BANTENRAYA.COM – Perkembangan pariwisata global menunjukkan pergeseran menuju pengalaman yang lebih autentik, berkelanjutan, dan berbasis teknologi.
Dikutip Bantenraya.com dari laman Kementerian Pariwisata, generasi Milenial dan Gen Z sebagai wisatawan yang fokus pada digitalisasi mendorong lahirnya tren pariwisata baru seperti eco tourism, dan wellness tourism.
Berikut lima tren pariwisata yang diperkirakan akan berkembang pada 2026:
BACA JUGA: Puluhan Hektare Sawah di Cinangka Terancam Gagal Panen, Petani Bisa Rugi Puluhan Juta
1. Nature and Adventure-Based Tourism
Pariwisata berbasis alam dan petualangan akan terus berkembang dengan permintaan yang semakin spesifik. Aktivitas seperti pendakian gunung api, susur gua, hingga eksplorasi bawah laut menjadi daya tarik utama.
Hal ini juga didukung dengan pendekatan yang lebih bertanggung jawab. Pengelolaan wisata pendakian di Taman Nasional Gunung Rinjani menunjukkan bagaimana aktivitas petualangan dapat dikombinasikan dengan prinsip zero waste dan keterlibatan masyarakat lokal.
BACA JUGA: 4 Wisata Edukasi Museum di Banten, Kenalkan Anak Kita dengan Sejarah
2. Eco Friendly Tourism
Kesadaran terhadap isu lingkungan mendorong minat pada pariwisata ramah lingkungan. Wisatawan cenderung memilih akomodasi ramah lingkungan, destinasi dengan pengelolaan sampah terpadu, serta kebijakan pengurangan plastik sekali pakai.
Dari sisi aktivitas, pengalaman konservasi seperti penanaman mangrove, restorasi terumbu karang, dan pemantauan satwa liar semakin diminati.
3. Cultural Immersion
Wisata tidak lagi sebatas mengunjungi destinasi populer, tetapi beralih ke pengalaman menyelami kehidupan lokal.
Cultural immersion memungkinkan wisatawan terlibat langsung dalam tradisi dan aktivitas masyarakat setempat, mulai dari mengikuti upacara adat, belajar memasak makanan tradisional, hingga tinggal di homestay.
Indonesia memiliki potensi besar berkat kekayaan budayanya. Desa wisata seperti Nglanggeran, Tamansari Banyuwangi, Tetebatu, dan Wae Rebo, Baduy menjadi contoh pengembangan wisata berbasis budaya yang menawarkan pengalaman bermakna sekaligus mendukung pelestarian budaya dan lingkungan.
4. Culinary and Gastronomy Tourism
Kuliner kini menjadi alasan utama wisatawan memilih destinasi. Wisatawan domestik mencari pengalaman kuliner autentik, sementara wisatawan mancanegara tertarik pada cerita di balik makanan.
Desa wisata seperti Candirejo, Pujon Kidul, dan Bonjeruk menawarkan paket farm to table yang melibatkan wisatawan dari proses produksi hingga penyajian. Tren ini diperkuat oleh program Wonderful Indonesia Gourmet (WIG) yang menempatkan kuliner sebagai bagian penting dari narasi pariwisata nasional.
5. Wellness Tourism
Wisata kebugaran diprediksi terus tumbuh seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Destinasi seperti Bali, Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah menawarkan paket spa, yoga, meditasi, dan aromaterapi.***



















