Kamis, 12 Maret 2026
Banten Raya
  • Daerah
  • NasionalNew
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal
No Result
View All Result
Banten Raya
  • Daerah
  • NasionalNew
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal
Kamis, 12 Maret 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Banten Raya
  • Daerah
  • Nasional
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal

Algoritma, Buruh, dan Ketimpangan Baru

Administrator Oleh: Administrator
23 September 2025 | 17:12
Manufaktur Fauwzi

Mahasiswa Semester 1 FISIP UNTIRTA memberi pandangannya Muhamad Fauwzi Ramadhan soal algoritma dan ketimpangan baru

Bagikan Ke WhatsAppBagikan Ke FacebookBagikan Ke TwitterBagikan Ke Telegram

oleh Muhamad Fauwzi Ramadhan

Reformulasi Politik: Gelombang Perubahan yang Tak Terhindarkan

Bayangkan sebuah pabrik yang dulunya menjadi simbol relasi industrial antara pekerja dan negara, penuh dinamika sosial dan peran politik serikat buruh. Kini, ruang tersebut dikuasai oleh algoritma dan lengan-lengan robot yang bekerja tanpa intervensi manusia, diawasi oleh segelintir operator teknis. Transformasi ini bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan gejala politis dari Revolusi Industri 4.0 yang mereposisi kekuasaan produksi dari tenaga kerja manusia ke entitas digital dan otomatis.

Teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI), robotika, dan Robotic Process Automation (RPA) tidak hanya mengubah lanskap ekonomi, tetapi juga mendefinisikan ulang kontrak sosial antara negara, pasar, dan warga negara. Pekerjaan yang paling terdampak adalah yang bersifat rutin dan berbasis aturan, jenis pekerjaan yang selama ini menopang stabilitas ekonomi politik di sektor informal dan berpenghasilan rendah seperti manufaktur, ritel, dan administrasi.

ADVERTISEMENT

Dalam kerangka ini, seperti yang dinyatakan oleh Sinha (2024), otomatisasi merupakan kekuatan disruptif yang bukan hanya bersifat teknologis, tetapi juga politis, dengan kapasitas untuk meredefinisi struktur kekuasaan dan legitimasi sistem ketenagakerjaan global dalam dua dekade mendatang.

Wajah Ancaman di Tiga Sektor Utama:

1.  Sektor Manufaktur: Lengan Robot di Lini Produksi

Sektor manufaktur, yang selama ini menjadi fondasi kekuatan ekonomi dan daya tawar negara berkembang dalam tatanan ekonomi global, kini menghadapi ancaman sistemik akibat percepatan otomatisasi. Peran buruh manual secara bertahap digantikan oleh robot industri untuk proses seperti perakitan, pengelasan, hingga pengemasan. Bahkan, kendaraan otomatis (AGVs) kini mengambil alih fungsi distribusi internal yang dulunya dijalankan oleh pekerja logistik.

Menurut Oxford Economics (2019) bahwa hingga 20 juta pekerjaan manufaktur dapat hilang secara global pada tahun 2030. Ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga politik, khususnya bagi negara-negara berkembang seperti Bangladesh yang struktur industrinya sangat bergantung pada upah murah sebagai daya saing global. Studi Bashar et al. (2024) menegaskan bahwa otomatisasi tidak sekadar menggantikan pekerja manusia, namun berpotensi merobohkan arsitektur ketergantungan global yang selama ini menopang relasi antara pusat (negara industri maju) dan pinggiran (negara penghasil tenaga kerja murah).

Dalam perspektif geopolitik ekonomi, pernyataan Bashar (2024) bahwa

“otomasi mengancam rantai pasok global berbasis upah murah”

Menyoroti adanya pergeseran kekuasaan dari buruh sebagai aktor politik ke dalam kendali teknologi yang dimiliki korporasi multinasional. Ini menuntut negara-negara berkembang untuk merumuskan ulang strategi industrialisasi agar tidak terjebak dalam ketergantungan teknologi dan kerentanan sosial-ekonomi yang berkepanjangan. (Bashar et al., 2024)

2.  Sektor Retail: Toko Tanpa Kasir dan Gudang Otomatis

Transformasi sektor retail melalui teknologi seperti self-checkout, toko otomatis ala Amazon Go, hingga robotisasi gudang bukan hanya merevolusi pola konsumsi, melainkan juga memperdalam ketimpangan relasi kekuasaan antara korporasi dan pekerja. Pekerjaan-pekerjaan seperti kasir, penjaga rak, dan staf logistik yang sebelumnya menjadi tulang punggung ketahanan ekonomi lokal, kini terancam oleh algoritma dan mesin yang tak mengenal jam kerja.

