BANTEN RAYA.COM – Sebanyak 1.321 warga Kecamatan Kramatwatu mengalami sakit gigi yang disebabkan kurangnya menjaga kebersihan gigi dan mengonsumsi makanan manis. Penyakit gigi sendiri menjadi salah satu penyakit terbanyak yang ditemukan di Kecamatan Kramatwatu.
Kepala Puskesmas Kramatwatu Fenny Sunarsih mengatakan, masalah kesehatan gigi menjadi salah satu penyakit yang paling banyak ditangani oleh petugas kesehatan.
“Sakit gigi ini masuk 10 besar penyakit di kita setelah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut dan hipertensi. Dalam satu tahun terakhir ini lebih dari seribu pasien yang melakukan pemeriksaan kesehatan gigi,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (5/5).
Terdapat berbagai macam masalah sakit gigi yang diderita pasien seperti sakit gingivitis atau peradangan pada gusi, erosi gigi, periodontis atau infeksi gusi parah. “Berdasarkan data tahun 2024 untuk kasus gigi gingivitis saja 539 orang, erosi gigi 286 orang, periodontis 249 orang, dan yang melakukan perawatan 247 orang. Di tahun 2025 ini setiap hari belasan pasien mengalami masalah gigi,” katanya
Baca Juga: Pemkot Serang Bakal Bongkar Bangunan Penyebab Banjir di Sumber Maja
Fenny mengakui banyak masyarakat yang memiliki masalah kesehatan gigi namun belum tertangani dengan baik lantaran kekurangan tenaga kerja. “Jadi banyak juga yang komplain ke kita masalah pendaftaran untuk di poli gigi. Untuk pendaftaran online kita batasi tiga orang karena banyak pasien yang datang langsung ke Puskesmas, kita tidak pernah menolak pasien yang datang dan kita layani sesuai kemampuan kita,” jelasnya.
Adapun penyebab banyaknya masyarakat yang mengalami masalah kesehatan gigi tersebut lantaran sering mengonsumsi makanan yang manis-manis dan kurangnya menjaga kebersihan gigi dan mulut. “Jika gigi tidak terwat sejak balita biasanya ngefeknya sampai usia dewasa. Jadi perawat gigi itu harus dimulai sejak dini karena di usia itulah gigi mulai tumbuh,” paparnya.
Untuk meminimalisir masyarakat mengalami masalah gigi, pihaknya rutin melakukan penyuluhan ke Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). “Tadinya fokus kita penyuluhan ke SD, tapi kita fikir itu sudah agak terlambat sehingga kita melakukan penyuluhan mulai dari tingkat TK. Jadi sebelum tumbuh gigi yang baru kita memberikan edukasi kebersihan gigi,” ungkapnya. (***)


















