Jumat, 27 Februari 2026
Banten Raya
  • Daerah
  • NasionalNew
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal
No Result
View All Result
Banten Raya
  • Daerah
  • NasionalNew
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal
Jumat, 27 Februari 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Banten Raya
  • Daerah
  • Nasional
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal

Filsafat Puasa dan Makna Ramadan dalam Perspektif Jiwa Raga

Burhanudin Raya Rambani Oleh: Burhanudin Raya Rambani
2 April 2025 | 07:23
Pengisian Jabatan Kosong dengan Sistem Manajemen Talenta Dinilai Sebagai Jalan Akselerasi Andra - Dimyati

Pengamat Kebijakan Publik dari Kajian Politik Nasional (KPN), Adib Miftahul. Raffi/Bantenraya.com

Bagikan Ke WhatsAppBagikan Ke FacebookBagikan Ke TwitterBagikan Ke Telegram

Oleh Adib Miftahul, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Fisip Unis

BANTENRAYA.COM – Puasa Ramadan merupakan perjalanan menuju penyucian jiwa dan kesadaran yang lebih tinggi, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Filsuf Muslim Al-Kindi menekankan kesempurnaan jiwa berkaitan dengan pengendalian nafsu.

Menurutnya, jiwa yang sempurna adalah yang mampu mengendalikan nafsu. Dalam konteks puasa, ini berarti pengendalian diri berdampak pada tubuh dan pada aspek spiritual.

Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin yang menyatakan bahwa puasa bukan hanya soal tidak makan dan minum.

Baca Juga: Daftar Promo Tiket Tempat Wisata Selama Libur Lebaran 2025, Dari Taman Safari Hingga Trans Studio

Tetapi menahan diri dari dosa-dosa batin seperti kesombongan, iri hati, dan hawa nafsu. Gagasan serupa disampaikan Ibnu Sina yang meyakini bahwa kesehatan spiritual berkontribusi terhadap kesehatan fisik.

Baginya, puasa adalah salah satu cara untuk menjaga keseimbangan tubuh dan jiwa, karena manusia harus menahan diri dari berlebihan dalam konsumsi dan mengontrol emosinya.

Filsuf lainnya Ibnu Maskawaih bahkan berpandangan puasa adalah bentuk pendidikan moral yang memungkinkan individu untuk mengasah disiplin dan pengendalian diri.

Baca Juga: Terkena Penyakit Kolesterol? Ini Makanan yang Perlu Dihindari

Filsuf Yunani dan Barat juga memiliki pendapat yang sama tentang puasa. Socrates misalnya, menyatakan bahwa jiwa yang kuat adalah jiwa yang mampu mengendalikan keinginannya.

Dalam konteks puasa, ini dapat diartikan sebagai latihan untuk menahan nafsu dan mencapai kebijaksanaan. Plato dalam Republik menyebutkan bahwa pengendalian diri adalah salah satu pilar utama dalam membangun jiwa yang harmonis.

Puasa, sebagai bentuk latihan pengendalian diri, membantu manusia mencapai keseimbangan antara tubuh dan jiwa. Pendapat serupa dituliskan Aristoteles dalam Nicomachean Ethics. Menurutnya, kebiasaan baik hanya bisa terbentuk melalui latihan yang berulang.

Baca Juga: BRImo, Super Apps Persembahan BRI untuk Solusi Transaksi Tanpa Hambatan di Libur Lebaran 2025

Puasa merupakan latihan moral yang membentuk karakter dan meningkatkan kebajikan. Rene Descartes dengan konsepnya ‘saya berpikir, maka saya ada (cogito ergo sum)’, mengajarkan bahwa refleksi adalah bagian dari eksistensi manusia.

Puasa memberikan kesempatan bagi individu untuk merenungkan kehidupannya dan menemukan makna yang lebih dalam melalui refleksi tersebut.

Beberapa filsuf melihat pentingnya puasa Ramadan sebagai struktur sosial dalam membangun kesadaran kolektif. Dalam pandangan Auguste Comte misalnya, puasa dengan aspek sosialnya yang kuat dapat menjadi momentum memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial.

