BANTENRAYA.COM- Ketika banyak orang mengalami gejala flu, pilek dan demam, karena maraknya virus di mana-mana, perempuan paruh baya itu justru mengalami gejala aneh, yakni hilang ingatan.
Sebenarnya, dia masih bisa mengingat nomor HP, alamat rumah, tempat tanggal lahir, bahkan dia masih ingat nama teman-temannya sendiri, tapi anehnya, dia justru lupa pada namanya sendiri.
Bahkan, ketika dia menelpon petugas kelurahan di Desa Karang Asem, untuk menyelesaikan urusan surat-surat dan kartu keluarga, lalu sang petugas menanyakan namanya, dia malah sibuk mencari-cari KTP. Sehingga petugas itu bertanya-tanya, ada apa gerangan yang terjadi di ujung telepon sana.
Ketika KTP dilihat, maka tertera namanya dengan jelas: Widya Panjaitan. Memang tidak ada yang unik dan langka dari nama itu. Biasa-biasa saja. Hanya masalahnya, kenapa nama yang biasa itu tiba-tiba menghilang dari memorinya?
Baca Juga: DPRD Kota Serang Setujui Raperda APBD Tahun Anggaran 2022
Dia telah menjadi Widya Panjaitan selama empat tahun, sejak menikah dengan pria bernama Malik Panjaitan, seorang politisi kawakan kelahiran Kota Medan.
Pada awalnya, ia belum terbiasa memakai nama barunya. Namun perlahan, setelah berulangkali melafalkannya, ia mulai nyaman menggunakannya.
Saat ia mulai lupa pada namanya, usia pernikahannya sudah berjalan sekitar tiga tahun. Kalau dompetnya ada bersamanya, tidak jadi masalah. Ia tinggal mengambil KTP dan melihat nama yang tertera di sana.
Tetapi, ketika suatu hari dompetnya hilang, seakan ia telah kehilangan segala-galanya. Kasus ini tidak seperti adegan-adegan amnesia atau tentang seorang idiot dalam film Rain Man, meskipun fakta menunjukkan bahwa nasib seorang wanita yang lupa pada namanya sendiri memang cukup aneh dan menyedihkan.
Widya mengunjungi toko perhiasan di Pasar Baru Cilegon, memesan gelang dari emas Singapur, serta mengukir namanya di situ. Sekarang, kalau tiba-tiba lupa namanya, yang perlu ia lakukan hanya melirik pergelangan tangan. Tak perlu lagi mencari-cari KTP di dalam tasnya, yang membuat orang-orang menatap aneh kepadanya.
Widya tak memberi tahu suaminya, karena ia khawatir suaminya nanti berpikir yang bukan-bukan, seolah sang istri tak merasa bahagia dengan pernikahannya.
Sebagai politisi, suaminya sangat logis pada segala hal. Ia gemar pada rerotika politis yang cenderung bersifat temperamental. Karena itu, Widya menyimpan semua masalah rapat-rapat, tak mau melibatkan diri terlalu jauh pada pola pikir suaminya yang sangat taktis dan rasional.
Suaminya berusia 36 tahun, selisih sekitar lima tahun di atas Widya. Paman Widya, seorang manajer di sebuah dealer mobil di Kota Cilegon, mengajaknya bergabung di perusahaan itu setelah lulus dari perguruan tinggi. Tentu saja pekerjaan itu bukan pekerjaan yang disukainya, tapi setidaknya ia punya beberapa tanggungjawab, dan itu tak begitu buruk.
Ketika para sales sedang keluar ia menggantikan mereka, dan Widya cukup piawai saat menjawab pertanyaan para konsumen. Ia memerhatikan sales-sales itu saat bekerja, lalu menyerap semua informasi penting dengan cepat. Widya juga termasuk tipe orang yang pandai bergaul, senantiasa memunculkan senyum kemenangan yang membuat pembeli merasa puas dan nyaman.
Ia tak keberatan bekerja sembilan jam, berangkat jam delapan pagi dan pulang jam lima sore, mengambil jatah liburan dan menikmati waktu senggangnya.
Saat mulai bekerja, Widya masih menggunakan nama gadisnya yang hanya lima huruf. Untuk menggantinya, ia harus berurusan dengan segala hal merepotkan, misalnya bolak-balik kantor kelurahan, pelayanan statistik, mengubah sistem data di komputer, dan segala tetek bengek menjengkelkan lainnya.
Untuk urusan pajak dan nomor NPWP, statusnya terdaftar sebagai karyawati yang sudah menikah, tapi namanya belum diganti. Ia tahu ini bukan cara administrasi yang tepat, tapi sejauh ini tak ada yang protes. Yang tertera di kartu namanya hanya “Widya”. Suaminya juga tahu, ia masih memakai nama gadisnya saat bekerja, tapi ia tak terlampau memusingkan. Suaminya paham, ini cuma soal kenyamanan saja.
Selama ia melihat sisi logis dari segala yang dilakukan istrinya, ia tak peduli dan pantang mengeluh. Pendek kata, ia adalah suami yang cukup pengertian, dan tak banyak menuntut.
***
Widya khawatir, lupa nama sendiri barangkali gejala penyakit ganas, boleh jadi lebih ganas dari virus Corona, atau penyakit pikun seperti Alzheimer. Dunia saat ini memang dipenuhi beragam penyakit mematikan yang datang secara tiba-tiba. Ada flu burung, SARS, Antrax, Corona, dan pasti di luar sana tak terhitung jumlah penyakit yang belum pernah ia dengar.
Penyakit Alzheimer tak beda jauh dengan lupa ingatan atau, yang biasanya diawali dengan gejala sepele. Ya, sepele memang, tapi boleh jadi membahayakan seperti yang dialami oleh dirinya sendiri.
Ia pergi ke rumah sakit dan menjelaskan masalahnya. Tapi dokter muda itu sepertinya tak serius menanggapi keluhan Widya. Cuek bebek saja. Malahan terlihat layaknya pasien yang lesu ketimbang seorang dokter. “Apakah Ibu Widya juga lupa dengan banyak hal selain nama Ibu sendiri?”
“Tidak Dok, alhamdulillah saya cuma lupa nama saya saja.”
Si Dokter terlihat pucat dan bingung, “Sepertinya gejala yang dialami Ibu bukan persoalan medis. Barangkali psikiater yang bisa menangani ini… tapi nanti dulu. Kalau Ibu lupa dengan banyak hal, kami bisa mengadakan serangkaian tes untuk kesembuhan Ibu.”
“Oo begitu,“ gumam Widya.
Di dalam hatinya yang terdalam, dokter muda itu sebenarnya ingin mengatakan, “Ibu pulang saja, karena banyak sekali pasien yang penyakitnya lebih parah dan gawat daripada Ibu.”
Suatu hari di surat kabar lokal, Widya membaca sebuah iklan tentang layanan konseling yang terletak di samping kantor dinas kesehatan provinsi Banten.
