BANTENRAYA.COM – Branch Office BRI Serang memperkuat segmen pasar industri di kawasan Modern Cikande, dengan menggelar gathering macro finance Outlook 2025 bertajuk “Menatap Ekonomi 2025 di Tengah Tantangan Global dan Domestik”.
Branch Office Head BRI Serang Tamrin Faizal Nender mengatakan, pihaknya menyasar para pelaku industri sebab pada tahun 2025 banyak diwarnai kondisi perekonomian global yang penuh ketidakpastian dan tentu saja memerlukan layanan perbankan yang solid.
“BRI hadir untuk memberikan solusi yang bisa memberikan rasa aman kepada pelaku industri supaya mereka bisa mencapai produktivitas dan profit yang baik saat ini,” kata Tamrin kepada Bantenraya.com, Kamis, 13 Februari 2025.
Baca Juga: Langsungl Klik! 16 Link Twibbon Hari Persatuan Farmasi Indonesia 2025, Pas dibagikan di Medsos
Selain menyasar segmen industri, BRI Cabang Serang juga berkomitmen untuk memberikan layanan prima kepada semua segmen, baik Individu, UMKM maupun koperasi, agar perekonomian Banten bergeliat.
“Kami juga turut menghadirkan beragam produk simpanan, pinjaman, investasi, trade finance dan layanan perbankan lainnya,” papar Tamrin.
Chief Economist BRI Anton Hendranata menyampaikan, dari sisi global pertumbuhan ekonomi global diperkirakan cenderung stagnan tahun 2025, terlebih ada risiko perlambatan signifikan perekonomian China dan AS.
Baca Juga: Demi Efisiensi Anggaran, Vietnam Pangkas Kementerian dan Lembaga dari 30 Menjadi 22
“Ada beberapa downside risk pada 2025 yaitu ketidakpastian risiko geopolitik global yang masih tinggi, kemungkinan kembali naiknya inflasi pasca terpilihnya Trump sebagai Presiden AS, dan terhambatnya penurunan suku bunga acuan berbagai bank sentral,” jelas Anton.
Adapun dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan sedikit meningkat pada 2025, ditopang permintaan domestik. Kondisi tersebut diikuti dengan tingkat inflasi yang meningkat namun tetap manageable (dapat dikelola).
“Namun perlu diwaspadai kemungkinan terhambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 karena masih tertekannya daya beli kelas menengah dan menengah-bawah, serta tingginya ketidakpastian global,” terangnya.
Baca Juga: PLN IP UBP Suralaya Ajari Siswa Pengetahuan Renewable Energy, Begini Katanya
Dalam kesempatan itu, Dosen Fakutas Ekonomi dan Bisnis UI Telisa Aulia Falianty menyebut, pertumbuhan industri manufaktur masih di bawah Rata-rata Nasional pada triwulan IV tahun 2025, namun tetap menjadi penyumbang terbesar karena memiliki porsi terbesar.
“Tantangan kondisi dan geopolitik global, shifting ekonomi nasional, kebijakan baru serta perlambatan daya beli dan turunnya kelas menengah turut menjadi hambatan bagi para pelaku industri terutama manufactur,” ujarnya.
Namun masih menurutnya, industri di Banten masih memiliki peluang dari China Trade Diversion, peluang dari BRICS, peluang dari program prioritas pemerintah dan meningkatnya digitalisasi di sektor industri.
Baca Juga: Heboh! Kades di Ciamis Rela Undur Diri Demi Kerja Ke Jepang, Ternyata Segini Gaji Kerja Migran
“Adapun mitigasinya berupa diversifikasi pasar, hedging nilai tukar rupiah, menyiapkan roadmap hilirisasi di masing-masing industry, update peluang market yang dinamis secara lebih frequent, serta menjaga likuiditas dan leverage,” kata Telisa.***



















