Oleh: Nadya Rizki Aulia
Peta ekonomi dunia Tengah bergerak ke arah baru. Awal 2025 menjadi babak penting Ketika BRICS resmi memperluas keanggotaannya dengan menerima enam negara baru, termasuk Indonesia. Langkah ini langsung menyita perhatian internasional, terlebih ketika Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump Kembali menghidupkan kebijakan tarif impor tinggi yang menekan negara-negara pesaing ekonominya.
BRICS, dari Forum Alternatif Menjadi Kekuatan Dunia
Awalnya BRICS hanya beranggotakan Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Forum ini lahir sebagai respons terhadap dominasi barat, terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa, dalam sistem keuangan global. Seiring waktu, BRICS berubah menjadi wadah kerja sama ekonomi, investasi, bahkan politik, dengan tujuan menciptakan dunia multipolar.
Pada januari 2025, enam negara baru resmi bergabung yaitu terdapat Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Ethiopia, Iran, dan Indonesia. Masuknya Indonesia dianggap strategis karena statusnya sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia-Pasifik. Dengan lebih dari 270 juta penduduk, kekayaan sumber daya alam, dan posisi penting di jalur perdagangan internasional, Indonesia disebut sebagai “jembatan” antara Asia Timur dan Asia Selatan.
BRICS juga memperkenalkan instrumen keuangan baru Bernama BRICS chain, mata uang digital untuk transaksi antar anggota. Nilai harga 1 BRICS Chain dapat berubah-ubah, saat ini di harga Rp 556.048 perak (30 September 2025), BRICS Chain hadir sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi dolar AS. Selain itu, New Development Bank (NDB) semakin memperkuat posisi BRICS sebagai alternatif pembiayaan Pembangunan di luar IMF dan Bank Dunia.
Tarif Trump: Proteksionisme yang jadi Bumerang
Kebijakan proteksionisme Donald Trump tajam, mencapai 25 hingga 100 persen, Brazil dan Rusia juga ikut terimbas. Sementara Indonesia, yang baru resmi bergabung, mendapat tarif impor sebesar 19% pada juli 2025. Trump berdalih langkah ini untuk menekan Perusahaan-perusahaan Amerika memindahkan pabrik China ke negara lain.
Dampaknya cukup serius. Perang dagang Kembali memanas, rantai pokok global terguncang, dan harga komoditas dunia bergejolak. Perusahaan teknologi besar seperti Apple bahkan mempercepat relokasi produksi ke India dan Vietnam, mengurangi ketergantungan pada China.
Menurut Dr. Arif Santoso, pengamat ekonomi internasional Universitas Indonesia, langkah Trump sarat muatan politik. “Kebijakan tarif ini lebih untuk menunjukkan ketegasan kepada pemilih domestic. Tapi secara global, justru memperkuat konsolidasi BRICS, termasuk Indonesia yang kini punya pasar alternatif di luar Amerika Serikat dan Eropa,” ujarnya.
Peluang Indonesia di Tengah Tekanan
Bagi Indonesia, kondisi ini bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi, tarif tinggi membuat produk ekspor ke AS kehilangan daya saing. Industri tekstil, furniture, dan karet diperkirakan mendapat tekanan berat. Namun di sisi lain, terbuka pintu baru melalui jejaring BRICS.
Sebagai anggota baru, Indonesia kini memiliki akses lebih luas untuk memperkuat perdagangan dengan negara-negara mitra. China dan India tetap menjadi pasar raksasa dengan ratusan juta konsumen kelas menengah. Selain itu, ada Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Iran yang bisa membuka jalur ke pasar Timur Tengah.
Bukan hanya perdagangan, arus investasi juga menjanjikan. Relokasi industri dari China bisa menjadi peluang emas. Asalkan pemerintah mampu memberi insentif fisikal, kepastian aturan, dan infrastruktur memadai, Indonesia berpotensi menarik banyak Perusahaan global.
Maya Pratiwi, Direktur Eksekutif Lembaga Riset Ekonomi Global, mengingatkan agar peluang ini jangan sampai terlewat. “Keanggotaan di BRICS harus jadi momentum membangun industri yang lebih kompetitif. Jangan sekedar jadi pasar, tapi juga mengoptimalkan transfer teknologi dan penciptaan lapangan kerja,” jelasnya.
Strategis dan Tantangan yang Menanti
Meski peluang terbuka, tantangan juga tidak ringan. Pertama, ketergantungan pada dolar AS masih tinggi. Peralihan ke BRICS Chain butuh waktu agar diterima luas. Kedua, infrastruktur industri dalam negeri belum sepenuhnya siap menampung relokasi besar-besaran dari China.
Ketiga, masalah birokrasi dan regulasi yang rumit masih menjadi hambatan investor. Tanpa reformasi nyata, Indonesia bisa kalah bersaing dengan India atau Vietnam yang lebih agresif menarik investasi.
Selain itu, Indonesia harus berhati-hati ditengah Tarik-menarik geopolitik. Bergabung dengan BRICS membawa keuntungan, tetapi hubungan dengan AS dan Uni Eropa juga tetap penting. Diplomasi ekonomi menjadi kunci agar Indonesia tidak dianggap condong ke satu blok saja.
Menurut analisis politik internasional Rizal Hamdani, posisi Indonesia unik. “Dengan prinsip bebas-aktif, Indonesia bisa jadi penyimbang antara Barat dan Timur. Kita berpotensi jadi mediator sekaligus pusat produksi di Asia Tenggara, asal konsisten menjaga kepentingan nasional,” katanya.
