BANTENRAYA.COM – Provinsi Banten merupakan salah satu fokus prioritas percepatan penurunan stunting.
Meskipun telah terjadi penurunan prevalensi stunting, tetapi dengan jumlah absolut penduduk yang besar membuat penanganan stunting di Banten menjadi salah satu prioritas.
Berdasarkan data SSGI, pada tahun 2021 prevalensi stunting di Banten sebesar 24,5 persen dan pada 2022 prevalensi stunting turun menjadi 20 persen, turun sebesar 4,5 persen dibandingkan 2021.
Penurunan prevalensi stunting di Provinsi Banten dari 24,5 persen pada 2021 menjadi 20 persen pada 2022 merupakan langkah positif dalam upaya penanganan masalah gizi buruk di wilayah tersebut.
Kendati demikian, masih ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan terkait dengan data ini, Penurunan sebesar 4,5 persen dalam satu tahun merupakan pencapaian yang cukup signifikan.
Namun, untuk mencapai target penurunan stunting yang lebih ambisius, dinilai perlu dilakukan evaluasi terhadap efektivitas program-program yang telah diterapkan.
Baca Juga: 10 Link Twibbon Hari Krida Pertanian 2024 Desain Menarik, Cocok Jadikan Profil di Medsos
Meskipun prevalensi stunting turun, jumlah absolut penduduk yang terkena stunting di Banten tetap besar.
Menyikapi hal tersebut Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Serang (Hamas) Abdul Jabar memandang perlu adanya program-program khusus untuk mencegah dan menurunkan angka stunting di Kota Serang.
“Hal itu mengindikasikan perlunya program-program pencegahan dan intervensi yang berkelanjutan untuk menjangkau lebih banyak individu yang terpengaruh,” kata Abdul Jabar.
Baca Juga: MUI Lebak Tak Terima Korban Judol Jadi Penerima Bansos: Bagaimana Jika……
“Penting untuk memastikan bahwa pendekatan dalam penanganan stunting tidak hanya berfokus pada aspek medis dan gizi,” ujarnya.
“Tetapi juga mencakup faktor-faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dapat mempengaruhi gizi dan kesehatan anak secara keseluruhan,” lanjutnya.
Data SSGI memberikan gambaran awal yang baik, namun perlu dilakukan pemantauan dan evaluasi berkelanjutan terhadap prevalensi stunting serta dampak dari program-program pencegahan yang telah dilaksanakan.
Baca Juga: Hasil Pileg di 46 TPS di Kabupaten Serang Bakal Diperiksa Ulang
Ia menegaskan, perlu adanya kolaborasi dari Pemerintah dan pihak swasta demi meningkatkan efektivitas pencegahan stunting di Kota Serang.
“Kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga non-pemerintah, dan sektor swasta merupakan kunci untuk meningkatkan efektivitas program pencegahan stunting di Banten,” katanya.
“Serta untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan dari upaya-upaya ini,” imbuhnya.
Bukan hanya itu, dirinya juga menyayangkan apabila pemerintah terlalalu fokus pada spek biomedis tanpa mempertimbangkan ahli gizi bekerja untuk melakukan pencegahan stunting.
Baca Juga: BPBD Kabupaten Lebak Naik Kelas, Lowongan Jadi Pejabat Eselon II Baru Terbuka
“Namun sangat di sayangkan kota serang sebagai ibu kota Provinsi Banten terlalu terfokus pada aspek biomedis seperti pemberian makanan tambahan atau suplemen gizi,” ungkap Abdul Jabar.
“Namun tanpa mempertimbangkan bagaimana ahli gizi harus bekerja dan yang harus di tekankan Pemkot Serang terhadap Pemprov Banten untuk bisa mengurangi angka stunting di kota Serang,” tambahnya.***
