Kantor konseling itu akan buka seminggu sekali, yang diisi oleh para konselor profesional yang menawarkan sesi privat berbiaya murah meriah. Penduduk Banten yang berusia di atas duapuluh tahun dipersilakan menggunakan layanan ini dan dijamin kerahasiaannya.
Awalnya, Widya meragukan kualitas segala hal yang dimiliki pemerintah daerah, tapi apa salahnya mencoba. Di sisi lain, perusahaannya amat sibuk setiap akhir pekan, tapi izin kerja sehari dalam seminggu bukanlah hal sulit. Kini, ia bisa menyesuaikan jadwalnya dengan jadwal yang dibuat konseling. Biaya untuk satu sesi berdurasi tiga puluh menit sekitar limapuluh ribu rupiah, jumlah biaya yang tidak begitu besar bagi Widya.
Setiba di kantor konseling pada hari itu, Widya sadar dialah satu-satunya klien yang baru mendaftar. “Sebenarnya program ini agak mendadak,” kata resepsionis penuh basa-basi, “banyak orang Banten yang belum tahu. Tapi begitu masyarakat tahu, kami pasti akan sibuk sekali di sini.”
Konselornya bernama Maya Sukmana, seorang wanita gendut berusia sekitar empatpuluhan. Rambutnya hitam, lurus dan panjang terurai. Wajah bulatnya persis kue martabak, dilingkari senyum yang agak menawan dan menenangkan.
Ia mengenakan setelan hitam bermotif batik, kalung mutiara sintetis, dan sepasang sepatu hak tinggi. Ia terlihat lebih cocok sebagai ibu-ibu rumah tangga yang menjaga warung kelontong seperti dalam kisah Perasaan Orang Banten, yang tiap pagi gemar menebar sapa pada orang-orang yang lewat.
“Suami saya bekerja di kantor dinas Pekerjaan Umum,” katanya memperkenalkan diri pada Widya. “Dia kepala seksi di kantor dinas itu, makanya saya mendapat dukungan dan membuka pusat konseling di Banten ini. Kebetulan, Ibu adalah klien pertama kami. Saya tak punya janji lain hari ini, jadi santai saja, kita bisa bicara dari hati ke hati.” Wanita itu berujar dengan nada suara yang terukur, seolah semua kata-katanya mengalir lancar sebagaimana yang direncanakan, dan telah dihafalkan pula.
“Saya juga senang berjumpa dengan Ibu,” balas Widya. Padahal, saat itu dia sedang bertanya-tanya apakah benar perempuan gendut ini bisa membantu menyelesaikan masalahnya.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik Kemenangan Manchester United atas Villarreal, Jadon Sancho Cetak Gol Perdana
Ibu Maya duduk di balik meja yang bertaplak kuning, bermotif batik hijau. Widya duduk di atas sofa tua yang terlihat seperti baru saja diangkut dari gudang penyimpanan. Pegas-pegasnya terasa keras dan kasar, bau apeknya membuat hidung Widya kembang kempis.
Widya duduk dalam posisi lurus, lalu menjelaskan nasib hidupnya. Ibu Maya mengangguk dan tak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda heran atau terkejut. Ia mendengarkan Widya dengan seksama. Sesekali jidatnya mengerut dan matanya terbelalak. Setelah itu, muncul lagi senyumnya yang khas dan tak tergoyahkan.
“Jangan khawatir, saya ini punya gelar di bidang konseling dan segudang pengalaman,” wanita itu seperti membaca pikiran Widya. Tiba-tiba, ia bertanya tentang ukiran nama pada gelang yang dikenakan, dan setelah Widya menjelaskan, ia merasa terkagum-kagum, “Ide yang bagus dengan mengukir nama di gelang. Ibu Widya ini sepertinya pandai mencari solusi realistis daripada mengeluh, kan? Saya lihat, Ibu lumayan cerdas… dan yah, mengukir nama di gelang itu suatu gagasan cerdas…”
“Tapi menurut Ibu, lupa nama sendiri itu apakah ada hubungannya dengan penyakit ganas, seperti Covid misalnya?” tanya Widya.
“Saya kira tidak, kecuali kalau Ibu kehilangan penciuman, pendengaran, atau gejala Covid lain yang ada kaitannya dengan THT. Tapi, saya belum yakin ada penyakit yang gejalanya lupa nama sendiri. Dari asumsi saya, bisa jadi gejala ini mengarah pada gejala berikutnya. Bayangkan, kalau seluruh penduduk Banten lupa namanya masing-masing… maksud saya, hilangnya memori soal nama mungkin bisa menyebar ke memori lainnya. Jadi, mari kita selangkah demi selangkah mencari awal mula munculnya gejala ini.”
Bu Maya mulai dengan menanyakan beberapa pertanyaan soal kehidupan Widya. Mengenai pekerjaannya, kesehatannya, lalu berapa lama ia menjalani pernikahan. Setelah itu, ia menyelidik soal masa lalunya, sekolahnya, keluarganya, hal-hal yang ia sukai, juga hal-hal yang menyebalkan. Hal-hal yang menjadi kelebihannya, juga hal-hal yang menyangkut kekurangan dan kelemahannya. Widya menjawab semua pertanyaan secara jujur dan apa adanya.
Widya menjelaskan bahwa ia tumbuh di tengah keluarga biasa. Ayahnya seorang pedagang berwatak keras, dan ibunya seorang yang lembut dan penyayang tapi tak jarang marah dan mengomeli dirinya. Kakak perempuannya rajin, taat beribadah dan selalu menjadi juara kelas, tetapi Widya tak pernah mengakuinya. Tetap saja ia merasa tak bermasalah dengan keluarganya.
Sejak dulu, ia merasa tidak butuh perhatian lebih dan tak pernah jatuh sakit. Ia tak mempermasalahkan penampilannya, meski tidak ada orang yang pernah memujinya cantik. Ia menilai dirinya lumayan pintar, dan selalu berada dalam peringkat sepuluh besar di sekolahnya. Ia memang tak punya keunggulan dalam mata pelajaran tertentu. Selepas dari SMP, orang tuanya menyekolahkan dia ke pesantren Al-Bayan di Rangkasbitung, Lebak. Di pesantren itu dia punya banyak teman dekat, tapi kebanyakan dari mereka sudah berkeluarga, dan jarang saling memberi kabar satu sama lain.
Ia tak mengatakan apapun soal awal-awal pernikahannya. Dia dan suaminya memang membuat kesalahan-kesalahan yang selazimnya dilakukan pasangan muda-muda, tapi dia tak pernah menceritakan persoalan itu pada ibunya maupun orang lain. Suaminya memang tak sempurna, tapi ia juga punya berbagai kelebihan-kelebihan, seperti soal tanggungjawab, rapih, bersih, jarang mengeluh, juga memiliki hubungan baik dengan para konstituen politiknya.
