BANTENRAYA.COM – Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Syekh Manshur, gelar diskusi kebudayaan di Kebon Seni Juhut, Pandeglang.
Acara ini digelar dalam rangka salah satu project pembelajaran mata kuliah seni dan budaya Banten.
Dalam sambutannya dosen sekaligus Ketua Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Desi Rosyita menyampaikan, budaya adalah salah bentuk ciptaan manusia yang penuh dengan keindahan.
Baca Juga: Pemprov Banten Kaji Perubahan SOTK, Imbas Berubahnya Kementerian di Era Prabowo Subianto
Ia mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk mencintai budayanya itu sendiri, dan berharap menjadikan mahasiswa yang berbudaya.
“Saya berterimakasih kepada pemateri sekaligus pemilik Sanggar Seni Harum Sari, yang bersedia berbagi pengalaman dan pengetahuan bagi para mahasiswa,” katanya.
Sementara itu dosen pengampu yang juga sekaligus moderator Ade Farid Hasyim menambahkan bahwa mahasiswa harus bisa melek terhadap budaya yang ada di Provinsi Banten dan Pandeglang secara khusus.
Anak muda, lanjutnya, adalah generasi emas penerus kebudayaan yang akan memperjuangkan dan meregenerasikan budaya.
Acara yang bertajuk Apa Kabar Budaya Pandeglang ini dihadiri oleh beberapa jurusan di antaranya Pendidikan Agama Islam (PAI) dan PGMI. “Juga PGSD ini diharapkan menumbuhkan karakter kebudayaan yang positif,” ucapnya.
Sementara itu pemateri sekaligus pemilik Kebon Seni Juhut Haji Illen Endang Suhendar menegaskan, bahwa potensi dan kekhasan budaya masyarakat Banten.
Baca Juga: BI Banten Bakal Terapkan WA Kepo dari Sumedang Untuk Tingkatkan Digitalisasi Daerah
Antara lain Seni Bela Diri Pencak Silat, Debus, Rudad, Umbruk, Tari Saman, Tari Topeng, Tari Cokek, Dog-dog, Palingtung dan Lojor.
“Budaya juga bukan hanya sebatas seni, tapi mencakup permainan tradisional. Pandeglang sesuai dengan moto kota sejuta santri adalah aset yang harus dipertahankan ke khasannya, seperti budaya santri pada umumnya yaitu religius,” imbuhnya.***















