BANTENRAYA.COM – Ada ironi pada aksara pegon yang merupakan aksara khas Nusantara, khususnya Jawa dialek Banten.
Di sejumlah daerah di Indonesia aksara pegon digunakan di ruang publik.
Bahkan di Malaysia dan Brunei Darussalam, aksara pegon atau dikenal dengan dengan sebutan aksara Jawi oleh warga Malaysia, banyak digunakan untuk penamaan gedung dan kantor pemerintahan.
Baca Juga: Mengenal Pegon, Aksara Banten Peninggalan Syekh Nawawi
“Di Banten sendiri belum ada nama jalan, gedung pemerintahan, maupun fasilitas umum yang menggunakan aksara Pegon,” kata Iwan Sudiana, penulis buku “Pedoman Penulisan Aksara Pegon” kepada Bantenraya.com, Kamis, 9 September 2021.
Maka, aksara Pegon yang dikembangkan oleh Syeikh Nawawi, ulama besar kelahiran Tanara, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, ini seperti menjadi tamu di rumah sendiri.
Iwan mengaku sering diundang oleh beberapa daerah di Indonesia untuk mengajarkan aksara Pegon. Sejumlah daerah yang memintanya untuk mengajari aksara Pegon di antaranya adalah Bandung, Pulau Bangka, Pulau Belitung, Batam, Jambi, dan lain-lain.
Baca Juga: Malaysia dan Brunei Darussalam Gunakan Aksara Pegon di Fasilitas Umum
Tidak hanya mempelajari bahkan sejumlah daerah di Indonesia menerapkan aksara Pegon di fasilitas publik yang mereka miliki.
Salah satunya adalah Jambi yang menamai jembatan dengan Gentala Arasy dan menggunakan huruf pegon dengan ukuran yang sangat besar.
Di saat negara lain dan beberapa daerah di luar Banten antusias mengapresiasi aksara Pegon, Pemerintah Provinsi Banten sampai saat ini belum mengeluarkan kebijakan mengenai penggunaan aksara Pegon di ruang publik.
Baca Juga: Lebak Selatan Bakal Punya Tol, Menghubungkan Pelabuhan Ratu hingga Bayah
Bukan tidak ada usaha. Beberapa kalangan meminta Iwan untuk merancang nama jalan raya dan aksesoris Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) menggunakan aksara Pegon.
Iwan misalnya diminta oleh Kepala Bagian Kesra Setda Kota Serang yang saat itu dijabat oleh Imam Rana untuk menuliskan nama-nama jalan yang ada di Kota Serang menggunakan aksara Pegon.
Rencananya, ide itu akan disampaikan kepada Walikota Serang agar nama-nama jalan yang ada di Kota Serang dilengkapi dengan aksara Pegon.
Baca Juga: Mengenal Sosok Yuliani, Petani Cantik Produsen Beras Sultan hingga Diekspor Sampai Korea
Namun sampai saat ini rencana itu menguap begitu saja. Imam Rana dipindahkan dari posisinya sebagai Kabag Kesra. Dan rencana melengkapi nama-nama jalan di Kota Serang pergi entah ke mana.
Iwan juga sempat diminta oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten yang saat itu dijabat oleh Bazari Syam untuk menuliskan aksesoris dalam pelaksanaan MTQ tingkat Provinsi Banten menggunakan aksara Pegon.
Rencananya, ide itu akan ditawarkan kepada Gubernur Banten namun sampai Bazari Syam lengser dari jabatannya rencana itu menjadi tidak jelas.
Baca Juga: Segera Daftar! Program Kartu Prakerja Gelombang 20 Sudah Dibuka, Ini Syarat dan Linknya
Iwan mengaku secara pribadi belum pernah menemui Walikota Serang untuk mengungkapkan aspirasinya terkait penggunaan aksara Pegon di ruang publik. Dia mengatakan pasti tidak mudah untuk bertemu orang nomor satu di Kota Serang itu.
Di sekolah-sekolah Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) di Provinsi Banten baru Kota Serang dan Kabupaten Lebak yang menerapkan pelajaran aksara Pegon kepada para siswa.
Di luar itu, bahkan termasuk Kabupaten Serang yang merupakan daerah kelahiran Syeikh Nawawi, MDTA yang ada tidak ada yang menerapkan pelajaran aksara Pegon.
Baca Juga: Kerja Sama Program Beasiswa, Warga Cilegon Gratis Kuliah di Untirta
“Pegon ini di luar daerah Banten berkembang tapi di Banten sendiri sulit bukan main,” kata Iwan.
Iwan mengaku memiliki ide untuk menghidupkan kembali aksara Pegon setelah selama beberapa puluh tahun sejak tahun 1980-an aksara ini mulai tersingkir oleh aksara latin dan kemudian tidak digunakan sama sekali.
Padahal dahulu aksara Pegon menjadi alat komunikasi bahkan transfer ilmu pengetahuan, khususnya bagi para santri di pondok pesantren.
Baca Juga: Lima Pengedar dan Pemakai Narkoba Dibekuk, Modusnya Beli Narkoba Lewat Medsos
Bahkan para orang tua yang ada di Serang dan Cilegon yang buta huruf latin biasanya sangat mahir membaca dan menulis dengan menggunakan aksara Pegon.
Di Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon, misalnya, masih ada yang menggunakan huruf pegon untuk mengundang tokoh masyarakat atau ulama di daerah tersebut ketika ada kematian.
Maka pada tahun 2016 lalu Iwan mulai membuat buku “Pedoman Penulisan Aksara Pegon” sebagai standarisasi penulisan aksara pegon.
Setelah itu ia kemudian membuat tiga jilid buku “Latihan Penulisan Aksara Pegon” yang dipergunakan bagi siswa kelas 2, 3, dan 4 MDTA di Kota Serang.
Baca Juga: Presiden Minta Kredit UMKM Ditingkatkan hingga 30 Persen
Bahkan saat ini Iwan sudah menciptakan aplikasi aksara Pegon di komputer untuk memudahkan siapa pun menulis aksara Pegon dengan mengetikkan huruf-huruf latin.
Iwan mengaku ingin mengembangkan aplikasi yang ia buat sendiri itu dalam bentuk aplikasi yang bisa diunduh di Play Store maupun App Store. Sehingga akan semakin banyak masyarakat yang terbantu dalam mempelajari aksara Pegon. Namun dia mengaku tidak tahu bagaimana caranya. ***
