Sepanjang menjawab pertanyaan, Widya tersentak oleh kenyataan betapa membosankan jalan hidupnya. Seakan tak pernah ada peristiwa dramatis yang menyentuhnya. Kalau diibaratkan sebuah film, sejarah hidupnya tak lebih dari gambaran film dokumenter yang beranggaran terbatas yang membuat penontonnya ngorok dan tertidur pulas. Seakan tak ada pergantian adegan, close up, konflik, atau sesuatu yang menginspirasi lainnya.
Widya tahu benar, memang tugas konselor untuk mendengarkan keluhan kliennya, tapi ia kasihan juga pada perempuan gendut yang penuh kesetiaan itu. Jika kami harus bertukar tempat dan mendengarkan cerita seperti ini (pikir Widya), kelopak mataku pasti sudah merem-melek dan berkedat-kedut dengan pandangan buram karena menahan rasa kantuk.
Meski begitu, Ibu Maya Sukmana tetap mendengar dengan seksama keluhan Widya, sambil sesekali membuat catatan kecil. Saat mulai bicara, suaranya tak menyiratkan kebosanan, malah terasa hangat dan menunjukkan perhatian yang telaten. Widya tenggelam dalam ketenangan yang asing. Ia sadar, tidak seorang pun mau mendengar perjalanan hidupnya dengan penuh telaten seperti itu.
“Baiklah kalau begitu. Apakah Ibu Widya bisa datang lagi Kamis depan?”
“Tentu saja bisa… kalau Ibu tidak keberatan…”
“Tentu saja tidak. Wong ini sudah tugas saya, tanggungjawab saya, juga amal-amal soleh saya dalam melayani umat,” katanya diplomatis. “Tapi Ibu sabar dulu. Kita butuh beberapa kali pertemuan, sampai terlihat perkembangannya. Bagaimanapun ini bukan acara curhat seperti siaran kesehatan di televisi atau radio. Begitu penelpon menunggu setelah iklan sampo dan sabun, lalu solusi diberikan oleh si Dokter. Tapi kalau kita, pelan-pelan saja, supaya makin jelas kemajuannya. Jadi, alon-alon asal kelakon, seperti itu, Bu.”
“Oke, baik kalau begitu… terimakasih banyak….”
***
“Apakah Ibu Widya mengingat sesuatu yang ada hubungannya dengan nama-nama?” tanya Bu Maya di pertemuan berikutnya. “Seperti nama Ibu sendiri, nama julukan, nama teman, nama binatang peliharaan, nama tempat yang pernah Ibu kunjungi? Kalau punya, ceritakan pada saya. Bisa dimulai dengan hal sepele, selama ada hubungannya dengan nama. Silakan coba ingat-ingat.”
Widya berpikir dalam waktu yang cukup lama. Kemudian ia tersentak, “Ada Bu! Saya mengingat ID Card yang ada nama saya, sewaktu sekolah di pesantren Al-Bayan dulu.”
“Baik, coba ceritakan tentang ID Card itu sewaktu Ibu sekolah di pesantren.”
Widya menggeser posisi duduknya, menghela napas, lalu diceritakannya ketika bersekolah di pesantren selama tiga tahun selepas dari SMP I Kota Serang. Semua siswi di pesantren Al-Bayan diwajibkan mengenakan ID Card bertali yang ada nama dan fotonya, lalu dikalungkan di leher siswi setiap kali masuk kelas. “Rumah saya di Serang dan pesantren saya di daerah terpencil di Rangkasbitung. Jadi, saya dan teman-teman dari seluruh tanah air, tinggal di asrama khusus perempuan setingkat SMA. Kami pulang ke rumah hanya waktu liburan semester pertama dan kedua. Setahun dua kali, sedangkan liburannya selama tiga minggu hingga satu bulan lamanya.”
Bu Maya mengangguk. “Bukannya banyak pesantren bagus di Kota Serang? Kenapa harus jauh-jauh ke daerah terpencil di Rangkasbitung?”
“Kebetulan ibu saya dulunya pernah sekolah di pesantren itu. Dia ingin salah satu anaknya ada yang sekolah di tempat itu juga. Saya pikir lumayan enak kalau jauh dari orang tua. Walaupun saya kurang bisa menikmati makanannya, tapi secara umum saya merasa betah sekolah di sana dan tinggal bersama teman-teman dari berbagai suku dan daerah yang berbeda-beda, bhineka tunggal ika.”
Bu Maya tersenyum. “Ibu bilang tadi, bahwa Ibu punya kakak perempuan?”
“Ya betul. Dia dua tahun di atas saya.”
“Kenapa bukan dia saja yang disekolahkan di pesantren?”
“Dia itu anak rumahan, dan juga, yah… suka sakit-sakitan. Jadi, dia disekolahkan di dekat rumah. Saya pikir, kalau dibandingkan, saya jauh lebih mandiri ketimbang dia.”
Kemudian, Widya lanjut bercerita, bahwa seandainya para pengasuh pesantren lupa nama siswi, tinggal dilihat saja ID Card yang menggantung di leher mereka. Juga ketika para siswi memanggil anak-anak kelas satu yang berjumlah ratusan orang, tentu sulit untuk mengenali mereka satu persatu. Maka, nama yang tertera dengan jelas pada ID Card itu amat sangat membantu.
“Apakah Ibu punya teman dekat… maksud saya, teman yang paling akrab?”
“Ada. Namanya Nikita Dewi. Orangnya cantik, pintar berdandan, tapi sayang,” pandangannya menerawang, menyiratkan rasa empati sambil menghela napas, “dia sudah nggak ada.”
“Ke mana?” tanya Bu Maya kaget.
Keduanya terdiam, lalu jawab Widya, “Ibu pernah mendengar kasus pelajar yang melompat dari jembatan Bendungan Solear beberapa tahun lalu?”
“Ya, saya pernah baca di suratkabar.”
“Nah, itu dia teman dekat saya yang biasa dipanggil Dewi. Koran-koran juga menyebutnya nama Dewi.”
Widya kemudian menjelaskan persahabatannya dengan Dewi sewaktu sekolah di pesantren tersebut. Menjelang liburan semester ketika mereka menginjak kelas tiga, tiba-tiba Dewi mengajaknya ngobrol tentang hal-hal yang sangat pribadi mengenai kekecewaannya pada seorang lelaki.
“Apakah kamu pernah cemburu?” tanya Dewi waktu itu.
Widya terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, tapi ia berusaha menjawab serius, “Sepertinya pernah, tapi… nggak terlalu sih.”
“Yang benar?” desak Dewi.
Widya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Duh, bagaimana ya? Kalau kamu tanya tiba-tiba begitu, saya nggak kepikiran. Cemburu seperti apa maksudnya?”
