BANTENRAYA.COM – Kasus pemecatan Kepala Sekolah (Kepsek) di Kabupaten Lebak, Banten, beberapa waktu lalu kembali membuka percakapan panjang tentang sebuah posisi dan nasib guru di negeri ini.
Belum hilang dari ingatan publik bagaimana 2 orang guru di daerah lain juga mengalami hal serupa, sebelum akhirnya Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto turun tangan memulihkan nama baik dan posisi mereka. Peristiwa-peristiwa tersebut bukan sekadar potret tunggal, akan tetapi cermin betapa profesi guru masih rawan terhadap tekanan, salah tafsir kebijakan, dan ketidakpastian kesejahteraan.
Hari Guru Nasional 2025 seharusnya menjadi momentum refleksi jujur: apakah para guru kita sudah benar-benar sejahtera? Apakah martabat pendidik telah dijaga sebagaimana mestinya? Ataukah kita masih menempatkan mereka sebagai ujung tombak yang diminta berlari, sementara pijakan tempat mereka berdiri masih rapuh?
BACA JUGA: Rekomendasi Saham 24 November 2025, Cermati Pergerakan SHIP, MDKA, hingga ITMG
Guru Zaman Dulu: Pengabdian yang Terpatri dalam Kesederhanaan
Apabila kita kembali pada kisah guru-guru generasi sebelumnya, keseharian mereka sering kali dibalut kesederhanaan. Mereka berjalan kaki menembus sawah, mengajar dengan papan tulis buram, atau menulis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di atas kertas bekas. Namun ada sesuatu yang tidak tergantikan dari masa itu: penghormatan masyarakat yang begitu tinggi. Guru dianggap tempat bertanya, tempat meminta nasihat, penjaga moral, sekaligus pembentuk karakter anak-anak kampung.
Hal-hal di atas dialami langsung oleh orang tua penulis pada tahun 80an menjelang tahun 90an yang memang ditugaskan di daerah tertinggal, jauh dari pusat ibukota kecamatan, apa lagi kabupaten, dengan kondisi jalan yang rusak dan saat itu belum ada aliran listrik. Bahkan penulis pernah merasakan belajar malam hari dengan lampu tempel minyak tanah. Kemudian memantapkan diri bercita-cita untuk menjadi seorang guru.
Pada masa itu, gaji bukanlah alasan utama seseorang menjadi guru. Mereka memilih mengajar dengan keyakinan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu harus dibagikan. Tetapi zaman berubah, dan tuntutan terhadap guru ikut berubah drastis.
BACA JUGA: Membanggakan, Empat Siswa SMKIC Padarincang Juara Kompetisi Robotik Internasional
Guru Hari Ini: Beban Tugas Berlipat, Kesejahteraan Belum Mengimbangi
Memasuki era digital, peran guru melebar ke berbagai arah. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga administrator, konselor, kreator konten pembelajaran, fasilitator teknologi, bahkan pelapor data pendidikan yang seolah tak pernah selesai. Di sisi lain, ekspektasi masyarakat terhadap mutu pembelajaran semakin tinggi.
Namun tantangannya adalah kesejahteraan guru tidak tumbuh secepat tanggung jawab mereka. Masih ada guru honorer yang gajinya di bawah standar hidup layak. Masih ada pendidik yang harus bergulat dengan tekanan birokrasi yang rumit. Dan masih ada guru yang rentan menjadi korban ketidakadilan hanya karena salah langkah prosedural.
Kita tidak boleh menutup mata: mutu pendidikan tidak mungkin melompat jika kesejahteraan guru berjalan tertatih. Dunia pendidikan membutuhkan kebijakan yang memihak, dan memihak itu artinya memastikan guru dapat menjalankan tugasnya dengan kepala tegak, hati lapang, dan kebutuhan hidup yang terpenuhi.
BACA JUGA: Perkuat Identitas Banten Beriman dan Bertaqwa, Pemprov Dorong ASN Belajar Qur’an
Saatnya Indonesia Menghormati Guru dengan Kebijakan Kesejahteraan yang Nyata
Pemulihan 2 guru oleh Presiden Prabowo Subianto patut diapresiasi, bukan hanya karena tindakan itu menegakkan keadilan, tetapi juga karena memberi pesan bahwa negara hadir untuk melindungi pendidik. Tetapi langkah simbolik tidak cukup. Kita memerlukan kebijakan struktural yang membuat profesi guru kuat dan bermartabat.
Indonesia harus mulai berani menempatkan guru sebagai profesi strategis yang mendapatkan:
– kesejahteraan layak,
– perlindungan hukum,
– pengembangan kompetensi berkelanjutan,
– jaminan karier yang jelas, dan
– lingkungan kerja yang sehat dan manusiawi.
Negara lain yang berhasil memajukan pendidikan selalu menempatkan guru sebagai pilar utama. Indonesia pun bisa — kalau kemauan politiknya kuat.
BACA JUGA: Jumlah Warga Cilegon yang Bekerja ke Luar Negeri Melonjak, Ini Penyebabnya
Menguatkan Guru, Menguatkan Masa Depan Bangsa
Hari Guru Nasional 2025 bukan sekadar perayaan seremonial. Ini pengingat bahwa kemajuan bangsa bertumpu pada figur-figur yang setiap hari berdiri di kelas, mendidik dengan sabar, mengubah kata menjadi ilmu, dan ilmu menjadi masa depan.
Untuk semua guru di penjuru negeri – yang mengajar dengan hati, bertahan dalam tantangan, dan tetap percaya bahwa anak-anak Indonesia layak mendapat masa depan terbaik – izinkan saya menyampaikan satu pesan:
Tetaplah menjadi pelita yang tidak padam.
Tetaplah berdiri meski angin perubahan tak selalu bersahabat.
Karena dari tanganmulah peradaban sebuah bangsa dibentuk.
Semoga tahun ini menjadi awal dari babak baru: guru Indonesia yang sejahtera, dihormati, dan dilindungi negara.
Selamat Hari Guru Nasional 2025! Teruslah menginspirasi. ***
Oleh: Indra Martha Rusmana, Wakil Ketua ICMI Kota Serang



