Data dari Bureau of Labor Statistics (2023) menunjukkan penurunan signifikan dalam proyeksi pertumbuhan pekerjaan kasir di Amerika Serikat, indikasi konkret dari perubahan struktural yang sedang berlangsung. Namun lebih dari itu, studi oleh Rolf & Hunt (2022) mengungkap bahwa otomatisasi di sektor retail tak hanya soal efisiensi, tetapi juga instrumen baru untuk memperluas kontrol manajerial terhadap tubuh dan waktu pekerja.

Dalam perspektif ilmu politik, ini menandakan munculnya bentuk baru surveillance capitalism, di mana teknologi tidak hanya menggantikan manusia, tetapi juga memodulasi perilaku pekerja yang tersisa melalui algoritma, target KPI otomatis, dan sistem pelaporan berbasis data. Ketidakamanan kerja yang diciptakan bukan lagi konsekuensi pasif, tetapi strategi aktif yang memperlemah posisi tawar kolektif buruh dalam negosiasi upah, jam kerja, dan jaminan sosial. Dengan demikian, otomatisasi retail tidak netral, ia adalah bentuk politik ketenagakerjaan yang memperkuat dominasi kapital dalam ruang kerja digital.

3. Sektor Administrasi: Algoritma yang Menggeser Admin

Di tengah gelombang digitalisasi, sektor administrasi turut mengalami pergeseran mendalam akibat adopsi teknologi seperti Robotic Process Automation (RPA). Proses-proses yang dulunya dilakukan oleh pegawai administrasi; mulai dari input data, pengolahan invoice, hingga layanan pelanggan, kini dijalankan oleh algoritma dan chatbot, yang bekerja tanpa interupsi dan tanpa hak-hak ketenagakerjaan.

Willcocks (2020) menyebut RPA sebagai

“salah satu teknologi paling cepat menggeser pekerjaan white-collar dasar.”

Posisi seperti data entry clerk, resepsionis, dan akuntan junior menjadi semakin rentan. (Willcocks, 2020. Journal of Information Technology)

Ketika negara dan sektor swasta secara bersamaan mengalgoritmiskan tugas-tugas administratif, bukan hanya efisiensi yang dicapai, tetapi juga terjadi pergeseran dalam legitimasi pelayanan publik. Keterputusan antara warga dan representasi manusiawi dalam layanan negara menciptakan jurang kepercayaan yang dapat menggerus legitimasi demokratis, apalagi bila disertai dengan hilangnya jaminan kerja bagi kelas administratif yang selama ini menjadi basis loyalitas birokrasi. Ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan pergeseran mendalam dalam struktur kekuasaan administrasi modern.

Mengapa Pekerjaan Ini Sangat Rentan?

Semakin terstandar dan repetitif sebuah pekerjaan, semakin besar kemungkinan pekerjaan itu untuk diotomatisasi menurut Holzer (2022)

Karakteristik pekerjaan yang mudah terotomatisasi:

  • Rutin dan Repetitif → seperti penginputan data atau pengemasan barang.
  • Rule-based → keputusan hanya berdasarkan SOP tanpa pertimbangan kognitif kompleks.
  • Kebutuhan Ketelitian Tinggi → lebih cocok dilakukan oleh robot daripada manusia.

Keunggulan mesin: 24/7 uptime, tidak minta gaji, akurasi tinggi, dan tidak menuntut cuti sakit.

BACAJUGA:

Android

Perkembangan Versi Android dan Keamanan Smartphone

20 Februari 2026 | 14:08
komputer

Pentingnya Belajar Komputer Sejak Dini untuk Menyiapkan Generasi Unggul di Era Digital

18 Februari 2026 | 13:29
wemos

Mikrokontroler Wemos dan Sensor Suhu DHT22 Sebagai Alat untuk Mengontrol dan Memonitoring Suhu Ruangan Berbasis Internet of Things

10 Februari 2026 | 06:30
sistem tertanam

Software dan Hardware pada Sistem Tertanam

10 Februari 2026 | 06:00

Adapun Dampak Sosial yang Lebih Luas

Polarisasi Tenaga Kerja

Fenomena hollowing out of the middle menggambarkan krisis struktural dalam pasar tenaga kerja yang berdampak langsung pada konfigurasi kelas sosial-politik. Ketika lapangan pekerjaan tingkat menengah menyusut, dan hanya menyisakan ekspansi pada sektor keterampilan tinggi dan pekerjaan kasar berupah rendah, maka kelas menengah, yang secara historis menjadi basis kestabilan politik dan partisipasi demokratis, terancam kehilangan peran strategisnya. Ini bukan hanya transformasi ekonomi, tetapi juga delegitimasi diam-diam terhadap sistem representasi sosial yang selama ini menopang demokrasi elektoral dan kebijakan inklusif.

