BANTENRAYA.COM – Komunitas Kembali sebagai komunitas yang fokus bergelut di bidang pertunjukan teater berhasil menyuguhkan garapan teater bertajuk Muara Karuhun.
Pertunjukan Muara Karuhun dari Komunitas Kembali merupakan upaya alih wahana dari cerpen yang ditulis oleh Akademisi Untirta, Farid Ibnu Wahid.
Pertunjukan Muara Karuhun merupakan agenda roadshow Komunitas Kembali ke berbagai kantung atau pusat kegiatan seni di Banten, seperti Rumah Dunia (Kota Serang) Sanggar Seni Budaya Kota Cilegon dan Teater Guriang (Lebak).
Baca Juga: KH Miftachul Akhyar Angkat Bicara dan Ungkap Penyebab Mundur Sebagai Ketua Umum MUI
Komunitas Kembali juga berkolaborasi dengan beberapa pegiat seni lainnya seperti musisi, ilustrator dan pegiat teater lainnya.
Pertunjukan yang dipimpin oleh Arif Sodakoh ini juga melibatkan aktor yang notabene adalah mahasiswa Untirta.
Mereka di antaranya Ismiati Pratiwi (Pendidikan Bahasa Indonesia), Ali Akbar (Pendidikan Bahasa Indonesia), dan Rezky Ardiansyah (Perpajakan).
Baca Juga: Terus Telusuri Kasus Indra Kenz, Bareskrim Polri Ungkap Ada Pelaku Lain
Salah seorang pendiri Komunitas Kembali sekaligus sutradara dalam pertunjukan Muara Karuhun Imaf M Liwa mengatakan, pertunjukan Muara Karuhun hadir bermula dari sebuah keresahan saat pandemi Covid-19 datang.
“Kegelisahan muncul ketika saya tidak melakukan apa-apa. Maksudnya adalah ketika pandemi kita dituntut untuk diam di rumah,” katanya.
“Saat itu terpikir oleh saya adalah naskah dari Pak Farid ini. Kemudian lahirlah garapan Muara Karuhun ini,” ujar alumnus Untirta ini.
Baca Juga: Chip Gratis Hingga 65B, Ini Kode Penukaran Higgs Domino Island 11 Maret 2022 Terbaru
Muara Karuhun yang ditulis oleh Farid ini dalam pandangannya berdasar pada cerita rakyat dan topomini di Desa Muara, Kabupaten Lebak, Banten.
Ia menjelaskan, maksud dari topomini ini adalah cabang onomastika yang menyelidiki asal usul nama tempat.
Toponimi ini termasuk sastra lisan yang memiliki beragam nilai ajaran hidup yang kemudian akhirnya menjauh seiring perkembangan zaman.
“Saya tertarik dengan naskah ini karena ada banyak pesan ‘karuhun’ di dalamnya, di antaranya adalah bagaimana kita untuk menyikapi hidup ‘kudu hade’ atau harus benar dan taat atas segala yang telah diatur oleh Tuhan,” jelasnya.
Di sisi lain, usai pertunjukan itu, ia memang tidak bisa menutup kebahagiaannya meski ia menilai garapan masih harus terus diperbaharui.
Ia juga bersyukur banyak pihak baik dari pemerintah maupun komunitas seni lainnya turut mendukung garapan ini.
Baca Juga: Puasa Ramadhan 2022 Kapan? Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1443 Hijriah di 2 April 2022
Imaf berharap, ada banyak pertunjukan lain selain Mura Karuhun hadir di tanah para karuhun ini.
“Tentu kami berterima kasih kepada semua yang mendukung. Semoga teater di Banten semakin ramai lagi, banyak yang apresiasi dan semarak,” ungkapnya.
Sementara itu, Farid, penulis Cerpen Muara Karuhun menuturkan, naskah yang terkandung dalam Muara Karuhun adalah nasihat orangtua dalam tuntunan hidup.
Baca Juga: Perkosa Siswi SMP, 2 Pelajar SMA Asal Kabupaten Serang Divonis 18 Bulan Penjara
Menurutnya, jika ingin sukses dan benar dalam menjalani hidup maka kuncinya adalah mendengar apa kata orangtua.
“Kenapa saya sebut Muara Karuhun, karena orangtua itu karuhun, kita itu berpusat kepadanya,” tutur Farid yang juga merupakan Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untirta.
Pada tulisannya, Farid memang banyak menyuguhkan tentang nasihat-nasihat orangtua dan menampilkan sosok Kang Darman dalam ceritanya.
Baca Juga: Vincent Raditya Pernah Pamer Mobil Baru Hasil Trading, Akan Susul Indra Kenz dan Doni Salmanan?
Kang Darman dikisahkan sebagai orang baik, taat dan kebanggaan orang Muara Karuhun, tetapi reputasi itu ia rusak karena ketika menjadi seorang pejabat, menjadi seorang bupati, ia malah berkhianat. ***

















