BANTENRAYA.COM – Pasca aksi mogok yang dilakukan pengusaha dan pedagang daging selama dua hari, harga daging sapi di Pasar Induk Rau (PIR) Kota Serang mengalami kenaikan Rp 5.000 per kilogram.
Kenaikan harga daging sapi ini lantaran harga beli sapi potong hidup di pasarannya naik, imbas dari kenaikan nilai tukar mata uang dolar Australia yang meroket.
Pantauan Banten Raya di Pasar Induk Rau, Rabu 28 Januari 2026, sejumlah pedagang daging sudah nampak yang berjualan, namun suasana dan aktivitas jual belinya masih sepi pasca mogok dua hari sejak, Senin 26 Januari hingga Selasa 27 Januari 2026.
Salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Induk Rau (PIR) Kota Serang, Aeng mengatakan, para pedagang daging di PIR sudah kembali normali berjualan seperti biasa pasca aksi mogok dua hari tidak berjualan.
“Udah normal lagi. Pedagang sudah mulai juala lagi,” ujar Aeng, kepada Bantenraya.com, Rabu 28 Januari 2026.
Ia menjelaskan, para pedagang daging sapi di PIR kembali berjualan lagi karena aksi mogok jualan hanya selama dua hari.
“Ya kan mogok kemarin (Senin-Selasa) itu kepada masyarakat, kepada konsumen pengguna daging bahwa harga daging akan naik. Hari ini udah kita naikin harganya,” jelas dia.
Aeng menyebutkan, harga jual daging sapi di PIR Kota Serang menjadi Rp 135 ribu per kilogram (kg), semula pada saat sebelum aksi mogok harga daging sapi di pasar tradisional Kota Serang dijual dikisaran Rp 130 ribu per kg.
“Per hari ini harga daging sapi Rp 135 per kilo naik Rp 5.000 per kilo tadinya kan Rp 130 ribu per kilo,” ucap dia.
Ia menjelaskan, harga jual daging sapi naik Rp 5.000 per kilogram lantaran harga beli sapi potongnya pun naik.
“Harga bahan pokoknya naik. Kalau dibandingkan dengan bulan Desember ke Januari ini ada kenaikan 3.000 per kilogram sapi potong hidup,” jelasnya.
Aeng menuturkan, pasca kenaikan harga daging sapi daya beli masyarakat terhadap konsumsi daging belum ramai. Pihaknya pun mendapat komentar beragam pasca aksi mogok dan kenaikan harga daging sapi.
“Iya responnya kan macem-macem kalau yang sudah tahu bahwa itu ada kenaikan ya mereka mau beli. Tapi kalau yang belum tahu dia ada apa yang kita jelasin bahwa memang sapinya yang mahal,” tutur Aeng.
Ia menerangkan bahwa kenaikan harga daging sapi juga dipicu oleh kenaikan nilai tukar mata uang Australia, yang berimbas mengerek ke harga sapi potong hidupnya.
“Jadi kalau stok itu sangat cukup. Kalau bicara stok ya. Nggak langka. Cukup. Tapi itu disebabkan harga dolar yang tinggi. Dolar Amerika dan dolar Australia pun mengalami kenaikan. Dua-duanya berperan,” terang dia.
Pedagang daging sapi di PIR lainnya, Epoy membenarkan bahwa harga jual daging sapi ke konsumsen berkisar Rp 130 ribu per kg hingga Rp 140 ribu per kg.
BACA JUGA : Imbas Pedagang Daging Sapi Mogok Jualan, Rumah Makan Padang di Kota Serang Ganti dengan Rendang Ayam
“Waktu sebelum mogok kemarin itu dikisaran Rp 125 ribu sampai Rp 130 ribu per kilo,” ujar Epoy, ditemui di lapaknya di PIR Kota Serang, Rabu 28 Januari 2026.
Ia menjelaskan, penyebab kenaikan harga daging sapi menjadi Rp 140 ribu per kilogram karena pihaknya membeli harga sapi bobot hidupnya pun mahal, sehingga harga daging sapi dijual ke konsumen pun menjadi mahal.
“Bobot sapi hidupnya mahal. Kita belinya mahal, jadinya kita juga jualnya naik harganya,” ucap dia.
Epoy merinci saat ini harga bobot sapi potong hidup per kilogram dikisaran Rp 56.000-Rp 60.000 per kilogram.
“Sebelum ada aksi mogok kemarin itu kita belinya dikisaran Rp 55.000 per kilo, sekarang belinya aja sudah 60.000 ribu per kilo,” jelasnya.
Menurut Epoy, sehari setelah aksi mogok pembeli daging di Pasar Induk Rau belum stabil. Ia memperkirakan menurunnya aktivitas jual beli di Pasar Induk Rau, salah satunya karena daya beli masyarakat menurun.
“Saya juga nggak tahu sepinya kenapa mungkin karena ekonominya yang lagi lesu,” tandas Epoy.
Kenaikan harga daging sapi ini dirasakan oleh salah seorang konsumen yang juga pengusaha rumah makan Padang Budi Minang, Zulfadli. Ia mengaku bersyukur pedagang daging sapi kembali berjualan seperti biasa, namun harga beli daging pasca mogok mengalami kenaikan Rp 5.000 per kilogram.
“Ya kita kecewa sih harganya agak naik sih walaupun sedikit. Cuman Alhamdulillah masih dalam jangka terjangkaulah. Biasanya kita beli Rp 135 ribu per kilo, sekarang harganya Rp 140 ribu per kilo, naik Rp 5.000 per kilo,” ujar Zulfadli, ditemui di rumah makan Padang Budi Minang di Jalan Khozin, Kota Serang, Rabu (28/1).
BACA JUGA : Harga Daging Sapi Naik Nasional, Disperindag Banten Minta Pedagang Tetap Berjualan
Meski harga beli daging sapi telah mengalami kenaikan senilai Rp 5.000 per kilogoram, ia mengaku tidak akan menaikan harga nasi bungkus padang per porsinya.
“Susah sih kalau untuk menaikannya. Paling kita bertahan di harga sebelumnya Rp 13.000 per porsi sudah sama nasi, sayuran dan pakai rendang,” ucap dia.
Jika mendekati Ramadan harga daging sapi kembali melonjak, Zulfadli pun akan mempertimbangkan untuk menaikan harga jual nasi padang Rp 2.000 per porsinya.
“Ya kalau seandainya naik di angka 150, akan kita coba dengan menaikkan harga penjualan dari 13.000 ke 15.000 per porsinya. Tapi kalau kurang tepat dengan konsumen untuk harga segitu kita nggak bakal bikin rendang dulu dalam jangka batas waktu yang tidak ditentukan,” katanya.
Zulfadli berharap menjelang Ramadan harga kebutuhan pokok dapat distabilkan sehingga masyarakat kecil tidak kesulitan untuk membeli kebutuhan bahan pokok dalam mencukupi kebutuhan sehari-harinya.
“Ya harapan kita sebagai pedagang ya. Pedagang warung kecil-kecilan gitu ya. Harapan yang kita dari pemerintah ya tetap harga stabil lah. Dengan harga normal kayak biasa. Jangan sampai dinaik-naikin gitu kan. Ya karena kita juga susah juga. Kalau seandainya kita naikin ya. Pelanggan kita juga bakal komplain atau bagaimana karena standar harga di kita kan udah segitu ya. Jadi kita susah buat menaikkan harga gitu,” tandasnya. (***)

