“Seperti saat kamu sayang dengan seseorang, tapi orang itu justru menyayangi orang lain. Seperti ada sesuatu yang kamu inginkan, tapi orang lain mengambilnya lebih dulu. Atau ada sesuatu yang kurang mahir kamu lakukan, tapi orang lain dengan mudah bisa melakukannya… yah, kira-kira seperti itulah….”
Widya berpikir sejenak, “Kok sepertinya saya nggak pernah ya? Kamu sendiri bagaimana?”
“Kalau saya, sering banget.”
Widya bingung membalasnya. Baginya, bagaimana mungkin gadis secantik Dewi menginginkan sesuatu yang lebih dalam perjalanan hidupnya. Seorang gadis yang cukup cerdas, dan lahir dari keluarga yang kaya-raya. Konon, ia juga punya seorang pacar yang ganteng dan tampan, yang sedang menjalani kuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten.
“Kalau sering, kapan? Coba ceritakan,” pancing Widya.
“Nggak usah ah,” kata Dewi dengan tatapan menerawang, sambil menahan kekesalannya. “Kalau saya jelaskan juga percuma. Sebenarnya saya cuma pengen tahu aja, apakah kamu pernah mengalami rasa cemburu.”
Widya tak tahu apa yang dikehendaki Dewi. Meski kemudian ia pun menjawab, ”Saya sebenarnya bukan orang pede yang seolah bisa meraih apa yang saya inginkan. Saya juga pernah kesal, jengkel atau mungkin agak frustasi dalam menjalani hidup. Tapi kalau rasa cemburu pada seseorang, entah kenapa, rasanya nggak pernah tuh.”
Dewi tersenyum samar. “Menurut saya, rasa cemburu itu aneh dan misterius. Kalau kamu pengen tahu, rasa cemburu itu seperti virus Corona yang menjalar dan menggerogoti tubuh sedikit demi sedikit. Ia terus saja bermutasi dan berkembang-biak tak terkendali. Meskipun kamu tahu rasa itu ada, tapi kamu tak bisa melihat dan tak mungkin menghentikannya.”
Widya mendengarkan Dewi dengan saksama, karena ia tak pernah melihat temannya itu bicara tentang hal yang amat prinsipil itu.
“Memang sulit sih bicara soal cemburu dengan orang yang belum pernah merasakannya. Tapi supaya kamu tahu aja, menjalani hidup dengan kecemburuan itu seperti membawa neraka ke mana-mana dan kapan saja. Ibaratnya virus Corona itu menjelma sebagai bara api yang membakar hati dan pikiran kita.”
Dewi berhenti bicara dan menutup penjelasannya dengan senyuman kecil. Ia memang cantik, pikir Widya. Bagaimana rasanya menjadi perempuan secantik dirinya, sampai-sampai semua orang berpaling kepadanya? Bukankah itu sesuatu yang mesti dia banggakan? Ataukah kecantikan itu justru menjadi beban yang melukai dirinya? Tapi meskipun begitu, Widya tidak pernah merasa cemburu pada Dewi.
Menjelang perpulangan untuk liburan semester pertama, tiba-tiba Dewi menitipkan ID Card miliknya pada Widya. “Kenapa harus dititipkan ke saya? Sebaiknya ditaruh saja di lemari kamarmu.”
“Tolong pegang saja sama kamu. Nanti kalau ditaruh di lemari, monyet-monyet itu akan mencurinya.”
“Monyet-monyet dari mana? Di mana ada monyet di sekitar sini?” tanya Widya kaget.
Tapi saat itu, raut muka Dewi tidak sedang bercanda. Sesaat kemudian, Dewi keluar sambil meninggalkan ID Card itu di tangan Widya.
***
Widya mendengar kabar kematian Dewi ketika ia sedang menjalani liburan semester di rumahnya di Kota Serang. Mayatnya ditemukan sehari kemudian, setelah ia terbawa arus hulu sngai dari bendungan Solear, sejauh satu kilometer dari jembatan. Para wartawan mengabarkan bahwa ia terjatuh dari atas jembatan, kemudian terhempas dan terseret arus sungai. Beberapa saksi mata mengabarkan bahwa ia melompat dari atas jembatan, dan sepertinya saya sependapat dengan kesaksian tersebut.
“Bila kita melihat dari sudut lain, bukankah Dewi mencoba mengisyaratkan sesuatu?” tanya Bu Maya, sang konselor. “Saat dia datang ke kamar dan menitipkan ID Card yang tertera nama dan fotonya. Lalu dia juga bicara soal cemburu pada seorang laki-laki?”
“Memang dia bicara soal cemburu. Saya juga kurang paham pada awalnya, tapi kemudian saya baru sadar ada sesuatu yang ingin dia sampaikan ke orang lain sebelum dia meninggal.”
“Pernah cerita ke orang lain kalau Dewi mendatangi Ibu Widya malam itu?”
“Saya merahasiakannya.”
“Kenapa?”
Widya memiringkan kepalanya lalu memikirkan sesuatu. “Kalau bilang-bilang ke orang, yang ada hanya makin memperkeruh persoalan. Menurut saya, tak ada seorang pun yang bisa mengerti tentang hal itu.”
“Tapi maksud Ibu, Dewi terjatuh dari bendungan Solear karena ada masalah kecemburuan itu?”
“Kurang lebih. Tapi saya berusaha menyimpan rahasia itu. Kalau saya bicara pada orang lain, bisa Ibu bayangkan suasananya. Di pesantren manapun di negeri ini, kalau ada isu atau rumor yang disulut, ia akan menyebar luas dengan cepat, seperti memantik korek api di ruangan penuh gas elpiji.”
“Lalu, ID Card Dewi itu?”
“Ada di saya. Disimpan di sebuah map di dalam lemari. Saya simpan bersama ID Card saya juga.”
“Kenapa Ibu simpan?”
“Kalau saya kembalikan ke pesantren, sudah saya bilang bahwa saya tak mau mempekeruh persoalan. Tapi kalau saya buang, saya juga tidak sampai hati membuangnya begitu saja. Lalu, saya berpikir, kenapa dia menyuruh saya menyimpannya. Kalau Ibu bertanya soal ini, saya kurang paham, apakah ada kaitannya atau tidak?”
“Mungkin Dewi tertarik pada kepribadian Ibu. Atau mungkin ada sesuatu dalam diri Ibu yang menarik dalam pandangannya.”
“Saya tidak tahu,” katanya menggeleng.
Bu Maya terdiam, menatap Widya beberapa saat seperti mencoba memastikan sesuatu. “Di samping itu, Ibu memang nggak pernah cemburu?”
Widya tidak langsung menjawab. Beberapa saat kemudian, ia berkata, “Cemburu pada apa? Saya kok nggak merasa pernah ya. Tentu banyak orang yang lebih beruntung dari saya. Tapi bukan berarti saya lantas cemburu pada mereka. Saya kira hidup setiap orang memang ditakdirkan berbeda-beda.”
