BANTENRAYA.COM – Perdebatan soal keaslian ijazah Presiden Joko Widodo menjadi salah satu isu politik yang belakangan ini paling banyak menarik perhatian masyarakat.
Kontroversi ini tidak hanya mempertanyakan dokumen pendidikan seorang pemimpin negara, tetapi juga menunjukkan bagaimana isu pribadi bisa berkembang menjadi permasalahan publik yang rumit, yang melibatkan berbagai aspek seperti politik, sosial, hingga demokrasi.
Isu ini muncul karena munculnya kritik dari sejumlah pihak terhadap validitas ijazah yang digunakan oleh Jokowi saat mendaftar sebagai calon presiden.
Hal ini memicu serangan dari tokoh dan kelompok politik tertentu, sementara pihak pendukung Jokowi menganggapnya sebagai upaya untuk merusak citranya.
BACA JUGA: Pendaftaran Indomaret Run 2025 Dibuka Besok, Ada 5K Hingga Half Marathon dengan Rute PIK 2
Isu ini tidak hanya berkembang dalam jumlah yang semakin intens di ruang publik, terutama melalui media sosial, tetapi juga menimbulkan berbagai dampak nyata bagi masyarakat.
Beberapa pihak menilai isu ijazah Jokowi hanya merupakan bentuk serangan politik yang tidak didasari. Pemerintah dan pihak kampus telah berulang kali menegaskan keaslian dokumen pendidikan tersebut.
Namun, sebagian masyarakat yang terpapar narasi di media sosial masih meragukan hal tersebut, sehingga isu ini tidak hanya bersifat politik.
Dampak Debat Ijazah Jokowi
Polarisasi Sosial dan Politik :
Dampak pertama yang paling menonjol adalah terjadinya polarisasi masyarakat. Masyarakat terbagi menjadi dua kelompok: ada yang percaya isu ijazah adalah skandal besar, sementara ada pula yang menganggap hal itu hanyalah fitnah politik.
BACA JUGA: Leony Vitria Keluhkan Pajak Waris Rumah Orang Tua, Pemkot Tangsel Janjikan Fasilitasi
Menurunnya Kepercayaan Publik terhadap Institusi :
Polemik ijazah juga menimbulkan dampak serius terhadap kepercayaan publik terhadap institusi negara, khususnya lembaga pendidikan tinggi dan lembaga hukum.
Jika keaslian dokumen seorang presiden masih dipertanyakan, wajar jika masyarakat mulai meragukan kredibilitas sistem verifikasi akademik. Universitas yang disebut sebagai penerbit ijazah ikut terlibat dalam kontroversi.
Sebagian publik menuntut transparansi penuh, sedangkan pihak kampus merasa reputasinya terganggu.
Media Sosial: Arena Pertarungan Narasi
Dalam dunia pemasaran. Platform seperti Twitter, Facebook, hingga TikTok menjadi tempat perdebatan opini, di mana pro dan kontra saling menguatkan narasi masing-masing pihak. Namun, perdebatan seringkali diselimuti oleh disinformasi serta ujaran yang tidak benar. Kritik sering dianggap sebagai kebencian terhadap pemerintah, sedangkan pembelaan dianggap sebagai kepatuhan buta. Hal ini sejalan dengan konsep nasionalisme yang banal yang sering muncul dalam politik Indonesia, di mana seruan cinta tanah air atau pembelaan terhadap pemimpin sering kali menutup ruang untuk diskusi kritis.
Populisme dan Manipulasi Politik :
Peran media sosial tidak terpisahkan dari isu ijazah Jokowi yang juga menjadi bahan bakar populisme politik. Bagi sebagian politisi, membangun isu ini adalah cara mudah untuk menarik dukungan publik, terutama mereka yang sudah lama merasa tidak puas dengan pemerintahan.
Suburnya Hoaks dan Disinformasi :
Selain masalah polarisasi, kontroversi ijazah juga menunjukkan betapa mudahnya hoaks menyebar di masyarakat. Potongan video, foto, atau narasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan beredar luas dan dianggap benar oleh sebagian orang.
Peran Media Massa dan Akademisi
Di tengah situasi ini, media massa seharusnya hadir sebagai penyampai informasi yang objektif. Namun, praktiknya tidak selalu demikian. Beberapa media memilih menekankan sisi sensasional dari isu ijazah untuk menarik perhatian pembaca, sementara yang lain cenderung membela pemerintah. Akibatnya, masyarakat kesulitan mendapatkan informasi yang benar-benar utuh.
BACA JUGA: DPRD Banten Buat Aturan Baru, Industri Wajib Bayar Dampak Lingkungan
Akademisi juga memiliki peran penting dalam mengedukasi publik. Dengan pendekatan berbasis riset, akademisi dapat memposisikan isu tersebut dalam kerangka yang lebih luas, yakni bagaimana menjaga kualitas demokrasi, membangun nasionalisme kritis, serta memastikan transparansi lembaga negara.
Jalan keluar dari dampak polemik ini meliputi beberapa langkah strategis :
1. Transparansi Pemerintah dan Institusi
Pemerintah bersama kampus yang terkait diminta untuk memberikan penjelasan yang jelas dan konsisten. Dokumen administratif yang terbuka akan membantu mengakhiri perdebatan dan memulihkan kepercayaan masyarakat.
2. Penguatan Literasi Digital Masyarakat
Edukasi publik mengenai penting untuk memverifikasi informasi dan mengenali hoaks. Dengan literasi digital yang baik, masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum terbukti kebenarannya.
3. Peran Media Massa yang Proporsional
Media diharapkan tidak memperburuk situasi dengan mengemukakan cerita yang berlebihan. Sebaliknya, media harus lebih berfokus memberikan informasi yang benar, melakukan pengecekan fakta, dan menjaga kualitas ruang publik digital.
BACA JUGA: Jual Dress Kekinian Anti Angin, TikToker Ini Viral Gegara Pasang Harga Hampir Rp1 Miliar
4. Membangun Nasionalisme Kritis
Pengamat mengingatkan pentingnya nasionalisme yang bijak. Cinta pada tanah air tidak berarti hanya membela tanpa dasar, tetapi juga berani meminta transparansi dan tanggung jawab dari para pemimpin dalam sistem demokrasi.
Jika dikelola dengan transparansi dan sikap kritis, perdebatan ini sebenarnya bisa menjadi momentum untuk memperkuat akuntabilitas demokrasi.
Populasi bukan hanya tentang jumlah yang menutup mata terhadap kelemahan, melainkan berani menuntut perbaikan demi masa depan bangsa.
Dengan demikian, demokrasi tidak berhenti pada formalitas, tetapi benar-benar menjadi sarana memperjuangkan kepentingan rakyat.
Penulis adalah Mahasiswa Semester 1, Pengantar Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Komunikasi , FISIP Untirta




















