BANTENRAYA.COM – Pengusaha cokelat di Tangerang saat ini sedang mencoba memperbaiki tanaman cokelat di Provinsi Banten.
Pasalnya, tanaman cokelat yang ada saat ini secara kualitas masih berada di bawah dari daerah-daerah lain penghasil cokelat.
Nugroho, CO Founder Cokelatin, sebuah produk cokelat yang menggunakan bahan dasar lokal, mengungkapkan, saat ini dirinya sedang mencoba merehabilitasi tanaman kakao yang merupakan tanaman penghasil cokelat di Pandeglang agar bisa tumbuh menjadi tanaman berkualitas.
Baca Juga: Dishub Kabupaten Serang Tambah Fungsi Terminal, Tak Melulu Soal Lalu Lalang Kendaraan
Rehabilitasi dilakukan dengan metode sambung pucuk agar kualitas tanaman kakao menjadi lebih baik. Dia mengungkapkan, kualitas tanaman kakao di Banten memang masih rendah.
“Grade tanamannya masih kurang baik,” kata Nugroho, Senin 18 Agustus 2025.
Ia mengatakan, karena anggaran yang dia miliki terbatas, maka rehabilitasi tanaman kakao yang dia lakukan pun cukup terbatas.
Namun yang membuat dia semangat adalah para kelompok tani binaannya yang juga semangat saat dia mengajak mereka untuk memperbaiki kualitas tanaman cokelat.
Tanaman kakao yang direhabilitasi bisa membutuhkan waktu antara satu sampai dengan dua tahun bergantung dari ketersediaan anggaran yang ada.
Apabila rehabilitasi didukung dengan anggaran memadai, maka dia bisa menjamin rehabilitasi bisa dilakukan hanya dalam waktu satu tahun.
“Untuk yang sekarang rencana 500 pohon dulu yang kita rehabilitasi,” ujarnya.
Karena itu, dia berharap Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pertanian Provinsi Banten bisa membantu upaya yang sedang dia lakukan untuk merehabilitasi tanaman kakao di Pandeglang.
Baca Juga: Heboh Jeff Smith Bintangi Sinetron Asmara Gen Z hingga Trending di X, Intip Karakternya
Sebab sebagai pelaku usaha cokelat yang masih merintis dia mengaku masih terbatas dalam anggaran untuk pembinaan petani semacam ini.
Nugroho mengungkapkan, secara umum para petani di Banten belum memahami bagaimana mengelola perkebunan kakao yang baik. Karena itu, kualitas kakao yang dihasilkan masih kurang baik.
Selain itu, para petani juga tidak memahami bagaimana melakukan pasca panen kakao. Selama ini kakao dijual mentah tanpa ada perlakukan terlebih dahulu agar memiliki nilai tambah lebih.
Padahal kakao fermentasi memiliki harga berlipat dibandingkan apabila kakao dijual mentah dan apa adanya.
Baca Juga: Hasbi Ancam Kades se-Lebak, Mobil Fortuner-Pajero Tapi Jalan Desa Banyak yang Rusak
Proses fermentasi kakao inilah yang membuat kakao berkualitas karena bisa mengeluarkan aroma dan rasa yang maksimal.
Penanganan pascapanen ini jugalah yang dia ajarkan kepada para petani di Pandeglang yang saat ini sedang dia bina.
“Sekarang harga kakao lagi bagus bisa menyentuh Rp80 ribu-Rp90 ribu per kg. Kalau sudah difermentasi, harganya bahkan bisa di atas Rp150 ribu per kg,” katanya.
Karena kakao di Banten masih belum baik, Nugroho sendiri kerap mendatangkan kakao dari Sulawesi dan Jawa Timur untuk membuat produk usahanya Cokelatin.
Baca Juga: Super League Pekan Kedua: Persijap Jepara vs Persib Bandung, Lengkap dengan Link Streaming
Bila kakao di Banten sudah baik, dia ingin agar bahan baku kakao produknya bisa didatangkan dari Banten yang lebih dekat dengan rumah produksinya di Tangerang.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, Provinsi Banten hingga saat ini memang belum berperan besar di tingkat nasional dalam hal produksi kakao.
Apalagi, awal mula kakao tumbuh di Banten juga lebih banyak dikembangkan oleh orang-orang Bugis yang menetap di Tanjung Lesung, Pandeglang.
“Tapi kalau pabrik kakao terbesar ada di Tangerang,” katanya.
Baca Juga: Nonton Drakor My Girlfriend Is The Man Episode 9 Sub Indo Full Movie Beserta dengan Sinopsis
Dia mengungkapkan, dulu petani kakao di Banten pernah difasilitasi agar bermitra dengan perusahaan yang memproduksi kakao.
Namun, saat ini para petani masih terkendala kualitas kakao karena kadar air yang dihasilkan masih belum sesuai standar. ***


