“Dan karena hidup ini ditakdirkan berbeda, maka nasib hidup manusia bukan untuk dibanding-bandingkan, begitu?”
“Ya, saya kira begitu.”
“Pemikiran yang bagus sekali,” kata Bu Maya sambil melipat tangannya di atas meja. “Berarti, Ibu memang tidak pernah bisa memahami rasa cemburu?”
“Paling tidak saya paham penyebab perasaan cemburu muncul. Tapi begitulah, saya tidak tahu kira-kira seperti apa sih rasanya saat cemburu, lalu bagaimana cara kita menghadapi rasa cemburu. Berapa lama rasa itu bertahan, dan seberapa besar kita menderita akibat rasa cemburu itu.”
Begitu sampai di rumah, Widya memeriksa lemarinya dan mengeluarkan sebuah amplop map tempat menyimpan ID Card nama Dewi, juga miliknya. Benda-benda, buku, album foto, dan surat-surat lawas disatukan dalam sebuah kotak kardus. Ia selalu membawa kotak kardus itu ke mana pun ia pindah tempat tinggal. Tapi saat itu, setelah ia mencari-cari dengan susah-payah, ia tidak berhasil menemukan amplop map tempat ia menyimpan ID Card. Ia merasa bingung. Ia yakin pernah melihat amplop itu di dalam kardus saat pertama kali pindah ke rumah barunya bersama suami. Mestinya amplop map itu ada di dalam kardus. Lalu, di mana lagi kalau bukan di dalam sana?
***
“Ini pertemuan kita yang ketujuh,” kata Bu Maya, “Ibu masih sering lupa nama sendiri, tapi kondisinya tidak memburuk, kan?”
“Alhamdulillah tidak, Bu.”
“Bagus,” kata Bu Maya. Ia memasukkan pulpen hitamnya ke saku kemejanya lalu mengepal erat tangannya sambil berkata, “Insya Allah, minggu depan akan ada kemajuan pesat terkait masalah Ibu Widya Panjaitan ini.”
“Maksudnya, tentang saya lupa nama sendiri?”
“Betul. Kalau sesuai rencana, seharusnya minggu depan saya sudah tahu penyebab utamanya, bahkan bisa memperlihatkannya kalau Ibu bersedia.”
“Penyebab utama saya lupa nama saya?”
“Tepat sekali.”
Minggu berikutnya, saat Widya memasuki ruang konseling, Bu Maya menyambutnya dengan senyum terlebar yang pernah ia lihat seumur hidupnya. “Nah, sekarang saya sudah tahu penyebab masalah Ibu, juga solusinya.”
“Jadi, saya tidak akan lupa nama saya lagi?” tanya Widya.
“Dijamin. Ibu tidak akan lupa nama Ibu lagi. Sekarang, misteri telah terpecahkan.”
Bu Maya mengambil sesuatu dari tas kecil miliknya dan meletakkan benda itu di atas meja. “Saya yakin, ini milik Ibu?”
Widya bangkit dari sofa dan berjalan menuju meja Bu Maya. Di atas meja tergeletak dua ID Card miliknya dan milik temannya mendiang Nikita Dewi. Widya mendadak pucat. Ia kembali ke sofa dan duduk terdiam untuk beberapa saat. Ia melekapkan kedua telapak tangan ke wajahnya, seperti menjaga agar jangan ada kata-kata mubazir yang keluar dari mulutnya.
“Saya tidak heran Ibu merasa kaget,” kata Bu Maya. “Tapi Ibu nggak usah panik.”
“Bagaimana Ibu bisa…” dahinya mengerut.
“Bisa menemukan ID Card ini?”
“Ya,” Widya mengangguk.
“Kami mencarinya bersama tim ahli kami,” kata Bu Maya. “Dua ID Card ini diambil pencuri, dan itulah penyebab utama mengapa Ibu lupa nama sendiri.”
“Jadi, tak ada kaitannya dengan Covid-19?”
“Sama sekali tidak ada.”
“Tapi, siapa yang…”
“Masuk ke rumah Ibu, mencuri dua ID Card, dan untuk apa tujuannya?” kata Bu Maya nyerocos. “Lebih baik Ibu tanya sendiri sama pelakunya.”
“Pelakunya ada di sini?” tanya Widya dengan suara berbisik.
“Oo jelas. Kami berhasil menangkapnya dan menyita ID Card itu. Tapi, sebenarnya yang menangkap itu adalah tim kami. Suami saya dan anak buahnya yang terjun ke lapangan. Ingat kan, saya pernah bilang suami saya adalah kepala seksi di Dinas PU Provinsi Banten?”
Widya mengangguk tanpa berpikir.
“Oke, sekarang, ayo kita temui pelakunya. Ibu bisa bicara langsung dengan dia empat mata.”
Widya membuntuti Bu Maya keluar dari ruangan, menuju sebuah bangunan paviliun di belakang Kantor Dinas Kesehatan. Seorang petugas membukakan pintu pagar yang digembok rapat.
Di dalam, berdiri seorang pria kurus, tinggi, kira-kira berusia lima puluhan, dan seorang pria yang berbadan lebih besar, kira-kira pertengahan dua puluhan. Keduanya mengenakan kemeja seragam kerja berwarna hijau dan kuning mencolok. Di dada pria yang lebih tua tersemat ID Card yang terbaca “Sukmana”, sedangkan yang lebih muda “Mastari”, sambil menenteng pentungan polisi berwarna hitam.
“Ibu Panjaitan, ya?” tanya Pak Sukmana. “Saya Sukmana Hambali, suaminya Ibu Maya Sukmana. Dan ini Pak Mastari, beliau kerja bersama kami.”
“Senang bertemu dengan Bapak, terimakasih Pak,” kata Widya.
“Apa dia merepotkan Bapak?” Bu Maya bertanya sambil mendelikkan mata pada suaminya.
“Nggak juga, saya pikir dia sudah pasrah dan menyerah,” kata Pak Sukmana, “Sejak pagi Mastari menjaga dia, dan sebenarnya sejak kemarin kelakuannya biasa saja.”
Ada satu pintu lain di bagian belakang ruangan paviliun itu. Mastari membukanya dan menghidupkan lampu. Ia menengok sebentar ke seluruh sisi ruangan, lalu kembali menghadap yang lainnya. “Aman,” katanya. “Silakan masuk, Bu.”
Mereka memasuki sebuah ruangan khusus, semacam gudang kecil, di dalamnya hanya terdapat satu kursi, dan seekor monyet sedang duduk di atasnya. Tubuhnya termasuk besar untuk ukuran monyet, lebih kecil dari manusia dewasa. Rambutnya sedikit lebih panjang dari monyet-monyet kebanyakan, dan juga beruban. Sulit menebak usianya, tapi yang jelas ia tak lagi muda. Kedua tangan dan kaki monyet itu diikat pada kursi kayu yang ia duduki, ekor panjangnya terkulai di lantai. Begitu Widya masuk, monyet itu menatap matanya, lalu kembali menunduk ke tanah.
