BANTENRAYA.COM – Walikota Serang Budi Rustandi menyikapi dengan santai perihal mahasiswa Eksekutif Kota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EK LMND) mendemo di era kepemimpinan 100 hari kerjanya bersama Wakil Walikota Serang Nur Agis Aulia.
Membangun dan memajukan Kota Serang tidak bisa dilakukan selama 100 hari kerja dengan cara simsalabim.
Meski begitu, Budi Rustandi menerima kritik dan saran dari masyarakat Kota Serang khususnya mahasiswa.
Baca Juga: Program Sekolah Rakyat Terkendala Lahan, Pemkot Cilegon Berharap Disetujui Kemensos
Walikota Serang Budi Rustandi mengatakan, program 100 hari kerja bukan tolak ukur kepala daerah dalam menentukan keberhasilan.
“Tapi 100 hari kerja itu di mana momentum seorang kepala daerah
membuat konsep-konsep atau dasar-dasar pembangunan yang akan dilaksanakan lima tahun ke depan di periodenya,” ujar Budi, kepada Bantenraya.com.
Menurut dia, masyarakat berhak untuk menyampaikan aspirasinya termasuk melalui aksi demonstrasi, namun Budi menyarankan menyampaikan aspirasinya dilakukan dengan cara audiensi, selain pesannya tersampaikan dan tidak menganggu ketertiban umum.
Baca Juga: Demo 100 Hari Kerja, Mahasiswa Sebut Walikota dan Wakil Walikota Serang Budi-Agis Gagal
“Saya menyerap tuntutannya, saya berkenan, lebih berkenan, lebih baik, tertib, ya kan kita harus menjaga ketertiban juga. Jangan sampai nanti demonya memancing ketika panas ini hal yang tidak diinginkan atau sampai merusak pager kantor,” katanya.
“Jadi saya lebih berkenan beraudiensi, diskusi, memberi masukan kepada kami sebagai pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan di Kota Serang yang dipimpin oleh saya. Kebetulan saya lagi kurang sehat badan, demam,” imbuh Budi.
Budi juga menyikapinya dengan bijak jika program 100 hari kerjanya dinilai gagal oleh mahasiswa. Kata dia, membangun dan memajukan Kota Serang butuh proses dan tidak bisa langsung simsalabim.
Baca Juga: Ada 17 Ribu Warga Masih Hidup Miskin, Bansos Cilegon Hanya Jangkau 3.012 Orang
“Ya itu haknya masyarakatlah. Mana ada yang namanya membangun gak mungkin 100 hari kerja itu langsung simsalabim. Dengan biaya ratusan miliar. Mana ada pekerjaan yang sampai 3 bulan selesai,” pungkasnya. ***



















