BANTENRAYA.COM – Manusia badut jalanan menjadi pilihan bagi beberapa orang sebagai profesi untuk mendapatkan penghidupan, karena alasan sulit mendapatkan pekerjaan yang lain, menjadi manusia badut ditekuni dan menjadi profesi sampai bertahun-tahun.
Seorang manusia berkostum badut kelinci melambaikan tangannya menyapa para pengendara motor dan mobil. Seraya melambaikan tangan satu persatu kendaraan ia hampiri.
Jika pengendara yang respect, manusia badut itu akan mengajak salam tos. Tak lupa ia asongkan setengah celengan plastik kepada para pengendara. Jika pengendara memberikan uang, manusia badut itu akan mengangguk-angguk kepalanya tanda ucapkan terima kasih.
Aksi manusia badut itu terlihat di ruas Jalan Ki Ajurum, Kelurahan Cipocok Jaya, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang.
Jalan Ki Ajurum salah satu simpang tiga lampu merah yang dijadikan tempat untuk mengais rezeki manusia badut.
Baca Juga: Segera Tayang! Film Horor Berjudul Utusan Iblis, Kisahnya Diadopsi dari Kasus Pembunuhan
Manusia Badut, Suheri mengatakan, jadi manusia badut belum lama. “Baru dua tahun,” ujar Suheri, ditemui di sela-sela waktu istirahat di simpang tiga lampu merah Cipocok Jaya, Selasa, 10 Desember 2024.
Ia mengaku sulitnya mendapatkan pekerjaan salah satu alasan dirinya menjadi manusia badut jalanan.
Terlebih lulusan pendidikan Suheri hanya sampai tingkat dasar, sehingga sulit untuk bersaing mendapatkan pekerjaan yang sesuai lulusan sekolahnya. Belum lagi sekarang jika mau kerja harus pakai pelicin, agar bisa bekerja.
“Mau kerja susah. Nggak ada yang ngajakin. Ada yang ngajakin harus pakai uang,” ucap dia.
Suheri menuturkan, sebelumnya bekerja di salah satu bengkel mobil di Kota Serang, namun berhenti karena gajinya tidak sesuai dengan pekerjaannya.
Baca Juga: Bingung Cari Tempat Liburan Akhir Tahun 2025, Berikut Tempat Wisata Alam di Pandeglang
“Tadinya kerja di bengkel mobil di daerah Korem. Sudah 18 tahun sebelum punya anak dua. Sekarang punya anak dua jadi kurang,” tuturnya.
Ia mengaku penghasilan menjadi manusia badut jalanan tidak menentu, karena mengharapkan pemberian dari para pengendara sepeda motor dan mobil di jalan. Namun rezeki setiap manusia sudah diatur Allah SWT,
“Penghasilan di sini nggak gede paling Rp 50.000 per hari,” ucap Suheri.
Meski pendapatan sebagai manusia badut jalanan tidak tetap, ia mensyukuri jadi manusia badut jalanan karena profesi yang mulia.
“Penghasilan lumayan dari pada nganggur di rumah,” katanya.
Sejak pagi hari, Suheri sudah beraksi menjadi manusia badut di persimpangan lampu merah Cipocok Jaya.
Ia tetap menyapa ramah para pengendara walaupun mungkin tak sedikit pula yang tak suka pada profesinya.
“Dari pagi jam 10.00 sampai jam 05.00 sore,” ucap Suheri.
Ia mengaku menjadi manusia badut jalanan setiap hari, karena jika libur tak ada pemasukan lain selain dari profesi itu.
“Nggak ada liburnya. Setiap hari. Karena libur perlu jajan anak, istri perlu masak,” tutur dia.
Baca Juga: Maxim Perluas Layanan di Kabupaten Pandeglang, Kini Hadir di Kecamatan Menes
Suheri harus merogoh kocek pribadi untuk jadi manusia badut. Ia harus bayar sewa kostum badut kepada salah seorang pemilik kostum badut.
“Ini sewa. Rp 20 ribu sehari. Ada. Yang punya badutnya mah orang jauh. Orang Bandung,” terang Suheri.
Ia mengaku tak sanggup untuk membeli kostum badut sendiri, karena harganya dirasa mahal. Jika beli kostum badut dengan cara kredit, Suheri pun tak sanggup bayar cicilannya per hari.
“Duitnya dari mana, Pak. Dengar-dengar mah harganya Rp 1.200.000. Mau kredit ribet bayar cicilannya nanti tambah pusing,” akunya.
Setelah usai jadi manusia badut jalanan, Suheri harus bayar sewa kostum kepada pemilik kostum badut.
