BANTENRAYA.COM – Seorang pengusaha rumah makan Padang di Kota Serang terpaksa beralih menggunakan daging ayam sebagai bahan baku utama untuk menu hariannya.
Peralihan menggunakan daging ayam imbas dari aksi mogok para pedagang daging di Pasar Induk Rau (PIR) Kota Serang selama dua hari, Senin 26 Januari hingga Selasa 27 Januari 2026.
Para daging sepakat memutuskan mogok jualan lantaran harga beli daging sapi melonjak.
BACA JUGA: Harga Daging Sapi Naik Nasional, Disperindag Banten Minta Pedagang Tetap Berjualan
Salah seorang pemilik rumah makan Padang Budi Minang, Zulfadli mengatakan, pihaknya kesulitan mendapatkan pasokan daging sapi segar saat belanja di Pasar Induk Rau, lantaran seluruh pedagang sapi di pasar tradisional Kota Serang itu kompak mogok jualan.
“Jujur saya belum tahu kabar sebelumnya. Pas tadi subuh saya ke pasar tiba-tiba pedagang daging nggak ada yang buka, saya kaget dan dapat kabar dari pedagang yang lain tetangga-tetangganya kayak pedagang ikan, ayam, mereka yang kasih tahu kalau sedang ada mogok pedagang daging,” ujar Zulfadli ditemui di rumah Makan Padang Budi Minang di Jalan Khozin, Kelurahan Sumur Pecung, Kecamatan Serang, Kota Serang, Senin 26 Januari 2026.
Untuk mensiasatinya, kata dia, pihaknya memaksimalkan daging ayam untuk diolah menjadi rendang ayam, ayam goreng, dan ayam bakar untuk menghindari kekosongan menu.
“Jujur aja setelah nggak ada rendang ini saya mensiasati, karena saya butuh bumbu rendang ya saya siasati dengan ayam. Biasanya saya nggak pernah bikin rendang ayam. Biar supaya tetap ada bumbu rendang walaupun bukan daging padahal yang paling utama ya daging,” ucap dia.
Mogoknya para pedagang daging sapi di PIR, Zulfadli terpaksa tidak menyediakan menu daging rendang sebagai menu andalan di rumah makannya.
“Jujur aja daging rendang itu sangat favorit di warung saya. Karena yang namanya nasi Padang istilahnya menu utamanya rendang. Kalau seandainya nggak ada rendang ngerasa nggak lengkap aja rasanya. Jangan kan itu kadang-kadang orang makan ikan aja pasti minta bumbu rendang atau pakai daging juga, ikan juga pakai, jadi sangat-sangat berpengaruh bagi saya. Pokoknya bikin nggak enak jadinya usahanya. Kurang afdol. Makan nasi Padang nggak ada rendang. Takutnya nanti lama-lama begini jadi warteg warung saya bukan nasi Padang,” tutur dia.
Zulfadli membeberkan, kebutuhan daging sapi untuk menu daging rendang di rumah makannya mencapai dua kilogram per hari.
Jika sedang ramai pembeli, olahan daging rendang yang dijual di rumah makannya bisa lude dalam sehari.
“Saya sehari menggunakan daging kurang lebih dari dua kilo. Dua kilo sehari khusus untuk daging 2 kilo sehari kebutuhan. Kadang bisa lebih. Karena rendang itu menu utama, kalau jadi kadang-kadang kalau ada pesanan nasi box atau nasi bungkus rata-rata menunya yang mereka minta pasti ada rendangnya. Kadang-kadang sehari itu bisa kita bikin lima kilo,” bebernya.
Terakhir ia belanja membeli daging murni di Pasar Induk Rau masih dikisaran harga Rp 135 kilogram.
“Kemarin (Minggu) harga daging masih di angka Rp 135 per kilogram, nanti nggak tau berapa,” kata Zulfadli.
Zulfadli berharap mogoknya para pedagang daging tidak berimbas terhadap kenaikan harga daging di pasaran. Menurut dia, jika pasca mogok harga daging sapi melonjak, maka mau tidak mau pedagang rumah makan terpaksa harus menaikan harga jual kepada konsumen.
“Tanggapan saya sangat kecewa kalau naik. Apalagi semacam pedagang kecil kaya saya yang harga jualan murah. Bayangin aja saya jualan satu porsi cuma 13 ribu. Kalau daging dimahalkan mau berapa lagi saya jual. Sedangkan jualan 13 ribu aja terkadang orang masih ngeluh masalah ukuran karena saya sesuai potongan sesuai ukuran. Kalau terlalu mahal harganya saya juga nggak sanggup bikin daging lagi. Sangat berpengaruh bagi warung saya karena itu menu utama,” jelas dia.
Ia mengatakan, pihaknya harus belanja membeli daging ayam sebanyak 15 kilogram untuk mengganti daging sapi yang sulit didapatkan.
“Sehari yang namanya usahanya untuk hari ini saya beli 15 kg. Sebelumnya ketiga ada daging paling saya belinya cuma 10 kg. Sekarang karena daging tidak ada saya lebihin ke ayam. Lebihin porsi lah begitu,” katanya.