“Nah, monyet inilah yang mencuri ID Card dari rumah Ibu, dan bersamaan dengan itu, Ibu mulai lupa nama Ibu sendiri,” kata Bu Maya menjelaskan.
Seketika Widya ingat kata-kata Dewi sahabatnya, “Nanti kalau ditaruh di lemari, monyet-monyet itu akan mencurinya”. Widya baru sadar, rupanya saat itu Dewi memang bukan dalam keadaan bercanda. Seketika itu, rasa ngeri tiba-tiba menjalar di sekujur tulang belakangnya.
***
“Maafkan saya,” kata monyet itu menunduk, suaranya rendah tapi terdengar hidup, seperti ada nada gitar yang mengalun dari kerongkongannya.
“Ha! Dia bisa ngomong!” teriak Widya terbengong-bengong.
“Emangnya kenapa kalau saya bisa ngomong?” balas monyet itu, raut mukanya tak berubah. “Ada satu hal yang perlu saya akui, terutama waktu masuk rumah Ibu. Tadinya saya cuma berniat mengambil ID Card saja, tapi saya lapar sekali waktu itu. Kebetulan ada pisang goreng tergeletak di piring di atas meja, jadinya saya sikat saja pisang itu. Maaf ya, Bu.”
“Dasar dusun! Ngelunjak! Nggak punya adab kamu itu, Nyet!” teriak Mastari, sambil menepuk-nepukkan pentungan polisinya ke telapak tangan, “Ayo, tanya lagi Bu, barangkali ada barang-barang lain yang dia curi?”
“Hati-hati Pak, tenang saja dulu,” kata Pak Sukmana. “Pengakuannya tentang pisang goreng disampaikan dengan tulus ikhlas. Sejak kemarin dia juga tidak melawan. Jangan sampai kita bertindak ekstrim dan gegabah, sampai kita mengerti kejadian yang sebenarnya. Kalau ada yang tahu kita menganiaya binatang, bisa-bisa kita yang kena masalah.”
“Kenapa kamu mencuri ID Card saya?” tanya Widya lembut.
“Kenapa? Memang itu pekerjaan saya kok,” jawab monyet itu. “Saya ini monyet yang mengambil nama manusia. Itu adalah penyakit yang saya derita sejak lama…”
“Semacam kecemburuan?”
“Ya, seperti itulah. Jadi, ketika mata saya melihat suatu nama, tiba-tiba saya merasa pusing dan frustasi. Tapi bukan sembarang nama, ya, cuma nama-nama tertentu yang menarik perhatian saya saja.”
“Jadi, kamu juga yang mengambil ID Card milik Dewi?” pancing Bu Maya.
“Benar sekali. Dia itu gadis yang cantik sekali. Terus terang, saya terkagum-kagum melihat kecantikan Nikita Dewi. Saya belum pernah setertarik itu pada seorang manusia dalam sepanjang hidup saya. Karena itu, kalaupun saya pasti gagal memilikinya, paling tidak saya bisa memiliki namanya. Tapi sayang, sebelum saya berhasil mencuri namanya, Dewi terlanjur mati lebih dulu.”
“Berarti ada hubungan antara kematian Dewi dengan kehilangan ID Card miliknya?”
“Ah, jangan menuduh yang bukan-bukan,” kata monyet itu sambil menggeleng kepalanya penuh empati. “Saya tidak melakukan apapun pada Dewi. Dia hanya dikuasai oleh kegelapan yang berasal dari dalam dirinya sendiri.”
“Apakah ada hubungannya dengan Corona dan Covid-19 akhir-akhir ini?”
“Saya kira tidak.”
“Tapi bagaimana kamu bisa tahu, selama ini ID Card milik Dewi ada di tangan saya?” tanya Widya dengan mata berkaca-kaca.
“Butuh waktu lama untuk menyadarinya. Segera setelah Nikita Dewi mati, saya berniat mengambil ID Card dari asrama di pesantrennya, tapi saat itu tidak berhasil saya temukan. Selama berhari-hari saya mencari ke sana kemari, tapi tidak juga ketemu. Waktu itu, sama sekali nggak kepikiran kalau Dewi bakal menitipkan ID Card itu di tangan Ibu.”
“Memang nggak,” kata Widya berbohong.
Monyet itu tak menghiraukan Widya yang mengelak, terus saja dia bicara, “Suatu hari saya mendapat inspirasi kalau Dewi menitipkannya pada Ibu. Meskipun, menyelidiki keberadaan Ibu memang lama dan melelahkan sekali. Hingga kira-kira di bulan Maret lalu, akhirnya saya tahu kalau Ibu sudah menikah dengan Malik Panjaitan, seorang politisi kelahiran Medan. Jadi, saat ini nama Ibu adalah Widya Panjaitan, lalu Ibu tinggal bersama suami di Desa Karang Asem, Kota Cilegon.”
“Tapi kenapa ID Card saya kamu curi juga? Kenapa nggak cuma ambil milik Dewi saja? Tahu nggak, saya begitu menderita karena kelakuan kamu itu.”
“Saya benar-benar menyesal, Bu,” kata monyet menundukkan kepala karena rasa malu. “Sudah saya bilang, ketika saya melihat nama yang saya suka, selalu saja saya mengambilnya. Yah, memang kelakuan ini memalukan sekali, seperti penyakit yang membuat orang ketagihan. Kalau Ibu ingin tahu, saya ini tidak bisa dengan mudah menahan nafsu menggebu-gebu yang muncul sesuka hati. Meskipun saya sadar, itu salah, tapi tetap saja saya melakukannya. Saya kurang tahu, apakah sifat semacam itu ada pada manusia? Karena itu, saya benar-benar minta maaf atas segala kekhilafan yang menimbulkan masalah yang dihadapi Ibu. Bagaimanapun, semuanya itu bersumber akibat ulah perbuatan saya pribadi.”
Bu Maya mendekati Widya, lalu katanya berbisik, “Monyet ini bersembunyi di sekitar pipa-pipa yang ada di gorong-gorong di daerah Tangerang Selatan. Jadi, saya minta suami saya mengerahkan anak-anak buahnya agar segera menangkapnya.”
“Mastari yang paling banyak berkontribusi,” ujar Pak Sukmana.
“Dinas PU memang harus selalu siaga mengawasi saluran-saluran pembuangan kita dari makhluk-makhluk seperti ini,” kata Mastari bangga. “Dan rupanya, monyet ini punya markas di bawah gorong-gorong bawah tanah di daerah Ciputat untuk menjalankan operasinya di seluruh wilayah Tangerang, Banten dan sekitarnya.”
