BANTENRAYA.COM – Pemerintah Kota atau Pemkot Cilegon melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan atau Bappedalitbang Kota Cilegon menyikapi naiknya Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT 2025 Kota Cilegon.
Rapat dilakukan di Kantor Bappedalitbang Kota Cilegon pada Selasa, 11 November 2025.
Pada rapat itu, Bappedalitbang juga mengundang Bidang Penempatan Kerja pada Dinas Tenaga Kerja atau Disnaker Kota Cilegon dan Badan Pusat Statistik atau BPS Kota Cilegon.
Diketahui, TPT Kota Cilegon 2025 sebesar 7,41 persen atau naik dari 2024 yang hanya 6,08 persen.
Bahkan, untuk jumlah pengangguran 2025 di Kota Cilegon sekitar 15,48 ribu orang.
Jumlah itu terbesar dalam tiga tahun terakhir, pada 2024 sekitar 12,42 ribu orang dan pada 2023 sekitar 15,01 ribu orang.
Dari jumlah pengangguran Kota Cilegon 2025 ini, didominasi lulusan SMK sekitar 7,65 ribu orang, kemudian Perguruan Tinggi (Diploma I/II/III dan Universitas) sekitar 2,97 ribu orang, lulusan SMP sekitar 2,04 ribu orang, lulusan SMA sekitar 1,72 ribu orang dan lulusan SD ke bawah sekitar 1,10 ribu orang.
Kepala BPS Kota Cilegon Dadan Sudarmadi mengatakan, angka pengangguran Kota Cilegon 15,48 ribu orang, atau TPT 7,41 persen.
“Kenaikan ini disebabkan oleh jumlah angkatan kerja yang tidak diimbangi penyerapan tenaga kerja. Selain itu ada PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) sektor-sektor industri,” kata Dadan kepada awak media.
Dikatakan Dadan, pihaknya diundang Bappedalitbang Kota Cilegon untuk membahas mengenai angka pengangguran.
“Kita tidak bisa tergantung pada industri saja, tetapi bisa mengembangkan UMKM-UMKM untuk menciptakan lapangan kerja baru atau membuka usaha baru,” terangnya.
BACA JUGA: Miliki Segudang Program Ketenagakerjaan, Pengangguran Kota Cilegon Melonjak Jadi 7,41 Persen
Di tempat yang sama, Sekretaris Bappedalitbang Kota Cilegon Mariano Correia mengatakan, pihaknya melakukan rapat dengan beberapa instansi untuk menyikapi meningkatnya pengangguran di Kota Cilegon.
“Bappedalitbang harus bisa mencari jalan untuk mengintervensi agar angka (pengangguran) bisa menurun,” jelasnya.
Mariano menjelaskan, dengan angka pengangguran yang naik terbanyak dari lulusan SMK.
“Program yang kita adakan (pelatihan) itu sasarannya lulusan SMK,” ucapnya.
Ia juga berharap ke depan BPS bukan hanya mengeluarkan data makro, tetapi juga data mikro agar penanganan pengangguran yang dilakukan Pemkot Cilegon lebih tepat sasaran.
“Jadi Disnaker nanti pelatihannya harus tepat. Misal pelatihan pangkas rambut, itu untuk anak lulusan SMK yang benar-benar mau usaha pangkas rambut yang dipanggil pelatihan, agar tepat sasarannya. Jangan orangnya tidak mau buka usaha potong rambut, tapi ikut pelatihan itu,” katanya.***

