Sedari pagi, kata dia, banyak pelanggannya yang memesan menu daging rendang sebagai lauk untuk disantap dengan nasi, namun lantaran tidak memasak daging rendang para pembeli pun akhirnya beralih ke menu yang disajikan di rumah makannya.
“Sangat banyak karena jujur aja itu menu utama di warung saya. Saya pemakaian itu 2 kg sehari. Saya sekilonya potong 28. Kalau seandainya 28 kali 2 lumayan yah. 56 pelanggan saya setiap hari makan daging dan itu pasti banyak yang kecewa nggak ada daging rendang,” ucap dia.
Zulfadli berharap harga daging sapi di pasaran kembali stabil, sehingga para pedagang rumah makan Padang termasuk dirinya bisa kembali menyajikan menu daging rendang.
“Jujur aja harapan saya semuanya kembali stabil. Pedagang bisa jualan lagi, dan kita sebagai pengguna daging setiap hari sebagai pedagang bisa belanja lagi dan dengan harga yang normal seperti biasa,” harap Zulfadli.
Salah seorang pembeli masakan Padang, Hartanto mengaku terpaksa memilih menu lauk ikan, lantaran rumah makan Padang yang disambanginya tidak menyajikan menu favoritnya daging rendang.
“Tadinya saya mau makan pakai daging rendang, tapi karena rendangnya kosong, jadinya saya pilih makan sama ikan,” ujar Hartanto, ditemui di rumah makan Padang Budi Minang.
Keluhan serupa pun dirasakan oleh pedagang baso di Jalan Mayabon, Kelurahan Banjasari, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Heru Wahyudi. Ia berharap para pedagang daging sapi tidak lama melakukan mogok jualannya, karena khawatir bisa berdampak terhadap kelangsungan usaha dagang baksonya.
“Ya kalau bisa jangan lama-lama mogoknya. Karena tetap kita kena imbasnya juga kalau umpamanya kita nggak dagang,” ujar Heru, ditemui di warung baksonya di Jalan Mayabon, Kelurahan Banjasari, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Senin 26 Januari 2026.
Jika harga daging sapi tetap bakal naik, ia berharap harganya tidak terus-terusan naik, karena akan memberatkan bagi para pedagang kecil seperti tukang bakso.
“Iya kalau mau naik, naik aja yang penting harganya jangan terus naik. Yang penting ada batas maksimalnya berapa. Seandainya umpamanya Rp 140, Rp 140 sudah. Standby di situ. Jangan besok minggu depannya naik lagi, karena ya bakal berimbas sama kita juga. Contohnya aja kayak sekarang tadinya kita jual baso umpamanya harga Rp 15 ribu bisa-bisa kita naikin jadi Rp 17 ribu. Karena bakal beruntun. Konsumen-konsumen juga yang bakal kena,” ucap dia.
Heru menyebutkan, harga daging sapi terakhir yang ia beli di Pasar Induk Rau sudah melebihi harga standar dari biasanya yang ia beli.
“Kemarin pagi sudah Rp 140. Biasanya cuma 125-130 per kilo. Ya kalau untuk pedagang kecil kita ya tinggi. Udah ketinggian. Yang lebih baik ya balikin harga normal kayak 120-130 kisaran harganya. Jadi peternak juga bisa menikmati, kita juga bisa menikmati jadi sama-sama menguntungkan. Jangan salah satu dirugikan. Kita juga nggak pengen peternak itu dirugikan,” tuturnya.
Ia mengatakan, dalam sehari kebutuhan daging sapi untuk membuat daging bakso sebanyak 10 kilogram.
“Sekali bikin daging sapi 10 kg baik yang beku maupun yang segar. Daging beku biasanya kena Rp 80-90. Kisaran harga segitu. Sekarang daging beku Rp 90. Yang super kurang lebih Rp 100 an kalau umpamanya daging beku mah. Kalau daging baru kalau hari ini Rp 140 tadi,” ungkap Heru.
Heru juga tidak khawatir meski para pedagang daging mogok jualan selama dua hari berturut-turut, lantaran dirinya sudah memiliki stor daging bakso untuk dua hari ke depan.
“Alhamdulillah stoknya masih ada buat dua hari mah,” kata dia.
Meski harga daging sulit didapatkan karena para pedagang daging sapi sedang mogok hingga dua hari ke depan, namun Heru enggan beralih menggunakan daging ayam untuk membuat daging baksonya, karena akan mempengaruhi kualitas rasa baksonya.
“Bakso itu nggak enak kalau untuk daging ayam semua. Tetap harus pakai daging sapi,” kata dia.
Hanya saja, lanjut Heru, pihaknya akan menaikan harga jual seporsi baksonya bila harga daging sapi mengalami kenaikan dari biasanya.
“Iya mau nggak mau. Kalau umpamanya harganya tetap melambung ya otomatis kita pedagang-pedagang baso pun bakal ikut musyawarah. Apakah kita naikkan 1000 atau 2000. Pasti ada kan. Harga per porsinya. Harga per porsi masih tetap. Kalau baso kita campur ayam juga jadi paling 10.000-12.000 per porsi. Nanti mungkin bisa 13.000 atau 14.000 tergantung kesepakatan kawan-kawan. Kalau mau naik bareng. Naik 1000 naik 1000 semua,” tandasnya. (harir)

