Masa Depan BRICS dan Dunia Multipolar
BRICS kini menghadapi ujian besar mampukah menjadi motor ekonomi alternatif dunia, atau sekedar simbol geopolitik. Masuknya negara-negara baru, terutama Indonesia, membuat forum ini berpotensi menentang dominasi Barat. Namun efektivitasnya bergantung pada kemampuan menyatukan kepentingan yang beragam.
Bagi Indonesia, tantangan nya jelas: jangan hanya berhenti pada keanggotaan formal. Pemerintah perlu strategi konkret, mulai dari diversifikasi ekspor, penguatan industry, hingga memaksimalkan pendanaan dari NDB. Kalau tidak, peluang besar bisa berlalu begitu saja.
Ke depan, dunia tampaknya akan semakin terbagi kedalam dua blok besar: Barat yang dipimpin AS, dan BRICS yang berisi kekuatan ekonomi baru. Di Tengah persaingan itu, Indonesia punya kesempatan emas untuk tampil sebagai pemain strategis yang netral dan mampu mengubah tekanan menjadi peluang.
“Sejarah membuktikan, krisis sering melahirkan peluang. Pertanyaannya, siapakah Indonesia menyambutnya?” pungkas Maya Pratiwi.
Dampak Rantai Pasok dan Harga Komoditas
Gejolak yang ditimbulkan oleh kebijakan Trump tidak hanya berdampak pada neraca perdagangan. Rantai pasok global, yang sudah rapuh akibat pandemi dan konflik geopolitik sebelumnya, kembali terguncang. Kenaikan biaya logistik dan penundaan pengiriman menjadi hal yang lumrah. Bagi Indonesia, situasi ini memaksa para pelaku usaha untuk lebih lincah dalam mengelola rantai pasok dan mencari alternatif supplier atau rute pengiriman yang lebih efisien.
Di sisi lain, harga komoditas dunia yang bergejolak membawa dampak ganda. Sebagai negara pengekspor komoditas seperti batu bara, minyak sawit, dan nikel, Indonesia bisa diuntungkan saat harga naik. Namun, kenaikan harga energi dan pangan impor juga berpotensi memicu inflasi di dalam negeri. Bank Indonesia dituntut untuk mampu menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global ini.
Peran Strategis Sektor Digital dan Ekonomi Kreatif
Dalam menghadapi tantangan ini, sektor digital dan ekonomi kreatif Indonesia dapat menjadi penopang baru. Dengan populasi muda yang masif dan adopsi teknologi yang cepat, Indonesia memiliki pondasi yang kuat. Keanggotaan di BRICS membuka peluang kolaborasi di bidang teknologi finansial, e-commerce, dan startup digital dengan negara-negara seperti China, India, dan UEA.
Pemerintah didorong untuk memfasilitasi kemitraan strategis ini. “Kita lihat bagaimana GoTo dan Traveloka bisa go international. Dengan jaringan BRICS, startup lokal bisa mendapat akses pendanaan dan pasar yang lebih luas. Ini adalah arena baru yang tidak boleh kita abaikan,” tambah Maya Pratiwi.
Menyongsong Kedaulatan Energi dan Pangan
Ketegangan geopolitik juga menyadarkan akan pentingnya kedaulatan energi dan pangan. BRICS, dengan anggota seperti Rusia, Arab Saudi, dan Iran sebagai kekuatan energi, serta Brazil dan Indonesia sebagai lumbung pangan, memiliki potensi untuk menciptakan sistem ketahanan yang mandiri.
Indonesia dapat memanfaatkan forum ini untuk menarik investasi di sektor energi terbarukan, seperti panel surya dan kendaraan listrik, sekaligus menjamin stabilitas pasokan pangan melalui kerja sama pertanian dengan Ethiopia dan India. Hal ini sejalan dengan visi jangka panjang Indonesia untuk menjadi negara yang mandiri dan berdaulat.
Tantangan Internal: SDM dan Inovasi
Namun, semua peluang eksternal tidak akan berarti tanpa kesiapan internal. Tantangan terbesar justru ada pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan tingkat inovasi. Sistem pendidikan dan vokasi Indonesia perlu segera beradaptasi dengan kebutuhan industri masa depan, khususnya di bidang teknologi hijau, artificial intelligence, dan manufaktur canggih.
Rendahnya anggaran penelitian dan pengembangan (R&D) juga menjadi kendala. Untuk bersaing dengan India yang memiliki IT Bangalore atau China dengan Shenzhen-nya, Indonesia harus berani berinvestasi lebih besar dalam menciptakan ekosistem inovasi yang kuat. Tanpa lompatan dalam hal SDM dan inovasi, Indonesia berisiko hanya menjadi penonton dalam percaturan ekonomi global yang semakin ketat.
Kesimpulan: Di Tangan Generasi Muda
Akhirnya, narasi BRICS versus tarif Trump ini bukan lagi sekadar wacana para elite. Ia adalah realitas yang akan dihadapi oleh generasi muda Indonesia. Mereka yang akan merasakan langsung dampak dari terbukanya lapangan kerja baru atau justru tersendatnya industri tradisional.
Kesiapan Indonesia menyambut peluang dan menghadapi tantangan ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa dalam membenahi diri dari dalam, menjaga stabilitas politik, dan menjalankan diplomasi yang cerdas dan luwes. Masa depan Indonesia di panggung dunia multipolar ada di tangan kita semua, dan momentum BRICS adalah ujian pertama yang harus dijawab dengan tindakan nyata, bukan hanya kata-kata.
Penulis adalah Mahasiswa Semester 1, Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP, Untirta


