“Kalian pikir ada tempat bagi kami di kota ini?” tanya si monyet, “sekarang pepohonan tinggal sedikit, juga nyaris tak ada tempat berteduh ketika matahari sedang panas-panasnya. Kalau kami keluar ke permukaan, orang-orang akan memburu kami. Saya sudah paham karakter masyarakat yang intoleran. Saya sudah baca berulang-ulang novel Perasaan Orang Banten yang mencerminkan kebanyakan orang Indonesia itu. Boleh jadi, anak-anak juga akan melempari kami, orang tua mereka menembaki kami dengan senapan. Anjing-anjing juga mengejar-ngejar kami. Lalu, kru stasiun televisi, media massa luring dan daring, tiba-tiba muncul entah dari mana, menyorot kami dengan lampu-lampu yang menyilaukan. Jadi, yah, mau tidak mau kami sembunyi di gorong-gorong bawah tanah.”
“Bu, bagaimana Ibu bisa tahu monyet ini sembunyi di gorong-gorong bawah tanah? Apakah dia dan teman-temannya terlibat dalam kasus kematian enam pekerja PLN yang mati di gorong-gorong itu?” tanya Widya pada Bu Maya.
“Ah, saya kira tak ada hubungan sama sekali. Tapi pada prinsipnya, banyak hal yang akhirnya menjadi jelas dalam penglihatan saya,” ujar Bu Maya. “Bisa dibilang ini seperti kabut yang mulai tersingkap. Saya sadar pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan pencurian nama. Dan apapun bentuknya pasti bersembunyi di bawah tanah. Jadi, saya bilang ke suami saya kalau ada sesuatu yang aneh dan misterius bersembunyi di sekitar gorong-gorong saluran, kemudian saya minta dia untuk memeriksanya. Lalu, benar saja kan? Dalam beberapa hari, dia berhasil membawa monyet itu.”
Widya terdiam dengan mata berkaca-kaca. Kemudian, katanya penasaran, “Tapi, bagaimana mungkin hanya mendengar omongan saya, Ibu Maya paham dengan hal-hal aneh semacam ini?”
“Begini, Bu,” suaminya menjelaskan panjang-lebar, “Sepertinya bukan kapasitas saya untuk menerangkan. Tapi perlu saya tegaskan bahwa istri saya ini memang punya keahlian tersendiri, semacam indera keenam, supranatural atau apalah namanya…. Jadi, selama dua puluh tahun kami bersama, saya sering melihat kejadian-kejadian aneh di Banten dan sekitarnya, yang menimbulkan tanda-tanya. Makanya saya benar-benar mengusahakan supaya istri saya bisa membuka pusat konseling di provinsi ini, dan difasilitasi oleh Pemprov. Saya yakin, selama dia diberi tempat agar bisa memanfaatkan talenta dan keahlian yang dimilikinya, untuk kemaslahatan umat, saya kira kita semua akan menuai dan memetik hikmahnya.”
“Demi kejayaan dan keunggulan Provinsi Banten,” tegas Mastari.
“Seluruh Indonesia, tentunya.”
“Betul.”
“Ya, demi terciptanya manusia-manusia unggul di era milenial ini,” tambah Pak Sukmana.
***
“Lalu, bagaimana nasib monyet ini selanjutnya?” kata Bu Maya kemudian.
“Jangan dibiarkan hidup,” celetuk Mastari sambil lalu. “Apapun yang dia omongkan saya tidak bakal percaya. Sebab, yang namanya kebiasaan buruk, suatu saat pasti akan kembali lagi. Jangan percaya pada janji dia akan berubah. Sekali saja dia begini, maka ke depannya…”
“Tenang dulu,” potong Pak Sukmana. “Apapun alasan kita, kalau sampai kelompok pecinta binatang seperti Sanpala tahu kita membunuh seekor monyet, kita tak bakal bisa berkelit. Apalagi kalau orang-orang mulai komplain, semua bisa menjadi kacau balau.”
“Tolong jangan bunuh saya,” kata monyet yang malang, “Yang saya perbuat memang salah. Saya tidak menyangkalnya, tapi beberapa hal baik juga bersumber dari perbuatan kami.”
“Hal baik macam apa yang mungkin dihasilkan dari mencuri nama orang?” tanya Mastari dengan suara melengking.
“Saya memang mencuri nama orang. Tapi, dengan melakukannya, secara tak langsung saya telah membuang beberapa elemen negatif yang menempel pada orang tersebut. Jadi, kalau sejak dulu saya berhasil mencuri ID Card Nikita Dewi, bisa jadi sekarang dia masih hidup.”
“Maksudmu?” tanya Widya kaget.
“Kalau saya mengambil namanya, barangkali saya bisa sekalian mengambil unsur kegelapan yang mengendap dalam dirinya,” jawab si monyet.
“Jangan ngaco kamu, Nyet!” bentak Mastari. “Saya nggak percaya. Nyawa monyet ini sudah di ujung tanduk. Dia akan melakukan berbagai macam cara untuk membenarkan kelakuannya.”
“Hmm. Mungkin ya, mungkin juga tidak,” ujar Bu Maya sambil melipat kedua tangannya. Ia menoleh ke arah monyet, “Tapi, boleh jadi ada benarnya.”
Semuanya terdiam, lalu Widya bertanya memecah kesunyian, “Emangnya kamu tahu, hal buruk yang dibawa oleh nama saya?”
“Wah, saya tidak bakal menyampaikan itu?”
“Kenapa? Coba, beri tahu saja,” tantang Widya, “Kalau kamu menjawab pertanyaan saya, saya akan memaafkan kamu. Dan saya akan meminta semua yang ada di sini supaya memaafkan kamu.”
Baca Juga: APBD Banten 2022 Tembus Rp12,73 Triliun, Ini Rinciannya
“Benar, apa yang Ibu katakan?”
“Kalau monyet ini berkata jujur, maukah Bapak-bapak memaafkan dia?” Widya bertanya pada Pak Sukmana dan Mastari. “Secara alamiah, dia bukan binatang jahat. Hanya saja, menurut saya, dia dalam posisi yang menderita. Jadi, kita sudah dengar pengakuannya. Menurut saya, sebaiknya kita lepas dia ke hutan Solear dan membebaskannya bersama teman-teman lainnya. Bagaimana?”
Pak Sukmana berbalik ke arah monyet, “Saya sih setuju-setuju aja, kalau kamu sendiri tidak keberatan,” kata Pak Sukmana. “Tapi kalau kami lepas di hutan Solear, kamu berani sumpah tidak akan berkerumun lagi bersama teman-teman lainnya di perbatasan kota?”
“Siap, Pak! Saya berjanji tidak bakal berkerumun lagi,“ ujar si monyet, “Saya juga berjanji tidak akan membuat onar lagi.”
