BANTENRAYA.COM – Warga terdampak banjir di Ciwandan mengungkapkan biang keladi banjir besar yang terjadi di Ciwandan.
Di mana, salah satunya yakni adanya aliran sungai menuju ke laut yang hilang.
Dimana ada 10 sungai di hilir yang langsung menuju ke laut sekarang hanya tinggal 1 saja.
BACA JUGA: Persebaya Surabaya Vs Malut United, Bajul Ijo Pernah Dibungkam Laskar Kie Raha di Kandang
Hal itu karena adanya alih fungsi lahan menjadi pabrik dan industri yang mengakibatkan hilangnya sungai menuju laut.
Agus salah satu warga Pintu Air Kecamatan Ciwandan menjelaskan, dirinya murni menjadi korban invetasi di Kota Cilegon. Dimana kampungnya terendam hingga setinggi leher orang dewasa.
“Penyebab utamanya itu sungai yang di Ciwandan dan Citangkil sekitar ada 10 sungai sekarang dijadikan satu saja di KBS dan Posko. Itu menjadi penyebab banjir. Sebab, sungai yang langsung ke laut hilang,” jelasnya.
Agus menyatakan, sebelumnya ada kesepakatan antara Posko dan KBS bersmaa warga jika aliran di lingkungan itu dilakukan pengerukan atau normalisasi rutin 6 bukan sekali. Faktanya, pengerukan baru dilakukan setelah banjir.
“Dulu ada hearing dan ada kesepakatan aliran kali akan dilakukan pengerukan rutin. Tapi faktanya itu hanya sekali saja itu juga setelah banjir kemarin. Ini artinya tidak ada niat baik dari industri untuk melakukan mitigasi dan pencegahan,” jelasnya.
Ibrohim Aswadi perwakilan Aliansi Masyarakat Cilegon Darurat Banjir (AMCDB) menjelaskan, jika banjir terjadi merupakan masalah yang kompleka dari hulu sampai hilir.
“Di hulu ada penambangan dan hilir ada yang mencegah ari mengalir yakni adanya pagar milik Kralatau Steel,” katanya.
Ibrohim menyampaikan, di hilir ada juga banyak gorong-gorong di Jalan Raya Anyer – Cilegon itu menyempit.
“Dulu itu luasnya 12 meter, sekarang menyempit itu ada di Jalan Nasional,” ujarnya.
Hal sama disampaikan Mulyadi Sanusi jika tambang menjadi faktor utama. Lalu jika diperlukan itu dikakukan langsung sidak dipertambangan.
“Itu pertambangan harus dicek langsung. Kita sidak bersama agar bisa dilihat dan dipastikan,” ujarnya.
Mulyadi menegaskan, agar pemerintah jangan hanya omon-omon saja menangani banjir.
“Jangan hanya omon-omon saja menyelesaikannya. Tapi harus jelas dan tegas sebagai pengambil kebijakan,” pungkasnya. ***

















