BANTENRAYA.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov ) Banten mendorong penguatan nilai religius melalui peluncuran program BEQAM (Belajar Quran untuk ASN dan Masyarakat), sebuah program pembinaan yang menjadi bagian dari agenda strategis Banten Cerdas.
Program ini dijalankan Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) bekerja sama dengan LPTQ Masjid Raya Al Bantani sekaligus memberdayakan para guru ngaji yang berada di sekitar kawasan KP3B.
Kepala Biro Kesra Provinsi Banten, Tubagus Rubal, menjelaskan bahwa BEQAM merupakan tindak lanjut dari delapan program strategis Gubernur dan Wakil Gubernur Banten.
BACA JUGA: Belum Capai Target, Omzet UMKM di Festival Golok Day Hanya Rp 61 Juta
“Ada Banten Bagus, Banten Sehat, Banten Cerdas, Banten Kuat, Banten Indah, Banten Makmur, Banten Ramah, dan Banten Melayani. BEQAM ini adalah turunan dari Banten Cerdas,” kata Rubal, Minggu, (23/11/2025).
Menurut Rubal, penguatan literasi Al-Qur’an dipilih karena sejalan dengan jati diri Provinsi Banten.
“Banten itu punya slogan Iman dan Taqwa. Dari nilai itu, kami melihat pentingnya pembinaan bagi ASN agar mereka bisa membaca Al-Qur’an dengan baik,” katanya.
Ia menilai masih banyak ASN yang sebenarnya ingin belajar, tetapi belum menemukan wadah yang nyaman dan terstruktur.
“Kami ingin memberi ruang bagi ASN yang masih terbata-bata atau belum lancar agar bisa belajar tanpa sungkan.” jelasnya
Rubal mengungkapkan, program BEQAM digelar tiga kali dalam sepekan, yakni setiap Senin, Rabu, dan Kamis. Saat ini terdapat lima guru ngaji yang memberikan pendampingan intensif, dengan komposisi tiga hingga lima peserta untuk satu pengajar.
Metode ini dipilih agar proses belajar lebih fokus dan peserta dapat cepat berkembang.
“Metode belajarnya kita adalah menyimak, dan melanjutkan. Jadi bukan mengulang. Semisal si A dari ayat 1-5, nanti si B dari ayat 5-10, seterusnya,” terangnya.
Rubal juga mengatakan, di samping membina para ASN, program ini juga memberi manfaat bagi para guru ngaji yang dilibatkan.
“Harapannya, mereka bukan hanya mengajar di program BEQAM saja. Jika di kemudian hari ada ASN yang membutuhkan guru ngaji untuk keluarga, lingkungan rumah, atau sekolah agama terdekat, para pengajar ini bisa diberdayakan lebih jauh,” ungkapnya.
Lebih lanjut Rubal mengatakan, para guru ngaji pun tidak hanya mendapatkan honor, tapi juga akomodasi, dan dukungan transportasi.
Ia menuturkan bahwa kegiatan keagamaan seperti tausiah atau ngaji bersama sebenarnya sudah berjalan di banyak OPD.
Namun, BEQAM dirancang lebih sistematis agar pembinaan berlangsung secara rutin dan memiliki capaian yang jelas.
“Harapan kami, program ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ASN tidak hanya dituntut cakap secara administratif, tetapi juga memiliki fondasi moral dan spiritual yang kuat,” tandasnya.***















