BANTENRAYA.COM – Banyaknya tempat hiburan malam di Banten, khususnya di Kota Cilegon disinyalir menjadi penyebab banyaknya perdagangan orang atau human trafficking.
Hal ini terjadi karena adanya pembiaran dari aparat setempat terhadap tempat hiburan malam, mulai dari kepala daerah dan penegak aturan.
Demikian disampaikan Edi Jhon, Penasihat Gerakan Bersama Anti Kemaksiatan (Gebrak) Banten terkait maraknya tempat hiburan malam di Kota Cilegon.
Baca Juga: Anggaran TTP ASN Kota Cilegon Naik 5 Persen, Wakil Walikota Singgung Soal Janji Kampanye
Pernyataan itu disampaikan dalam acara Workshop Pencegahan dan Penanganan Human Trafficking, yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana atau DP3AKB Kota Cilegon, di salah satu hotel di Cilegon, Senin 20 September 2021.
“Kenapa terjadi perdagangan manusia, bagi saya hasil diskusi dengan elemen masyarakat, penyebab terbesarnya adalah pembiaran yang terlalu lama (Pemerintah daerah tidak melakukan tindakan_red),” katanya.
“Keterkaitan (Penyebab) broken home sangat kecil. Karena mereka punya kesempatan,” ungkap Edi dalam paparannya.
Baca Juga: Lurah Citangkil Dipanggil Kapolres Cilegon, Ini yang Terjadi
Untuk mencegah berbagai kemaksiatan yang ditimbulkan dari menjamurnya tempat hiburan malam, kata Edi, pemimpin harus kembali menggandeng ulama dan masyarakat.
“Saat ini, kedekatan umara dan ulama harus dibangun kembali untuk turunkan tingkat perdagangan manusia,” jelasnya.
Menurut Edi, Kota Cilegon dikenal dengan julukan kota dolar dalam dunia hiburan malam. Bahkan, kata dia, julukan itu terkenal hingga Jakarta.
Baca Juga: Alhamdulillah, Pendapatan Sopir Angkot di Lebak Mulai Mengalami Peningkatan
Hal itu terjadi dikarenakan menjamurnya tempat hiburan malam, dan bebasnya kontrakan, kos-kosan danhotel kelas melati.
“Ini perlu disikapi sangat dalam,” harapnya.
Edi mengatakan, Kota Cilegon sebagai kota transit ikut terkena imbasnya dalam menjamurnya tempat hiburan malam, karena banyak wanita malam merupakan orang luar daerah.
Baca Juga: SMA Negeri di Banten Diduga Tawarkan Seragam Sekolah dengan Harga Tak Wajar
“Itu hasil keliling, rata-rata mereka sangat bebas, bebasnya bedeng, bebasnya kos-kosan, dan menjamurnya hotel kelas melati, ini tempat timbulnya perdagangan manusia,” ungkapnya. ***



















