BANTENRAYA.COM – Ramadhan memang penuh berkah, terutama bagi warga Kampung Ranca Wiru, Desa Sukamekarsari, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak.
Betapa tidak, hampir sebagian besar warga Kampung Ranca Wiru sejak awal puasa pekan lalu punya pekerjaan baru yakni membantu pembuat kolang-kaling.
Kampung Rancana Wiru, Desa Sukamerkarsari, Kecamatan Kalanganyar merupakan sebuah perkampung yang dikelilingi Sungai Cisimeut Serta Sungai Ciberang.
Jarak tempuh ke kampung ini dari Alun-alun Rangkasbitung sekitar enam kilo meter.
Baca Juga: Pedagang Takjil Musiman Bermunculan di Rangkasbitung, Sediakan Aneka Menu Buka Puasa
Dengan menggunakan sepeda motor, paling lama sekitar 20 menit sudah bisa sampai di kampung tersebut. Namun bila menggunakan roda empat, memakan waktu 30 menit.
Berbicara soal kampug Ranca Wiru, tentu ada hal unik yang dilakukan masyarakatnya.
Soalnya, setiap tahun menjelang memasuki bulan suci Ramadhan, para ibu rumah tangga di kampung ini seluruhnya menjadi kuli kupas biji aren (kolang-kaling) milik para pengepul biji aren dari berbagai kecamatan di Lebak.
Sedangkan sistem upah dari kuli kupas ini tidak dibayar langsung dengan uang melainkan menggunakan sistem bagi hasil kupas. Perbandingannya, satu gelas kolang-kaling untuk kuli kupas, serta lima gelas kulang-kaling untuk pengepul (pemilik-red).
Baca Juga: Berbuka Puasa dengan Rawon Kalkulator, Bagaimana Rasanya?
Mengingat kolang-kaling yang dikupas, perharinya mencapai kwintalan, maka kolang-kaling dari hasil kuli kupas mereka bisa dijual langsung ke pasar-pasar atau bisa juga dijual kembali ke pengepul.
Nurwati, salah satu ibu rumah tangga di Kampung Ranca Wiru yang mengaku sudah tiga kali Ramadan menjadi kuli kupas kolang-kaling yang hasilnya bisa untuk menambah biaya sehari-hari.
Sedangkan, proses pengupasan kolang-kaling diawali dengan perebusan biji aren agar saat akan dikupas tidak menimbulkan rasa gatal pada tangan.
“Sudah tiga Ramadhan saya jadi kuli kupas kolang-kaling. Bahkan hampir semua ibu rumah tangga di kampung ini jadi kuli kupas karena hasilnya lumayan untuk menambah biaya hidup sehari-hari,” ujar Nurwati.
Baca Juga: Bank Banten dan PT Taspen Jalin Kerja Sama, Akses Pelayanan Pensiunan Dipermudah
Mengingat hasil dari kuli kupas tersebut bisa mendapatkan puluhan gelas kolang-kaling, lalu bila dijual lagi dengan harga Rp10 ribu perkilogramnya, maka para kaum ibu bisa mendapatkan uang sebesar Rp 100 hingga Rp 150 ribu perhari.
“Dari hasil kuli kupas saya bisa dapat 10 hingga 15 kilogram. Karena harga jualnya Rp 10 ribu, maka perharinya saya bisa bawa pulang Rp 100 hingga Rp150 ribu perhari,” jelasnya.
Yusup, salah satu pengepul kolang-kaling mengaku sudah belasan tahun bekerjasama dengan masyarakat Kampung Ranca Wiru. Bahkan dirinya sudah sangat percaya kepada warga setempat karena kolang-kaling hasil kupasan warga setempat tidak gatal dan juga cukup bersih.
Baca Juga: Ketua DPRD Kota Serang Sebut Pelantikan Jumat Lalu Sebagai Pelantikan Paling Buruk
“Saya sudah lama sekali kerjasama dengan warga Ranca Wiru. Warga Ranca Wiru orangnya rajin dan telaten saat mengupas,” kata Yusup.***



















