BANTENRAYA.COM – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat dari Program Studi Ilmu Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), melaksanakan pelatihan dan pendampingan pembuatan garam beryodium dan garam rendam kaki. Tim tersebut terdiri dari Adi Susanto, Dodi Hermawan, M. Ana Syabana, Tatang Sutisna dan Weksi Budiaji.
Menurut Adi Susanto, bahan baku yang digunakan adalah garam produksi asli di Desa Panimbangjaya, yang dilakukan oleh Kelompok Peduli Lingkungan Pesisir dan Mangrove (Kompaksi) menggunakan teknologi Smart Salt Tunnel.
Dijelaskan Adi, dalam satu siklus yang lamanya 4-6 minggu, satu tunnelsudah mampu menghasilkan 100-120 kg garam kasar. Untuk meningkatkan nilai tambah garam kasar yang dihasilkan, maka tim melakukan pendampingan pembuatan garam beryodium dan garam rendam kaki pada Kompaksi.
Baca Juga: Perkonindo Provinsi Banten Minta Tidak Dianaktirikan oleh Pemprov Banten
Ia menilai, kebutuhan garam yang tinggi di Kabupaten Pandeglang belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, untuk menyediakan garam berkualitas dalam jumlah yang memadai dan mutu yang baik.
“Introduksi teknologi smartsalttunnel menjadi yang pertama di Kabupaten Pandeglang yang diharapkan dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya produksi garam di pesisir Selat Sunda sebagai upaya penguatan ekonomi biru di masa mendatang,” katanya.
Senada disampaikan Dodi Hermawan, kondisi airnya yang masih bagus dapat menghasilkan garam dengan kadar kemurnian yang tinggi. Pemilihan produk garam dan teknologi Smart Salt Tunnel menjadi pilihan yang sangat tepat bagi Kompaksi untuk dapat memanfaatkan potensi lahan yang ada guna menghasilkan garam yang berkualitas.
Baca Juga: Ada 6 Tema Besar, Panelis Rumuskan Pertanyaan untuk Debat Pilkada Kota Cilegon
“Penggunaan filter untuk menyaring air bahan baku garam menjadi inovasi baru yang belum pernah dilakukan pada produksi garam rakyat di Provinsi Banten dan harus dipertahankan,” ujar Dodi Hermawan.
Sementara itu, Mochammad Ana Syabana menyampaikan, pembuatan garam beryodium dapat dilakukan oleh kelompok dengan metode yang sederhana, yaitu melalui metode penyemprotan (spray) cairan KIO3 dengan konsentrasi tertentu pada garam kasar yang dihasilkan.
Selanjutnya garam tersebut dikeringkan sebelum dikemas. Sementara itu, pembuatan garam rendam kaki dilakukan dengan menambahkan cairan (ekstrak) tanaman serai ke garam kasar yang dihasilkan. Hal ini disampaikan oleh Mochammad Ana Syabana ketika mendampingi langsung masyarakat melakukan pengolahan garam beryodium dan garam rendam kaki.
Baca Juga: Lembaga Penyiaran Terancam Dibekukan Apabila Tak Netral Pada Pilkada 2024
“Selain mendapatkan pelatihan dan pendampingan pembuatan garam beryodium dan garam rendam kaki,” imbuhnya. ***