Di saat yang sama, pergeseran buruh manufaktur ke sektor informal memperburuk kompetisi, menurunkan upah, dan memperlebar jurang keterampilan. Kegagalan institusi pendidikan dan pelatihan nasional dalam menjembatani kesenjangan ini memunculkan risiko politis: munculnya populisme kelas bawah, alienasi politik, hingga ketidakpercayaan terhadap negara. Oleh karena itu, investasi dalam pelatihan ulang dan kebijakan redistribusi keterampilan harus dipahami sebagai strategi politik, bukan sekadar program teknokratis, demi menjaga stabilitas sosial dalam era disrupsi digital.

Antisipasi dan Adaptasi: Apakah Semua Suram?

Meskipun gelombang otomatisasi tak terhindarkan, bukan berarti masa depan kerja akan suram. Pemerintah memiliki peran strategis dalam memastikan transisi ini tidak menimbulkan krisis sosial. Reformasi kurikulum nasional perlu menekankan soft skills seperti pemikiran kritis, kreativitas, dan kolaborasi, kemampuan yang sulit digantikan oleh mesin. Selain itu, program reskilling dan upskilling berskala nasional seperti Digital Talent Scholarship dari Kominfo menjadi contoh konkret upaya peningkatan kompetensi digital. Di saat yang sama, jaring pengaman sosial seperti perluasan BPJS Ketenagakerjaan dan tunjangan pengangguran selama masa transisi menjadi vital untuk melindungi pekerja terdampak.

Dari sisi dunia usaha, transisi menuju otomatisasi idealnya dilakukan secara bertanggung jawab, bukan hanya efisiensi biaya, tetapi juga dengan mempertimbangkan masa depan karyawan. Perusahaan dapat mengadopsi pendekatan kolaboratif bersama serikat pekerja untuk menyusun jalur alih profesi, termasuk pelatihan ulang agar pekerja dapat bergeser ke peran yang lebih teknis, seperti operator robot, teknisi sistem, atau analis data. Sementara itu, di tingkat individu, lifelong learning bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk bertahan. Mengembangkan keterampilan yang “manusiawi” seperti empati, komunikasi interpersonal, dan kreativitas, akan menjadi keunggulan utama manusia dalam dunia kerja yang semakin terdigitalisasi.

Inikah Era Memanusiakan Mesin?

Sebagai seorang mahasiswa, otomatisasi membawa efisiensi luar biasa, namun tanpa mitigasi yang tepat, ia juga dapat menciptakan dislokasi sosial yang mendalam. Tantangan kita bukan menghentikan robot, tapi menempatkan manusia di pusat perubahan itu.

Adapula relevansi bacaan yang sangat saya kagumi seperti yang disampaikan oleh Dellot & Wallace-Stephens (2019) dalam The Age of Automation:

“Kita perlu sistem kerja yang tidak hanya produktif, tapi juga adil dan manusiawi.”

Penulis adalah Mahasiswa Semester 1, Pengantar Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP, UNTIRTA ★

Editor: Jermainne Tirta Dewa
Tags: algoritmaBuruhKetimpangan Baru
Previous Post

Event Lari Salonpas Sport 10K, Kategori 5K Cocok First Timer dan Pelajar

Next Post

DPRD Kabupaten Serang Sidak PT Mingyue Green Technology, Diduga Sebarkan Bau Tidak Sedap

Related Posts

Android
Opini

Perkembangan Versi Android dan Keamanan Smartphone

20 Februari 2026 | 14:08
komputer
Opini

Pentingnya Belajar Komputer Sejak Dini untuk Menyiapkan Generasi Unggul di Era Digital

18 Februari 2026 | 13:29
wemos
Opini

Mikrokontroler Wemos dan Sensor Suhu DHT22 Sebagai Alat untuk Mengontrol dan Memonitoring Suhu Ruangan Berbasis Internet of Things

10 Februari 2026 | 06:30
sistem tertanam
Opini

Software dan Hardware pada Sistem Tertanam

10 Februari 2026 | 06:00
konservasi pohon langka
Opini

FPLI Gandeng Lintas Generasi untuk Ikut Aksi Nyata Konservasi Pohon Langka di Gunung Tilu Kuningan Jawa Barat

2 Februari 2026 | 17:32
penyiaran
Opini

Menagih Kembali Revisi UU Penyiaran

27 Januari 2026 | 12:10
Load More

Popular

  • Kasus perselingkuhan suami Maissy

    Dituding Jadi Selingkuhan Suami Maissy, Ibu Cindy Rizap Tegas Sang Anak Kena Tipu Dokter Riky Febriansyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan Bopeng-bopeng, Gubernur Banten Tagih Komitmen Pengelola Tol Tangerang-Merak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Angkanya Terus Meningkat, Pemprov Banten Dinilai Gagal Atasi Kemiskinan di Perkotaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkot Serang Gelontorkan Rp 45 Miliar untuk THR PNS, PPPK Penuh Waktu Hingga PPPK Paruh Waktu 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabupaten Serang Miliki Dua Jembatan Baru Hasil Kolaborasi dengan TNI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7 Link Twibbon Hari Perempuan Internasional 2026, Terbaru dan Paling Kekinian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Walikota Serang Budi Rustandi Instruksikan Seluruh OPD Beralih ke Transaksi Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Arti Kalimat ‘Nyawit Nih Orang’ yang Banyak Digunakan di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tiga Bulan Anggaran Sekolah Gratis Belum Dibayar, Dindikbud Banten Dinilai Tidak Profesional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pergoki Pelecehan di KRL, Korban Langsung Nangis Histeris

