BANTENRAYA.COM – Pembentukan Koperasi Merah Putih yang dinilai terlalu tergesa-gesa dikhawatirkan akan menimbulkan sejumlah masalah, salah satunya adalah kredit yang macet.
Wulan Retnowati, pakar ekonomi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa atau Untirta, menyambut baik peluncuran Koperasi Merah Putih yang dilakukan pemerintah.
Apalagi, tujuannya adalah untuk pemberdayaan masyarakat desa dan kelurahan lewat koperasi.
“Artinya di Koperasi Merah Putih digunakan sebagai sumber modal untuk pemberdayaan desa atau kelurahan tersebut,” kata Wulan, Minggu, 27 Juli 2025.
Baca Juga: Berjualan di KP3B saat Akhir Pekan, Omzet Pedagang Tembus Rp1 Juta per Hari
Meski bertujuan baik, namun dia melihat banyaknya masalah utama koperasi, alah satunya adalah masalah pendanaan.
Dia mempertanyakan apakah dana yang akan diberikan kepada koperasi merah putih akan bisa dikelola secara maksimal?
“Misalnya soal pendanaan, apakah bisa dikelola maksimal oleh koperasi? Apakah koperasi siap mendapatkan dana dari luar?’ katanya memertanyakan,
Selain soal modal, masalah lain adalah apakah pengelola Koperasi Merah Putih mampu mengelola dana tersebut? Hal ini berkaitan dengan kesiapan dari sumber daya manusia yang mengelola koperasi tersebut.
Apabila pengelolanya tidak siap, dia khawatir dana yang ada tidak akan maksimal menumbuhkan ekonomi di desa dan kelurahan.
“Kalau pengelolanya nggak mampu, sia-siap dana koperasi tidak terkelola dengan baik, tersendat, bahkan menimbulkan fraud,” katanya.
Wulan mengatakan, seharusnya pemerintah tidak hanya menyiapkan dana untuk koperasi tetapi juga harus melakukan pendampingan kepada pengelola koperasi.
Sebab menjalankan koperasi agar bisa berjalan sesuai dengan harapan tidak semudah membalikkan telapak tangan.
“Jangan sampai dana yang disalurkan pemerintah, jadi bancakan segelintir orang dan akhirnya jadi kredit macet dan beban pemerintah,” katanya.
Wulan menilai, program Koperasi Merah Putih adalah program yang bagus.
Di saat UMKM tidak bisa mengakses modal ke bank, maka koperasi bisa menjadi solusi UMKM di desa dan kelurahan.
Hanya saja usaha yang dijalankan koperasi tidak semudah yang dibayangkan, apalagi tidak memiliki Sumber Daya Manusia atau SDM yang handal.
Maka, koperasi akan berakhir seperti BUMDes yang dananya tidak berjalan karena SDM-nya yang kurang mumpuni.
“BUMDes nggak jalan karena human being-nya nggak mampu,” katanya.
Pada akhirnya, dana yang sebelumnya dimaksudkan sebagai dana bergulir yang akan memberdayakan semua malah tidak bergulir dan jadi kredit macet.
Karena itu, menurutya, seharusnya pemerintah hanya membentuk koperasi yang sudah siap.
Sementara yang belum siap dilakukan pembinaan terlebih dahulu.
“Seharusnya membentuk yang siap saja dulu,” katanya.
Baca Juga: Tanpa Harus Menginap, Yuk Liburan di Pantai Aston Anyer Cuma Rp300 Ribuan
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Banten Agus Mintono mengatakan, pembentukan Koperasi Merah Putih di Provinsi Banten sudah mencapai 100 persen.
Dari 1.552 jumlah desa dan kelurahan yang ada di Banten, hanya satu desa yang tidak membentuk koperasi, yaitu Desa Kanekes di Kabupaten Lebak.
Adapun 1.551 Koperasi Merah Putih tersebut tersebar di delapan kabupaten atau kota, yaitu Kabupaten Serang 326 koperasi, Kabupaten Pandeglang 339 koperasi, Kabupaten Lebak 344 koperasi, Kabupaten Tangerang 274 koperasi, Kota Tangerang 104 koperasi, Kota Tangsel 54 koperasi, Kota Serang 67 koperasi, dan Kota Cilegon 43 koperasi.
Selain itu, ada empat koperasi percontohan atau mockup tersebar di empat daerah, yaitu Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, dan Kota Cilegon.
Baca Juga: Sehari Sebelum Pelantikan Belum Ada Keputusan, Pemilihan Rektor UIN SMH Banten Dinilai Lambat
Keempat koperasi percontohan ini telah diluncurkan pada 21 Juli 2025 bersama dengan sekitar 83.000 koperasi desa atau kelurahan di seluruh Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto.
Agus mengatakan, setiap Koperasi Merah Putih harus memiliki 7 gerai, yaitu kantor, unit simpan pinjam, klinik, apotek, sembako, gudang, dan logistik/ kendaraan pengangkut darat.
Selain itu, Koperasi Merah Putih juga harus mengembangkan potensi lain yang ada di daerah tersebut.
Agus mencontohkan, koperasi mockup di Desa Girimukti, Cilograng, Kabupaten Lebak, mengembangkan potensi di bidang perdagangan gula aren.
Baca Juga: Edukasi Safety Riding, 80 Pelajar SMKN 2 Kota Serang Praktik Berkendara Aman Bareng Honda Banten
Mulai dari gula aren batangan, gula aren cair, hingga gula semut atau gula aren bubuk. Bahkan, produk gula aren ini sudah diekspor ke Amerika Serikat.***


















