BANTENRAYA.COM – Keputusan Lesti Kejora untuk mencabut laporanya terkait kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) berakhir damai lantaran penyanyi dangdut memikirkan nasib sang anak Baby Leslar.
Dari hal tersebutlah Lesti Kejora mencabut laporannya meski Rizky Billar telah ditetapkan sebagai tersangka.
Bagaimanapun, Rizky Billar adalah ayah dari buah hati yang ia cintai. Apalagi suaminya sudah mengakui kesalahan dan meminta maaf.
Akan tetapi warganet cukup geram terkait keputusan Lesti bahkan banyak sekali warganet mengaitkan bahwa sosok Lesti Kejora itu memiliki karakter Stockholm Syndrome
Lantas apakah yang dimaksud Stockholm Syndrome tersebut?
Yuk simak informasinya sebagaimana yang telah dirangkum Bantenraya.com dari berbagai sumber.
Baca Juga: Kapan BSU Tahap 6 Cair? Ini Jadwal Pencairan dan Penjelasan Kemnaker
Stockholm Syndrome merupakan timbulnya perasaan positif atau bersimpati dari korban pelecehan atau kekerasan terhadap pelaku.
Hal ini umumnya terjadi saat korban telah menghabiskan waktu yang cukup lama bersama pelaku.
Dalam hal ini, ikatan dapat tumbuh antara korban dan pelaku. Hal ini dapat mengarah pada perlakuan yang baik serta tidak menunjukkan sifat-sifat agresif sehingga menciptakan ikatan positif dengan korban.
Kadang-kadang orang yang menjadi korban kekerasan atau tindak kejahatan lainnya dapat memiliki perasaan simpati atau perasaan positif terhadap si pelaku.
Emosi itu bisa saja terjadi setelah berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun terjadi kontak dekat dengan pelaku.
Seseorang yang memiliki sindrom stockholm mungkin memiliki perasaan yang membingungkan terhadap pelaku, termasuk cinta, simpati, empati, serta keinginan untuk melindungi si pelaku.
Baca Juga: Jalan Sehat Golkar di Kota Serang Dihadiri 5.000 Orang, Sekjen Golkar Banten Mengaku Bangga
Lebih mengejutkannya lagi, Stockholm syndrome juga dapat menyebabkan korban memiliki perasaan negatif terhadap disekilingnya.
Meski begitu, tidak semua orang yang menjadi korban mengalami sindrom Stockholm.
Para ilmuwan juga belum menemukan penyebab pasti seseorang bisa alami hal itu.
Baca Juga: Iman Ariyadi Kawal Ati Lepas Ribuan Peserta Jalan Santai HUT Golkar
Hanya saja, itu dianggap sebagai mekanisme bertahan hidup.
Seseorang mungkin menciptakan ikatan itu sebagai cara untuk mengatasi situasi yang ekstrem dan menakutkan.***



















