BANTENRAYA.COM – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi kembali memberikan komentar kritis terhadap program penanaman satu juta pohon yang dilakukan Pemkot Cilegon.
Menurut Walhi, program tersebut akan menjadi paradoks jika aktivitas pertambangan masih secara ugal-ugalan dilakukan.
Staf Program Walhi Jakarta Cholis mengungkapkan, upaya penanaman pohon tersebut baik untuk jangka panjang.
Namun, hal itu tidak akan berefek dan menjadi paradoks jika deforestasi berupa penambangan masih terus dilakukan.
“Sekali lagi kami katakan penanaman pohon itu baik untuk jangka panjang. Namun, banyak hal yang perlu diperhatikan, selagi tidak menyentuh akar masalahnya jadi paradoks juga,” ungkapnya, Senin 19 Januari 2026.
Cholis menyatakan, dalam penanaman pohon juga harus memperhatikan landskap ekosistem sebelumnya, terutama pohon endemik yang sebelumnya ada menjadi fungsi ekologis setempat.
“Selama alih fungsi lahan masih dilanggengkan, penanaman pohon hanya sebatas solusi tambal sulam saja. Harusnya, pemulihan kawasan itu dibarengi juga dengan tindakan pencegahan kerusakan lainnya,” ujarnya.
Cholis menegaskan, persoalan tambang yang merusak resapan air di hulu, bukan soal administrasi yang ilegal diminta mengurus izin.
Namun, harusnya ada sanksi pidana jika harus menghitung kerugian yang ditimbulkan.
BACA JUGA: Wagub Banten Tegaskan Tak Ada Ruang bagi Tambang Ilegal
“Poinnya di kerusakan ekologisnya bukan administrasi. Kita masyarakat masih menunggu kesimpulan dari pemerintah yang menjadi faktor utama penyebab banjir ini terjadi dan langkah konkret sebagai bentuk mitigasi bencana ke depan,” pungkasnya.***















