BANTENRAYA.COM – Empat rumah adat tradisional ini sudah tahan sampai ratusan tahun lamanya hingga menjadi warisan budaya.
Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki berbagai macam suku dan budaya.
Salah satu peninggalan budaya yaitu adanya rumah adat yang masih bertahan sampai era modern saat ini.
Di setiap wilayah Indonesia memiliki rumah adat, jenis makanan, bahasa, hingga pakaian yang berbeda-beda.
Tetapi ternyata masih ada rumah adat yang sudah berdiri sejak ratusan tahun lamanya dan masih kokoh berdiri hingga saat ini.
Bahkan 4 rumah adat ini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal maupun internasional.
BACA JUGA : Archipelago Beach Carita, Sensasi Menginap Unik dan Terjangkau Ala Rumah Adat dengan View Laut
Dikutip Bantenraya.com dari akun Instagram @indonesiajuaratrip terdapat 4 rumah adat di Indonesia yang dibangun tanpa semen tapi tetap kokoh yaitu :
1. Waerebo (Negeri di Atas Awan)
Waerebo menjadi kampung terkecil yang berada Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bentuk rumahnya kerucut tinggi, dibangun tanpa paku, dan terdapat 5 lantai tetapi lantai 5 digunakan untuk persembahan kepada leluhur.
Waerebo atau yang dikenal sebagai Negeri di Atas Awan telah dinobatkan sebagai warisan budaya UNESCO sejak tahun 2012 lalu.
Saat ini Waerebo di rumah adat (Mbaru Niang) telah dijadikan sebagai tempat penginapan untuk para wisatawan.
2. Kampung Bena
Kampung Bena sebagai kampung megalitik kuno yang berada di Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Arsitektur pembangunannya terkenal seperti rumah adat yang berbentuk perahu, dan situs batu megalitik.
Rumahnya tersusun rapih seperti tangga (terasering), ngadhu (tiang payung), dan bhaga (rumah kecil) di tengah kampung sebagai simbol penghormatan leluhur laki-laki dan perempuan.
BACA JUGA : 8 Rumah Bedeng Hangus Terbakar di Pulomerak, Cepat Menjalar Karena Pemukiman Padat
Hingga masih melestarikan adat tradisi leluhur dibawah kaki Gunung Inerie, dan menjadi salah satu destinasi di Indonesia yang memukau dengan peninggalan zaman batu dan kain tenun tradisionalnya.
Kampung Bena juga telah meraih penghargaan kasuk dalam 50 besar Desa Wisata Terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2024 lalu.
3. Desa Prai Ijing
Desa Prai Ijing berada di Tebara, Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sistem adat di Desa Prai Ijing yaitu semakin tinggi atap rumahnya, maka akan semakin tinggi juga status sosialnya.
Rumah Adat Menara Sumba tersebut telah dijadikan sebagai simbol Kelahiran dan Batu Kubur Megalitikum, hingga kini dijadikan tempat berkunjung wisatawan.
Desa Prai Ijing juga telah meraih penghargaan Juara 2 Pokdarwis pada Wonderful Indonesia Awards 2025 dan peringkat 9 kategori Desa Wisata Maju atau Mandiri pada event Desa Wisata Nusantara 2024.
4. Ume Kbubu dan Lopo
Ume Kbubu dan Lopo atau rumah yang berbentuk bulat berada di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Rumah adat tersebut melambangkan kearifan lokal, kesetaraan gender, dan ketahanan pangan.
Ume Kbubu (rumah bulat) berbentuk melingkar, tanpa jendela, dan beratap ilalang, difungsikan sebagai tempat tinggal, ruang privasi perempuan, serta penyimpanan hasil panen.
Destinasi Ume Kbubu itu telah dijadikan sebagai warisan budaya Indonesia dan sebagai warisan takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 2010 lalu.
BACA JUGA : Cara Mengurus SKCK Online Lewat HP, Bisa dari Rumah, Praktis dan Anti Ribet
Demikian 4 rumah adat Indonesia yang tetap kokoh sejak ratusan tahun hingga menjadi warisan budaya Indonesia. (***)
