Baca Juga: Pelabuhan Merak Mulai Padat, Jumlah Kendaraan yang Menyeberang Alami Kenaikan 6 Persen
“Iya dianterin setorannya doang. Badut taruh di sini. Orangnya ngontraknya di Petir,” ungkap Suheri.
Selama dua tahun jadi manusia badut, Suheri mengalami suka duka di lapangan. Ia beberapa kali tertangkap razia oleh Satuan Polisi Pamong Praja atau Satpol PP Kota Serang. Karena beberapa kali tertangkap razia, ia mengaku punya cara mensiasati agar tidak tertangkap petugas penegak Perda itu.
“Kalau ada petugas kita minggir dulu. Kalau ngejar ya lari. Panik juga kalau dikejar. Pernah empat kali ketangkap paling ditegur doang. Terus suruh bikin surat pernyataan tandatangan,” beber dia.
Ia mengatakan, keluarganya sudah mengetahui jika profesinya jadi manusia badut jalanan.
“Tahu semua istri dan anak tahu. Responnya nggak gimana-gimana. Biasa aja. Yang penting jangan maling,” katanya.
Baca Juga: HUT Ke-6, Pertamina Hulu Rokan Siap Sambut Tantangan Masa Depan
Bahkan saat beraksi jadi manusia badut di jalanan, anak dan istrinya pernah menyaksikan profesi suami dan ayahnya tersebut dalam mencari uang.
“Ya malu ya malu cuma gimana lagi. Orang cari kerjaan susah. Yang penting jangan nyolong, maling,” tegas Suheri.
Kata Suheri, menjadi manusia badut jalanan karena keinginan sendiri. “Ini saya sendiri, bukan disuruh orang lain,” akunya.
Ia mengaku pernah mencoba kerja sebagai kuli bangunan, namun kerja kuli bangunan hanya sewaktu-waktu saja.
“Kerja kuli bangunan. Kalau di bangunan kalau ada kerjaan aja. Kalau nggak ada sama aja. Kalau ini kecil-kecil juga terus,” tutur Suheri.
Baca Juga: XL Terapkan Layanan IoT untuk Armada Taksi Listrik Xanh SM
Suheri mengaku tidak pernah menghitung-hitung pendapatan per bulan jadi manusia badut, karena lagi-lagi memang penghasilannya tidak tetap.
“Kurang tahu. Soalnya duit Rp 50 ribu, kadang Rp 40, Rp 30 dikasihin semua ke istri. Cuma beli bensin aja 5 ribu buat motor,” akunya.
Ia mengaku penghasilan minim jadi manusia badut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Terlebih ia memiliki dua anak yang salah satunya sudah sekolah dasar negeri.
“Cukup nggak cukup. Gimana istri yang ngatur duitnya. Sudah resikonya dapat segitu gimana lagi. Susah sekarang cari kerjaan. Harus cari duit dulu,” kata Suheri dengan mimik wajah memelas.
Suheri sadar diri bahwa usianya bakal senja dan tenaganya pun akan menurun, sementara penghasilan manusia badut jalanan tidak tetap, karena jika ada modal ia ingin buka usaha bengkel body mobil.
“Nggak. Saya rencana pengen buka bengkel. Cuma ngumpulinnya susah. Bengkel modalnya nggak sejuta dua juta,” akunya.
Kepada para pemimpin baru di Kota Serang, ia berharap ada bantuan modal usaha.
“Pengen ada bantuan buka bengkel.
Saya pernah kerja di mobil ngecet. Sudah lama semenjak belum punya istri,” ungkap Suheri.
Suheri menuturkan, tampil jadi manusia badut jalanan bisa seharian, namun tetap ada jadwal giliran karena memakai kostum badut cukup panas, apalagi jika cuaca tengah terik.
“Nggak bisa berjam-jam. Nggak kuat panas. Kita gantian sama teman yang lain.
Jika ingin tampil lebih lengkap, Suheri harus sewa alat musik box kepada pemilik kostum, namun konsekuensinya ia harus menambah biaya sewanya.
“Nyewa ada. Rp15 ribu mesin box sehari. Boro-boro buat nyewa musik box mendingan buat jajan anak,” kata dia.
Baca Juga: Hadapi Cuaca Ekstrem, Astra Tol Tangerang Merak Siagakan Tim Tanggap Darurat 24 Jam
Manusia badut jalanan lainnya, Irfan mengatakan, sudah tiga tahun menggeluti profesi sebagai manusia badut jalanan. Ia juga beralasan mendapatkan pekerjaan yang sesuai lulusan SMP tidak mudah.
