BANTENRAYA.COM – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten merespons rencana mogok berjualan sejumlah pedagang daging sapi yang dipicu kenaikan harga.
Pemerintah daerah menilai langkah tersebut berpotensi memperparah kondisi pasar dan justru memicu kelangkaan di tingkat konsumen.
Kepala Disperindag Provinsi Banten, Iwan Hermawan, mengatakan kenaikan harga daging sapi tidak hanya terjadi di Banten, melainkan bersifat nasional.
BACA JUGA: Akses Menuju Wisata Baduy Rusak Parah, Mengancam Keselamatan Pengendara
Menurutnya, kondisi itu erat kaitannya dengan faktor impor sapi yang masih bergantung pada pasar luar negeri.
“Ini nasional, bukan hanya di Banten. Kita tahu sebagian besar sapi itu masih impor dari Australia, dan saat ini nilai dolar Australia sedang tinggi, sekitar Rp14.700. Mau tidak mau itu berpengaruh ke harga di dalam negeri,” ujar Iwan, Senin, (26/1/2026).
Ia menjelaskan, di tengah kondisi tersebut, Disperindag memilih melakukan pendekatan persuasif kepada asosiasi pedagang agar aktivitas penjualan tetap berjalan.
Pasalnya, apabila pedagang berhenti berjualan, pasokan di pasar akan semakin terbatas dan berisiko mendorong harga naik lebih tinggi.
“Kita coba mendekati asosiasi pedagang supaya tetap berjualan. Daging sapi ini dibutuhkan masyarakat. Kalau tidak berjualan, justru jadi langka dan harganya bisa naik lagi,” katanya.
Iwan mengakui, kewenangan terkait kebijakan impor berada di pemerintah pusat, khususnya Kementerian Perdagangan.
Kendati demikian, Pemprov Banten tetap melakukan koordinasi dan menyampaikan berbagai masukan terkait dampak kenaikan harga di daerah, terutama menjelang momentum kebutuhan tinggi.
Selain itu, Disperindag juga melakukan upaya pengendalian di tingkat daerah melalui penguatan distribusi dan pemantauan ketersediaan barang.
Koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota serta pengelola pasar terus dilakukan untuk memastikan pasokan daging sapi tetap tersedia.
“Kita koordinasi dengan kabupaten/kota, pengelola pasar, dan asosiasi. Intinya bagaimana distribusi tetap berjalan supaya stok aman dan tidak terjadi kepanikan di masyarakat,” jelasnya.
Menurut Iwan, meski harga daging saat ini relatif tinggi, aktivitas jual beli tetap menjadi kunci menjaga stabilitas pasar.
Dengan pedagang tetap berjualan, pemerintah berharap fluktuasi harga tidak semakin tajam dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
“Walaupun harganya mahal, kalau tetap berjualan, harganya masih bisa lebih terkendali. Yang penting tidak langka. Itu yang kita harapkan bisa dipahami oleh para pedagang,” pungkas Iwan. ***

















