BANTENRAYA.COM – Bus menjadi moda transportasi umum yang mudah dijangkau warga Indonesia.
Selain tarifnya murah dibandingkan moda transportasi umum lainnya seperti, pesawat, kapal, maupun kereta api, bus tersedia di seluruh kota di Indonesia.
Perusahaan Otobus atau PO Mitra Titian Nusantara, merupakan salah satu perusahaan otobus yang melayani trayek dengan rute yang cukup jauh dengan jarak sekotar 1.850 kilometer.
Baca Juga: Nongkrong di Serona Coffee, Wagub Banten Pesan Menu Pakai Bahasa Isyarat
Salah satu trayek terjauh PO Mitra Titian Nusantara adalah dari Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Merak, Provinsi Banten.
PO Mitra Titian Nusantara yang berasal dari Sumbawa ini memiliki bus yang setiap hari melayani rute Bima-Merak secara reguler.
Secara umum, tidak banyak bus yang melayani trayek dari Pulau Jawa ke Pulau Sumbawa ataupun sebaliknya.
Baca Juga: Sering Emosi, Ini Cara Mengatasinya!
Bahkan, untuk trayek dari Bima ke Merak hanya satu PO yaitu Mitra Titian Nusantara.
Seorang Pengemudi Bus PO Mitra Titian Nusantara, Mastur mengatakan, PO Mitra Titian Nusantara telah aktif melayani trayek Bima-Merak sekitar lima tahun terakhir.
“Setiap hari ada satu unit bus secara reguler melayani dari Bima ke Merak atau dari Merak ke Bima,” kata Mastur ditemui di Terminal Seruni Cilegon, Jumat 24 September 2021.
Baca Juga: Pastikan Ekonomi Rakyat Tetap Bergerak, Menko Airlangga Tinjau UMKM Rumahan di Surakarta
Kata Mastur, perjalan dari Merak ke Bima atau sebaliknya memakan waktu tiga hari tiga malam.
Bahkan saat cuaca di laut kurang bersahabat, ataupun terjadi insiden dalam perjalanan, waktu tempuh bisa mencapai empat hari empat malam.
“Normalnya perjalanan dari Merak ke Bima tiga hari tig malam. Namanya di jalan, kadang ban kempes, atau kapal sulit sandar, bisa sampai empat hari empat malam,” katanya.
Baca Juga: Buka Musyda III Pemuda Muhammadiyah, Ini Harapan Walikota Serang Syafrudin
Dari Merak ke Bima, kata Mastur, bus melalui empat pulau. Mulai dari Pulau Jawa, Bali, Lombok dan terakhir Sumbawa. Penyeberangan menggunakan kapal dilalui sebanyak tiga kali.
“Kita naik kapal sampai tiga kali. Penyeberangan dari Jawa ke Bali, dari Pelabuhan Ketapang ke Gilimanuk. Penyeberangan dari Bali ke Lombok, dari Pelabuhan Padang Bai ke Lembar,” katanya.
“Penyeberangan dari Lombok ke Sumbawa, dari Pelabuhan Kayangan ke Pototano,” kata pria asal Sumbawa ini,” imbuhnya.
Baca Juga: Jadwal Lengkap PON XX Papua 2-15 Oktober 2021, Torang Bisa!
Tarif bus PO Mitra Titian Nusantara dari Merak ke Bima Rp 900 ribu.
Dari harga tiket tersebut, penumpang mendapatkan fasilitas bus kelas excecutive dengan kapasitas maksimal 34 tempat duduk.
“Seat (tempat duduk) hanya 34, jadi nyaman. Di dalamnya juga ada toilet,” katanya.
Baca Juga: Sebelum Berangkat Kerja, Baca Amalan dari Syekh Ali Jaber Ini
Selama perjalan dari Bima ke Jawa, kata Mastur, penumpang mendapatkan enam kali servis makan secara gratis.
