokus Mengendalikan Kenaikan Harga
Berlokasi di Desa Kragilan, Kecamatan Kragilan tepatnya di samping gerbang tol Ciujung terdapat salah satu masjid yang memngunakan bambu sebagai material utamanya.
Dibangun dengan ribuan bambu menjadikan masjid saka buana ini diklaim sebagai masjib bambu terbesar di Indonesia oleh Yayasan Bambu Indonesia.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Saka Buana Faturohman mengatakan, nama masjid tersebut diambil dari bahasa sansekerta yang artinya tiang dunia.
Baca Juga: Atasi Masalah Lingkungan, Desa Tegal Maja Produksi Pupuk Kompos Organik Hingga Terjual 30 Ton
“Maka makna ini supaya kita memiliki pondasi hidup yang kuat, pemilihan material bambu juga untuk memadukan kearifan lokal walupun masjid ini menggunakan konsep modern. bambu yang digunakan lebih dari 1.000 batang,” ujarnya, saat ditemui di lokasi, Rabu (12/3).
Masjid tersebut memiliki keunikan tersendiri dari mulai bawah hingga menara yang menggunakan material bambu, masjid ini juga menyerupai sarang lebah.
“Modelnya secara keseluruhan seperti sarang lebah, kita tahu manfaat lebah didalam Al Qur’an itu sangat luar biasa, ada lima bambu runcing yang artinya rukun islam. Kalau iseng mau ngitung bambu reng diatas itu jumlahnya 99 yang artinya Asmaul Husna, kalau kita lihat ke atas bentuknya kaya perahu terbalik,” katanya.
Baca Juga: Bakal Diberi CSR, Agung Sedayu Group Jajaki Investasi dengan Pemkot Serang
Pembangunan masjid Saka Buana dimulai pada tanggal 20 Januari 2020 dengan ukuran 260 meter persegi dan bisa menampung sekitar 220 jamaah dan diresmikan empat bulan kemudian.
“Bangunan ini tidak banyak menggunakan paku karena diikat mengguankan tali. Dari yayasan Bambu Indonesia secara rutin melakukan maintenence setiap setahun dua kali, untuk marbotnya disini di gaji seperti karyawan,” jelasnya.
Pria yang disapa Fatur itu menuturkan, pembangunan masjid Saka Buana juga memperhatikan arah mata angin untuk menambah kesegaran ketika melakukan ibadah sholat.
Baca Juga: Stabilkan Harga Pangan, Pemkot Cilegon Luncurkan Pasar Murah di 8 Kecamatan Menjelang Lebaran
“Kita membangun masjid juga menyesuiakan dengan arah mata angin, ada dua pintu dari kanan dan kiri sehingga setiap waktu rasanya adem dan anginnya berasa benget. Setau kami masjid ini meripakan masjid babu terbesar di Indonesia,” paparnya.
Ia mengungkapkan sering kali masjid ini digunakan sebagai tempat pemberhetian traveler untuk melakukan istirahat sebelum melakukan perjalanan kembali.
“Upaya kita membuat masjid ini tetap berada di lingkungan tol sehingga dalam perjalanannya bisa menjadi wisata. Saya sudah banyak dihubungi oleh agen travel yang meminta izin menggunakan masjid sebagai rute pemberhentian,” tuturnya.***


