Baca Juga: 10 Ucapan Lebaran 2025 Bahasa Jawa untuk Diunggah di Media Sosial, Tinggal Copy Paste

Thomas Kuhn dengan konsep paradigm shift menekankan bagaimana perubahan besar terjadi ketika manusia mampu melihat realitas dengan perspektif baru. Puasa menawarkan kesempatan untuk mengubah pola pikir dan gaya hidup, menjauh dari konsumsi berlebihan menuju kehidupan yang lebih sederhana dan bermakna.

BACAJUGA:

Android

Perkembangan Versi Android dan Keamanan Smartphone

20 Februari 2026 | 14:08
komputer

Pentingnya Belajar Komputer Sejak Dini untuk Menyiapkan Generasi Unggul di Era Digital

18 Februari 2026 | 13:29
wemos

Mikrokontroler Wemos dan Sensor Suhu DHT22 Sebagai Alat untuk Mengontrol dan Memonitoring Suhu Ruangan Berbasis Internet of Things

10 Februari 2026 | 06:30
sistem tertanam

Software dan Hardware pada Sistem Tertanam

10 Februari 2026 | 06:00

Sama seperti Jurgen Habermas yang melihat komunikasi sebagai inti dari interaksi sosial yang sehat. Dalam konteks puasa, komunikasi dengan diri sendiri dan orang lain menjadi lebih jujur dan bermakna. Karena individu belajar untuk memahami diri sendiri serta meningkatkan empati terhadap orang lain.

Di Indonesia, beberapa filsuf dan cendekiawan Muslim memberikan pemikiran mendalam tentang makna Ramadan. Hamka misalnya, menekankan bahwa puasa adalah jalan untuk mencapai ketakwaan dan disiplin diri.

Baca Juga: Beres Ngupat Lanjut Nonton! Daftar Film Bioskop yang Tayang di Lebaran 2025, Ada Pinjam 100 hingga Pabrik Gula

Baginya, Ramadan bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga momentum untuk introspeksi dan perbaikan moral individu. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melihat Ramadan sebagai waktu untuk membangun kesadaran sosial dan menumbuhkan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Gus Dur menganggap Ramadan sebagai momen persaudaraan semua umat diajak untuk berbagi dan menegakkan keadilan sosial.

Franz Magnis Suseno menyoroti bahwa puasa bukan hanya bentuk ibadah individual, tetapi juga mengandung makna etis yang dalam. Dalam pemikirannya, puasa mencerminkan perjuangan melawan keserakahan dan dorongan untuk hidup lebih sederhana, selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Baca Juga: Air Terjun Curug Goong, alternatif Tempat Wisata di Pandeglang yang Wajib Dikunjung di Momen Libur Lebaran 2025

Senada dengan Fahrudin Faiz yang menegaskan bahwa puasa memiliki dimensi spiritual mendalam. Menurutnya, Ramadan adalah waktunya manusia diajak untuk lebih memahami esensi dirinya dan menata ulang kehidupannya, baik dalam aspek spiritual maupun sosial.

Dalam konteks sosial, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) melihat Ramadan sebagai momen solidaritas dengan mereka yang kurang mampu.

Dalam kajiannya, Ramadan seharusnya tidak hanya menjadi ibadah personal, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun kesadaran kolektif dan menumbuhkan empati sosial. Sementara Nurcholish Madjid (Cak Nur) menafsirkan Ramadan sebagai ajang pembaruan diri.

Baca Juga: Cegah Penyakit Komplikasi Usai Lebaran, Simak Tips Jaga Pola Makan Hindari Gula dan Kolesterol

Ia berargumen bahwa puasa adalah sarana penyucian jiwa dan kesempatan untuk memperbaiki karakter manusia agar lebih inklusif, terbuka, dan memiliki kesadaran transendental yang lebih tinggi.

Karena itu, puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, namun tentang melatih kemampuan manusia dalam berpikir kritis terhadap struktur sosial yang ada, terutama dalam melihat fenomena ketidakadilan.