“Jadi sekarang, lebih baik kamu ceritakan unsur negatif yang menempel pada nama saya, dengan jujur dan apa adanya,” pinta Widya, tatapanya menusuk tajam ke mata monyet yang mungil kemerahan itu.
“Kalau saya sampaikan, saya khawatir Ibu akan terluka.”
“Nggak mungkin! Ayo, katakan terus terang.”
“Apa adanya?”
“Apa adanya.”
Untuk beberapa saat, si monyet berpikir keras hingga timbul garis-garis kerutan yang melintang pada dahinya. “Setelah dipikir-pikir, sebaiknya Ibu tak usah mendengarnya…”
“Sudah saya bilang nggak apa-apa, ayo katakan!”
“Oke, kalau begitu,” kata monyet. “Ibumu tidak menyayangimu. Bisa dibilang, dia nggak menyayangimu ketimbang anak-anak lainnya, bahkan sejak kamu lahir dari rahimnya sendiri. Saya tidak tahu kenapa, tapi memang begitu kenyataannya. Kakak perempuanmu juga dari dulu benci kepadamu. Sebagai wanita kelahiran Banten yang temperamental, Ibu Widya sengaja dikirim ke pesantren, hanya karena dia tak ingin melihat rupa wajahmu berkeliaran di bawah atap yang sama. Sebisa mungkin, dia ingin membuangmu sejauh-jauhnya. Sebenarnya, kalau boleh jujur, ayahmu bukanlah orang jahat, tapi dia bersikap dingin dan bukan tipe ayah yang diandalkan. Dia seorang pedagang yang pemarah dan temperamental juga, tetapi dia tidak cukup tegas untuk berdiri membelamu. Karena alasan-alasan ini, sedari kecil kamu tidak pernah memperoleh kasih sayang yang cukup. Saya pikir, mestinya kamu sudah punya firasat soal ini sejak lama, tapi kamu terlanjur sengaja memalingkan matamu dari kepahitan ini. Jiwamu melakukan penyangkalan dalam soal ini, begitu lamanya. Kamu juga telah mengunci seluruh kenyataan pahit ini di relung hatimu, serta tak pernah mau berterus-terang membuka apa adanya. Kamu selalu berusaha menekan perasaan negatif yang seketika muncul begitu saja. Seribu satu alasan klise yang selalu kamu persiapkan untuk pasang ancang-ancang guna menampik hal-hal semacam ini, juga sudah menjadi bagian dari watak dan kepribadianmu…”
“Cukup, cukup!” kata Bu Maya. Konselor itu merasa khawatir, sambil menatap wajah Widya dan membaca reaksinya.
“Bagaimana?” kata si monyet. “Apakah mau saya lanjutkan?”
“Cukup,” kata Widya sambil menunduk kaku.
“Pernikahanmu terlihat bahagia dan bebas dari masalah,” lanjut si monyet, “tapi kamu tak pernah benar-benar mencintai suamimu, kan? Bahkan, kalau suatu saat kamu punya anak nanti, saya pikir keadaannya akan tetap tak akan…”
“Sudah, cukup!” bentak Bu Maya.
Widya diam membisu. Tiba-tiba ia tersungkur jatuh ke tanah. Ia merasakan seluruh anggota tubuhnya saling terpisah satu sama lain. Ia merasa organ-organ tubuhnya tercerai-berai, tulang-belulangnya remuk-redam. Satu-satunya yang masih ia dengar hanya nafasnya sendiri.
“Bangsat kamu, binatang jalang!” teriak Mastari senewen. “Sudahlah, Bos, saya sudah muak mendengar omongan binatang ini, lebih baik kita habisi saja sekarang!”
“Tahan dulu,” kata Widya sambil pelan-pelan bangkit. “Kata-kata monyet ini memang benar. Sebenarnya saya sudah sadar sejak lama, tapi saya sendiri selalu berusaha menutup mata, telinga dan hati saya. Dia mengatakan yang sejujurnya, jadi tolong, maafkan dia. Bawa dia ke hutan Solear, dan biarkan dia bebas bersama kawan-kawannya di sana.”
Bu Maya dengan lembut menaruh tangannya di atas pundak Widya. “Benar, Ibu baik-baik saja?”
“Saya tidak apa-apa. Yang penting nama saya kembali. Mulai sekarang, saya akan menjalani hidup apa adanya. Biar bagaimanapun, ini nama saya, dan ini adalah hidup saya.”
***
Sewaktu Widya mengucap salam perpisahan kepada monyet itu, ia memberikan ID Card milik Nikita Dewi sebagai kenang-kenangan. “Jaga baik-baik namanya. Dan jangan pernah mencuri nama orang lain lagi, mengerti?”
“Iya Bu, saya janji, saya tidak akan mencuri lagi,” kata monyet itu dengan raut serius.
“Ngomong-ngomong, kamu tahu motivasi Dewi menitipkan ID Card miliknya kepada saya? Kenapa dia memilih saya?”
“Nggak tahu,” kata monyet menggeleng. “Saya sendiri sempat bertanya-tanya, tapi bagaimanapun, karena titipan itu, saya dan Ibu akhirnya bisa saling ketemu kan? Itulah karenanya, takdir selalu bergerak dengan cara-cara yang misterius….”
“Ya, mungkin saja,” balas Widya.
“Tapi, benarkah apa yang tadi saya sampaikan menyakiti hati Ibu Widya?”
“Menurutmu?”
“Kalau menyakiti Ibu, maafkan saya. Sebenarnya, saya tak berniat menyampaikannya pada Ibu.”
“Ya sudah, nggak apa-apa. Bagaimanapun, hal-hal yang tadi dikemukakan akan membantu saya untuk menghadapi masa depan yang lebih baik.”
Setelah menyampaikan kata perpisahan dengan monyet itu, Bu Maya mendekati Widya, dan katanya kemudian, “Jadi, sekarang bagaimana? Apa lagi yang akan kita bahas pada pertemuan minggu depan?”
Bu Maya berjalan berdampingan dengan Widya, menuju tempat konseling, “Masih punya masalah yang perlu didiskusikan?”
Widya menggelengkan kepalanya. “Saya kira cukup. Terima kasih banyak, berkat usaha Ibu, suami dan tim kerja, masalah saya sudah terselesaikan.”
“Ibu tak merasa perlu mendiskusikan ucapan monyet tadi?”
“Tidak usah, karena seharusnya saya bisa menanganinya sendiri. Saya akan coba menafsirkan kata-katanya, hingga sanggup mengadakan introspeksi dan bercermin diri.”
Bu Maya mengangguk. “Kalau memang Ibu mau memikirkannya,” katanya, “saya yakin ke depannya hal ini akan sangat membantu dalam perjalanan hidup Ibu.”
..
(Supadilah Iskandar, Penikmat sastra Indonesia, pengajar sastra di pedalaman Banten Selatan)



















