BANTENRAYA.COM – Jalan poros Desa Sukarame, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, rusak parah.
Kerusakan jalan poros ini disebabkan curah hujan tinggi, dan lalu-lalang kendaraan bermotor yang tinggi.
Kondisi diperparah karena belum ada drainase di sempadan jalan, dan sudah hampir lima tahun tidak ada perbaikan jalan.
Imbas kerusakan jalan yang menghubungkan Desa Cimaung, Desa Cilayang dan Desa Mongpok, akses transportasi, ekonomi, dan pendidikan terhambat.
Berdasarkan pantauan Bantenraya.com melalui video yang dishare ke wartawan, kondisi jalan Desa Sukarame mirip kubangan kerbau dan harus ekstra hati-hati jika melintasi jalan tersebut.
Warga Desa Sukarame, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, Abdul Jalla mengatakan, aktivitas warga baik yang usaha dan sekolah terhambat dengan kerusakan jalan poros tersebut.
Baca Juga: 15 Link Twibbon Hari Pers Nasional 2025, Desain Terbaru dan Kekinian Cocok Dibagikan di Medsos
“Tentu saja mempengaruhi terhadap daya jual menjadi rendah,” ujar Abdul Jalla, kepada Bantenraya.com, Kamis 6 Februari 2025.
Kemudian, kata dia, jalan rusak juga berpotensi terjadi kecelakaan bagi pengendaranya.
“Aktivitas anak-anak sekolah dari dan luar Sukarame, tentu akan berdampak kecelakaan tunggal warga,” ucap dia.
Baca Juga: Update Coretax Pajak Per Januari 2025, 26 Juta Faktur Sudah Divalidasi
Abdul Jalla menyebut bahwa jalan poros Desa Sukarame mirip kubangan kerbau, karena permukaan jalannya parah.
“Ini cocoknya ditanami ikan lele karena sudah bukan jalan lagi,” kesalnya.
Ia mengaku sudah menyampaikan keluhan jalan poros Desa Sukarame rusak ke beberapa pihak terkait.
“Sudah disampaikan ke baik ke DPRD Kabupaten Serang melalui ketuanya, dan Ketua DPRD Provinsi Banten Pak Fahmi Hakim, termasuk juga ke Camat Cikeusal, agar bisa diteruskan ke DPUPR Kabupaten Serang,” tegasnya.
Abdul Jalla mendesak para pemangku kepentingan di pemerintah daerah segera turun ke lokasi untuk melihat kondisi jalan poros Desa Sukarame.
“Pemangku kepentingan juga harus peduli. Jangan duduk di belakang meja harus turun ke masyarakat ke lapangan, karena mereka butuh kenyamanan,” sindir Abdul Jalla.
Baca Juga: XL Axiata Kantongi Pendapatan Rp34,40 Triliun Sepanjang Tahun 2024
Keluhan serupa dikatakan warga pengguna jalan lainnya, Ahmad Nurdin.
“Jalannya parah berlubang. Saya sampe mulak milik milih jalan,” keluhnya. ***


