Puasa merupakan bentuk kesadaran ekologis karena manusia diajak untuk lebih menghargai sumber daya alam, mengurangi konsumsi berlebihan, serta membangun hubungan yang lebih harmonis dengan lingkungan.

Baca Juga: Gelapkan Truk Perusahaan, Pria Asal Pontang Gagal Lebaran Bareng Keluarga

Dengan menyelami makna puasa dari perspektif filsafat Islam, modern, dan sosial, kita memahami bahwa Ramadan bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga latihan kesadaran diri, pengendalian nafsu, serta momentum untuk menciptakan perubahan sosial.

Dari Al-Kindi hingga Karl Marx, dari Ibnu Sina hingga Tan Malaka dan Neneng Rosdiyana, serta dari Hamka hingga Saras Dewi, puasa selalu dimaknai sebagai bentuk refleksi dan perjuangan menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Jadi, hikmah puasa dalam konteks kekinian adalah menjadikan pribadi berkarakter kesalihan sosial.
Muslim terbaik bukanlah orang yang paling tahu, tetapi orang yang mengamalkan apa yang mereka ketahui dengan cara konsisten memberi manfaat bagi orang lain.

Baca Juga: 233 Napi Lapas Kelas III Rangkasbitung Dapat Remisi Khusus Idulfitri, 4 Langsung Bebas

Biarkan keimanan terlihat dalam kebaikan, kejujuran, dan belas kasih, bukan ritual ibadah dogma agamis saja.

Allah lebih terkesan dengan orang mukmin yang baik, penyayang, dan suka menolong meskipun mereka kurang ilmunya, sekali lagi bukan dengan simbol-simbol spiritualitas.

Jika doamu tidak membuatmu lebih sabar, jika puasamu tidak membuatmu lebih penyayang, dan jika ilmumu tidak membuatmu lebih rendah hati, jadi apa yang sebenarnya kau peroleh?***

Editor: Administrator
Tags: FilosofiFilsufpuasaRamadan
Previous Post

Terkena Penyakit Kolesterol? Ini Makanan yang Perlu Dihindari

Next Post

SIMAK! Ini Beberapa Pertolongan Pertama Apabila Terindikasi Demam Berdarah

Related Posts

Android
Opini

Perkembangan Versi Android dan Keamanan Smartphone

20 Februari 2026 | 14:08
komputer
Opini

Pentingnya Belajar Komputer Sejak Dini untuk Menyiapkan Generasi Unggul di Era Digital

18 Februari 2026 | 13:29
wemos
Opini

Mikrokontroler Wemos dan Sensor Suhu DHT22 Sebagai Alat untuk Mengontrol dan Memonitoring Suhu Ruangan Berbasis Internet of Things

10 Februari 2026 | 06:30
sistem tertanam
Opini

Software dan Hardware pada Sistem Tertanam

10 Februari 2026 | 06:00
konservasi pohon langka
Opini

FPLI Gandeng Lintas Generasi untuk Ikut Aksi Nyata Konservasi Pohon Langka di Gunung Tilu Kuningan Jawa Barat

2 Februari 2026 | 17:32
penyiaran
Opini

Menagih Kembali Revisi UU Penyiaran

27 Januari 2026 | 12:10
Load More

Popular

  • Pemprov Banten kembali membuka pendaftaran mudik gratis

    Banyak yang Mengundurkan Diri, Pemprov Banten Buka Ulang Pendaftaran Mudik Gratis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengisian 6 Pejabat Eselon II Pemkot Cilegon Setelah Mutasi Eselon III dan IV

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Terapkan WFA Mudik dan Balik Lebaran 2026, Pegawai Pemkot Cilegon Bisa Mudik 16 Hari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tegakkan SE Bupati, Satpol PP Kabupaten Serang Sisir Rumah Makan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nilai Gaji Guru PPPK Paruh Waktu Pemkab Serang Belum Ada Hasil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Arti Kalimat ‘Nyawit Nih Orang’ yang Banyak Digunakan di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkot Cilegon Siapkan 50 Bus Mudik Gratis, Pendataran Segera Dibuka Via Online