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Petugas Dapur SPPG Yayasan Sukaratu 6, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, memperlihatkan selembar surat cinta dari siswa yang terselip dalam ompreng MBG, Rabu 11 Februari 2026. (Dokumentasi Bantenraya.com)

Selipkan Pesan di Ompreng MBG, Peserta Didik di Pandeglang Request Menu: Minta Nasi Goreng hingga Ayam

12 Februari 2026 | 05:00
SMAN 1 Cimarga

Pengakuan Siswi SMAN 1 Cimarga yang Ikut Mogok Sekolah, Bukan Dukung Siswa Merokok tapi……

18 Oktober 2025 | 12:16
Pemprov Banten kembali membuka pendaftaran mudik gratis

Banyak yang Mengundurkan Diri, Pemprov Banten Buka Ulang Pendaftaran Mudik Gratis

24 Februari 2026 | 14:42
Kabupaten serang PT PWI

Sempat Produksi Sepatu di Kabupaten Serang, PT PWI 1 Bakal Bangkit Buka Usaha Baru di Cikande

2 Februari 2026 | 17:11

Dukung Pemulihan Ekonomi Nasional, Bjb Backup Total Pembiayaan UMKM

Asooooy… Kepala Desa akan Diajak Studi Banding ke Korea dan China

Seluruh Ospek di Kampus Diputuskan Digelar Online, Termasuk di Banten

Mudik Resmi Dilarang, Efektif 24 April

Suasana truk mulai memadati dermaga reguler di Pelabuhan Merak, Kamis 12 Maret 2026. (Uri/Banten Raya)

Truk Mulai Padati Dermaga Reguler Merak, Hindari Pembatasan Saat Masuk Mudik Lebaran

12 Maret 2026 | 09:14
Walikota Serang Budi Rustandi menyampaikan sambutan dalam acara high level meeting di Hotel Wisata Baru, Kota Serang, Selasa 10 Maret 2026. (Dokumentasi Prokopim Setda Kota Serang untuk Bantenraya.com)

Walikota Serang Budi Rustandi Instruksikan Seluruh OPD Beralih ke Transaksi Digital

12 Maret 2026 | 09:11
Capiton Foto Walikota Serang Budi Rustandi bersama ribuan PPPK Paruh Waktu usai melantik di Alun-alun Barat, Kota Serang, 23 Oktober 2025. Budi Rustandi telah menandatangani Perwal pencairan THR untuk ASN Pemkot Serang termasuk PPPK Paruh Waktu. (Harir Baldan/Bantenraya.com)

Pemkot Serang Gelontorkan Rp 45 Miliar untuk THR PNS, PPPK Penuh Waktu Hingga PPPK Paruh Waktu 

12 Maret 2026 | 09:06
Suasana Pelabuhan Bakauheni yang akan ramai dipadati pemudik menjelang Lebaran 2026. Dok: Lampung Eksis.

Arus Mudik Lebaran 2026, ASDP Prediksi 1,5 Juta Pemudik Akan Menyebrang ke Merak

12 Maret 2026 | 08:59

Tag

2022 Andra Soni ASN banjir Banten Beasiswa BRI Brigadir J BRI Super League Cilegon drakor drama Korea Harga Tiket Helldy Agustian Indonesia Jadwal jadwal tayang Kabupaten Lebak kabupaten serang Kota Cilegon Kota Serang Lebak link nonton link twibbon lowongan kerja Pandeglang Pemkot Cilegon pemkot serang Pemprov Banten pilkada Preman Pensiun 6 Preman Pensiun 7 profil provinsi banten Ramadhan Robinsar serang sinopsis spoiler spoiler sub indo Timnas Indonesia Twibbon UMKM viral
ADVERTISEMENT
Banten Raya

© 2026 Banten Raya - Berkualitas dan Berbeda

Nomor ID Pers : 26666 | Status Pendataan : Terverifikasi Faktual | Sertifikat : 1393/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Digital Banten Raya
  • Ecommerce Banten Raya
  • Siding Banten Raya
  • Share Banten Raya

Ikuti Kami

  • Daerah
  • Nasional
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal

© 2026 Banten Raya - Berkualitas dan Berbeda