BANTENRAYA.COM – Petani di Kota Cilegon mulai khawatir dengan makin tergerusnya lahan pertanian, terutama sawah.
Lahan mulai pertanian semakin menyempit karena pembangunan industri dan pemukiman.
Pengurus Gabungan Kelompok Tani atau Gapoktan Jaya Mekar Lingkungan Jangkar Wetan, Kelurahan Tegal Ratu, Kecamatan Ciwandan Sanubi menjelaskan, saat ini ada 12 anggota yang aktif mengelola sekitar 7 hektar sawah.
Angka tersebut secara keanggotaan dan luas lahan sudah berkurang drastis.
“Awal anggota itu 25 orang, sekarang hanya 12 orang sudah berkurang. Lahan juga sekarang hanya sekitar 7 hektar saja yang dikelola. Sebelumnya itu lebih dari 7 hektar. Tapi sekarang sudah banyak berdiri pabrik dan pemukiman,” katanya saat menghadiri peluncuran Swasembada pangan di Aula Setda II Cilegon, Rabu, 7 Januari 2026.
BACA JUGA: Naik 17.504 Ton, Produksi Padi 2025 di Kabupaten Serang Tembus 500 Ribu Ton
Sanubi menyatakan, untuk memenuhi kebutuhan sandang dan papan, dirinya bekerja sebagai keamanan di salah satu pabrik, sebab, pertanian hanya cukup buat pangan atau konsumsi sendiri.
“Cukup buat makan saja. Kalau hitungan ekonomi tidak akan masuk memenuhi kebutuhan lain. Tapi karena sudah jiwanya petani jadi tetap bercocok tanam. Meski misalnya gagal panen tidak akan kapok,” ucapnya.
Sanubi menyatakan, untuk di wilayah Ciwandan sendiri bercocok tanam 2 kali dalam 1 tahun.
BACA JUGA: Produksi Padi Banten Naik 250 Ribu Ton Berkat Program Jaringan Irigasi
Akan tetapi didaerah lain, bisa 3 kali dalam satu tahun kalau ada irigasi atau sungai.
“Kami hanya 2 kali setahun bercocok tanam. Ini kami harap juga bisa ada irigasi yang dibuatkan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Cilegon Ridwan menjelaskan, Kota Cilegon saat ini memiliki lahan baku sawah seluas kurang lebih 1.151 hektare.
Lahan itu terus dipertahankan melalui kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan atau LP2B.
Selain itu, Cilegon juga mendapat target LTT bulanan dari Kementerian Pertanian sebagai bagian dari program nasional swasembada pangan.
“Dari sisi produksi padi di Kota Cilegon mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2024, produksi padi tercatat sekitar 10.500 ton dan meningkat menjadi sekitar 13.500 ton pada tahun 2025. Sebagian hasil produksi dimanfaatkan untuk kebutuhan petani, sementara sisanya diserap oleh Bulog dan didukung pasokan dari daerah lain,” ucapnya.
BACA JUGA: Distan Banten Ajukan 70 KM Jalan Usaha Tani, Pembangunan Difokuskan pada Sentra Padi
Terkait kendala lahan, jelas Ridwan, pertanian yang sebagian besar masih bersifat tadah hujan, Pemkot Cilegon telah melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk perbaikan dan peningkatan sistem irigasi yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian ke depan.
“Kami koordinasikan dan semoga ada perluasan,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo mengungkapkan, Pemkot Cilegon terus berupaya memperkuat sektor pertanian daerah. Kendati, berstatus sebagai kota industri ada upaya melalui optimalisasi Luas Tambah Tanam (LTT). Untuk periode berjalan, LTT di Kota Cilegon tercatat mencapai sekitar 500 hektare.
“Kita patut bersyukur sebagai kota industri masih memiliki lahan pertanian yang harus dijaga dan dirawat keberlanjutannya. Program LTT menjadi langkah strategis untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian di Cilegon,” ungkapnya.***