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tingkatkan Pelayanan, RJI Banten Resmikan Kantor Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dindikbud Kota Serang Segera Bentuk Satgas Perlindungan Guru Kota Serang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tukang Ojek Pangkalan Pandeglang Gugat Pemprov Banten Minta Ganti Rugi Rp 100 Miliar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Petugas Dapur SPPG Yayasan Sukaratu 6, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, memperlihatkan selembar surat cinta dari siswa yang terselip dalam ompreng MBG, Rabu 11 Februari 2026. (Dokumentasi Bantenraya.com)

Selipkan Pesan di Ompreng MBG, Peserta Didik di Pandeglang Request Menu: Minta Nasi Goreng hingga Ayam

12 Februari 2026 | 05:00
SMAN 1 Cimarga

Pengakuan Siswi SMAN 1 Cimarga yang Ikut Mogok Sekolah, Bukan Dukung Siswa Merokok tapi……

18 Oktober 2025 | 12:16
Pemprov Banten kembali membuka pendaftaran mudik gratis

Banyak yang Mengundurkan Diri, Pemprov Banten Buka Ulang Pendaftaran Mudik Gratis

24 Februari 2026 | 14:42
Kabupaten serang PT PWI

Sempat Produksi Sepatu di Kabupaten Serang, PT PWI 1 Bakal Bangkit Buka Usaha Baru di Cikande

2 Februari 2026 | 17:11

Dukung Pemulihan Ekonomi Nasional, Bjb Backup Total Pembiayaan UMKM

Asooooy… Kepala Desa akan Diajak Studi Banding ke Korea dan China

Seluruh Ospek di Kampus Diputuskan Digelar Online, Termasuk di Banten

Mudik Resmi Dilarang, Efektif 24 April

Walikota Serang Budi Rustandi menunjukkan dokumen bukti pembayaran gaji ratusan guru PPPK paruh waktu kepada sejumlah wartawan di Setda, Pemkot Serang, Kamis 26 Februari 2026. (Harir Baldan/Bantenraya.com)

Budi Rustandi Tegaskan Pemkot Serang Tidak Zalim, Gaji Ratusan Guru PPPK Paruh Waktu Telah Dibayar

26 Februari 2026 | 21:32
PT ASDP telah merilis perkiraan puncak arus mudik pada musim mudik Lebaran 2026. (Uri/Bantenraya.com)

Ada WFA, Puncak Arus Mudik di Pelabuhan Merak Diprediksi Terjadi 2 Hari di Tanggal Ini

26 Februari 2026 | 21:00
Petani di Desa Pegadingan, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang sedang memanen sayuran jenis kangkung di lahan miliknya, Kamis 26 Februari 2026. (Andika/Bantenraya.com)

Yuk Mampir ke Desa Pegadingan Kabupaten Serang, Tempatnya Penghasil Sayuran Berkualitas

26 Februari 2026 | 20:30
Ilustrasi Kartu kepesertaan BPJS Kesehatan. (Dokumentasi Dinkes Provinsi Banten)

BPJS Kesehatan PBI Non Aktif Bakal Dicek Ulang

26 Februari 2026 | 20:15

Tag

2022 Andra Soni ASN banjir Banten BRI Brigadir J BRI Super League Cilegon drakor drama Korea Film Harga Tiket Helldy Agustian Indonesia Jadwal jadwal tayang Kabupaten Lebak kabupaten serang Kota Cilegon Kota Serang Lebak link nonton link twibbon lowongan kerja Pandeglang Pemkot Cilegon pemkot serang Pemprov Banten pilkada Preman Pensiun 6 Preman Pensiun 7 profil provinsi banten Ramadhan Robinsar serang sinopsis spoiler spoiler sub indo Timnas Indonesia Twibbon UMKM viral
Banten Raya

© 2026 Banten Raya - Berkualitas dan Berbeda

Nomor ID Pers : 26666 | Status Pendataan : Terverifikasi Faktual | Sertifikat : 1393/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Digital Banten Raya
  • Ecommerce Banten Raya
  • Siding Banten Raya
  • Share Banten Raya

Ikuti Kami

  • Daerah
  • Nasional
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal

© 2026 Banten Raya - Berkualitas dan Berbeda