“Rest area kita kalau dari arah barat, pertama di Cikedung Tol Cipali, kemudian di Rest Area KM 519 Ngawi,” tuturnya.
“Kemudian di Pool Mitra Titian Nusantara di Surabaya, kemudian di Rumah Makan di Situbondo, kemudian di Bali, dan terakhir di Sumbawa,” paparnya.
Baca Juga: Ditetapkan Jadi Tersangka oleh KPK, Harta Kekayaan Azis Syamsuddin Capai Seratusan Miliar
Kata Mastur, biaya sekali perjalanan dari Merak ke Bima atau sebaliknya sekitar Rp 13 juta. Uang jalan tersebut, untuk biaya solar, tol, kapal penyeberangan, serta premi untuk kru bus.
“Gajiannya kami hitungannya premi per sekali jalan. Namun kadang ada tambahan dari titipan paket, atau solarnya lebih.
“Makanya, kadang kita bawanya tidak terlalu ngebut, agar bahan bakarnya tidak boros, jadi bisa irit pengeluaran. Premi kru sendiri Rp 1,4 juta untuk tiga kru bus, dua sopir dan satu kernet,” ujarnya.
Baca Juga: T O P B G T, Untirta Nambah Guru Besar Terus
Ya tinggal dibagi saja, kernet Rp 300 ribu, sisany sopir dibagi dua berarti Rp 550 ribu,” imbuhnya.
Dari Merak, kata Mastur, bus berangkat sekitar pukul 10.00 WIB dan akan sampai tujuan akhir di Bima tiga hari setelahnya pada malam hari.
Bus kemudian menghampiri beberapa agen untuk mengambil penumpang seperti di Terminal Poris Tangerang, Terminal Pondok Pinang Jakarta, Terminal Kampung Rambutan Jakarta, Terminal Pulogebang Jakarta, Agen Bekasi Timur sampai Cikarang.
Baca Juga: Rumah Warga Tanara Hangus Terbakar, Pemilik Terpaksa Mengungsi
“Setelah itu bus lewat Tol Transjawa. Singgah juga di Pool Mitra Titian Nusantara di Surabaya, biasanya ada tambahan penumpang,” katanya.
“Penumpang dari Merak atau Jakarta juga tidak semuanya tujuan Bima, kadang ada yang Mataram, Sumbawa Barat juga tetap diangkut,” urainya.
Menurut Mastur, sejak pandemi covid-19 terjadi, penumpang bus tidak penuh. Bahkan, hanya sekitar 10 hingga 15 penumpang saja. Namun, penumpang akan tetap dilayani.
Baca Juga: So Sweet, Wagub Banten Andika Hazrumy Selalu Terbayang Wajah Sang Istri Saat Memejamkan Mata
“Berbeda dengan dulu sebelum adanya Covid-19, bus selalu full seat. Bahkan kadang sampai dua unit yang jalan per harinya,” ungkapnya.
Adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat juga membuat pengemudi bus lintas pulau seperti dirinya terdampak.
Sebab, dalam masa PPKM bus yang memasuki Pulau Bali seluruh penumpangnya harua menunjukan bukti vaksinasi Covid-19 dan rapid antigen. Padahal, penumpang tidak semuanya vaksin Covid-19.
Baca Juga: Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsudin Ditetapkan Tersangka oleh KPK, Ditahan 20 Hari
“Jadi, saat ini kita ubah rute. Ketika dari arah barat, kita naik kapal dari Banyuwangi langsung ke Mataram tanpa melalui Pulau Bali,” tuturnya
“Begitu sebaliknya, kalau dari arah timur kita dari Mataram naik kapal yang langsung ke Banyuwangi,” ujarnya.
“Biaya perjalanan membengkak, karena tarif kapal lebih mahal. Nanti, kalau memang sudah tidak ada lagi PPKM rutenya akan kembali ke rute semula melalui Denpasar, Bali,” paparnya. ***

