“Susah cari kerja sekarang. Sekarang ijazah nggak dipakai. Pakainya uang,” ujar Irfan ditemui di lampu merah Cipocok Jaya.
Mulai dari pagi, Irfan sudah beraksi di simpang tiga lampu merah Cipocok Jaya.
“Dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam,” ucap dia.
Ia mengaku tidak ada libur bekerja sebagai manusia badut jalanan. “Nggak ada libur,” tuturnya.
Faktor cuaca hujan saat ini, kata dia, dapat mempengaruhi pendapatan per harinya. Terpaksa ia dan teman-temannya harus berteduh dulu menunggu hujan reda.
“Kalau hujan nunggu berhenti dulu. Kostum ini tambah berat kalau kena air hujan. Ngaruh juga pendapatannya berkurang. Kadang Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu. Kalau ramai Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu. Tergantung orang yang ngasih,” katanya.
Irfan juga harus menyewa kostum badut jika ingin beraksi di jalanan jadi manusia badut.
“Kalau saya sewa kostum sehari Rp 35 ribu,” ungkap Irfan.
Ia mengakui bahwa jadi manusia badut jalanan tak selamanya nyaman, di awal-awal kerap kucing-kucingan dengan Satpol PP Kota Serang. Irfan pun pernah merasakan tertangkap oleh petugas penegak Perda itu.
Baca Juga: Gelar Operasi Lilin Maung 2024, Polda Banten Kerahkan 4.310 personel dan Dirikan 51 Pos
“Pernah sekali. Tapi nggak sampai dibawa ke kantor. Cuman didata doang identitasnya terus dilepasin lagi. Tapi sekarang mah kalau ada petugas, paling kitanya harus minggir dulu. Jangan di jalan. Kita menghargai mereka,” terang dia.
Irfan menjelaskan, jadi manusia badut jalanan karena keinginan sendiri. Ia mengaku Keluarganya sudah tahu jika pekerjaan sehari-harinya adalah jadi manusia badut jalanan.
“Sudah tahu. Nggak marah. Mereka nggak malu. Mau saudara bilang apa masa bodoh yang penting jangan mencuri. Mereka kasih makan nggak,” katanya.
Meski berharap dari belas kasihan para pengendara, Irfan mengaku tidak pernah memaksa warga untuk memberinya uang.
“Nggak berani. Sekarang banyak hukum. Gimana orangnya. Sengerti orangnya aja,” akunya.
Baca Juga: Polda Banten Berhasil Gagalkan Peredaran 3 Kilogram Sabu, Kali Ini di Pelabuhan Merak
Irfan juga pernah merasakan duka saat jadi manusia badut jalanan. Ia sadar bahwa tidak semua orang respek terhadap manusia badut karena menggangu ketertiban di jalan.
“Ada yang hina. Kadang orang makan di mobil, main hape. Orang mah maaf apa, itu mah diam aja main hape. Sana, sana. Diusir,” kenangnya.
Ia mengatakan, penghasilan jadi manusia badut jalanan memang tidak tetap, namun profesi ini cukup menjanjikan buktinya tak sedikit orang yang menjalani prosesi ini di setiap persimpangan jalan lampu merah di Kota Serang.
“Sehari kalau minim Rp 40.000. Paling besar Rp 80.000,” kata dia.
Irfan mengungkapkan, meski pendapatan per hari jadi manusia badut jalanan bisa Rp 80.000, namun itu pendapatan kotor, karena belum dipotong biaya sewa kostum badut.
“Saya setor Rp 35 ribu sehari buat sewa kostum. Sisanya buat makan, merokok, dan ngasih orangtua,” ungkapnya.
Ia terpaksa harus menjalani profesi jadi manusia badut jalanan, lantaran kondisi sosial dan ekonomi keluarga yang terbatas.
“Orang tua ada satu doang. Mama nggak ada dari kecil. Saya doang yang profesinya begini. Anak bungsu. Yang lain kerja pembantu. Bapak nggak kerja sudah tua,” tutur Irfan.
Jika ada lowongan pekerjaan, Irfan kepengen kerja, karena ia sadari manusia badut jalanan bukan profesi tetap, hanya untuk batu loncatan seraya berharap ada pekerjaan yang tetap. Namun ternyata untuk bekerja di pabrik atau perusahaan sekarang ini sulit, apalagi ia hanya tamatan salah satu SMP Negeri di Kota Serang. Belum lagi ada praktek pungli harus bayar jika ingin kerja.
“Kalau ada lowongan pengen kerja. Capek jadi manusia badut. Cuman sekarang harus bayar. Ijazah nggak dipakai,” beber dia.***



















