Selasa, 27 Januari 2026
Banten Raya
  • Daerah
  • NasionalNew
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal
No Result
View All Result
Banten Raya
  • Daerah
  • NasionalNew
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal
Selasa, 27 Januari 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Banten Raya
  • Daerah
  • Nasional
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal

BRICS vs Tarif Trump dan Peluang Indonesia

M Hilman Fikri Oleh: M Hilman Fikri
2 Oktober 2025 | 22:12
ILUSTRASI: Gambar merupakan hasil rekayasa menggunakan kecerdasan buatan.

ILUSTRASI: Gambar merupakan hasil rekayasa menggunakan kecerdasan buatan.

Bagikan Ke WhatsAppBagikan Ke FacebookBagikan Ke TwitterBagikan Ke Telegram

Oleh: Nadya Rizki Aulia

Peta ekonomi dunia Tengah bergerak ke arah baru. Awal 2025 menjadi babak penting Ketika BRICS resmi memperluas keanggotaannya dengan menerima enam negara baru, termasuk Indonesia. Langkah ini langsung menyita perhatian internasional, terlebih ketika Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump Kembali menghidupkan kebijakan tarif impor tinggi yang menekan negara-negara pesaing ekonominya.

BRICS, dari Forum Alternatif Menjadi Kekuatan Dunia  

Awalnya BRICS hanya beranggotakan Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Forum ini lahir sebagai respons terhadap dominasi barat, terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa, dalam sistem keuangan global. Seiring waktu, BRICS berubah menjadi wadah kerja sama ekonomi, investasi, bahkan politik, dengan tujuan menciptakan dunia multipolar.

Pada januari 2025, enam negara baru resmi bergabung yaitu terdapat Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Ethiopia, Iran, dan Indonesia. Masuknya Indonesia dianggap strategis karena statusnya sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia-Pasifik. Dengan lebih dari 270 juta penduduk, kekayaan sumber daya alam, dan posisi penting di jalur perdagangan internasional, Indonesia disebut sebagai “jembatan” antara Asia Timur dan Asia Selatan.

BRICS juga memperkenalkan instrumen keuangan baru Bernama BRICS chain, mata uang digital untuk transaksi antar anggota. Nilai harga 1 BRICS Chain dapat berubah-ubah, saat ini di harga Rp 556.048 perak (30 September 2025), BRICS Chain hadir  sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi dolar AS. Selain itu, New Development Bank (NDB) semakin memperkuat posisi BRICS sebagai alternatif pembiayaan Pembangunan di luar IMF dan Bank Dunia.

Tarif Trump: Proteksionisme yang jadi Bumerang

Kebijakan proteksionisme Donald Trump tajam, mencapai 25 hingga 100 persen, Brazil dan Rusia juga ikut terimbas. Sementara Indonesia, yang baru resmi bergabung, mendapat tarif impor sebesar 19% pada juli 2025. Trump berdalih langkah ini untuk menekan Perusahaan-perusahaan Amerika memindahkan pabrik China ke negara lain.

Dampaknya cukup serius. Perang dagang Kembali memanas, rantai pokok global terguncang, dan harga komoditas dunia bergejolak. Perusahaan teknologi besar seperti Apple bahkan mempercepat relokasi produksi ke India dan Vietnam, mengurangi ketergantungan pada China.

Menurut Dr. Arif Santoso, pengamat ekonomi internasional Universitas Indonesia, langkah Trump sarat muatan politik. “Kebijakan tarif ini lebih untuk menunjukkan ketegasan kepada pemilih domestic. Tapi secara global, justru memperkuat konsolidasi BRICS, termasuk Indonesia yang kini punya pasar alternatif di luar Amerika Serikat dan Eropa,” ujarnya.

Peluang Indonesia di Tengah Tekanan

Bagi Indonesia, kondisi ini bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi, tarif tinggi membuat produk ekspor ke AS kehilangan daya saing. Industri tekstil, furniture, dan karet diperkirakan mendapat tekanan berat. Namun di sisi lain, terbuka pintu baru melalui jejaring BRICS.

Sebagai anggota baru, Indonesia kini memiliki akses lebih luas untuk memperkuat perdagangan dengan negara-negara mitra. China dan India tetap menjadi pasar raksasa dengan ratusan juta konsumen kelas menengah. Selain itu, ada Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Iran yang bisa membuka jalur ke pasar Timur Tengah.

Bukan hanya perdagangan, arus investasi juga menjanjikan. Relokasi industri dari China bisa menjadi peluang emas. Asalkan pemerintah mampu memberi insentif fisikal, kepastian aturan, dan infrastruktur memadai, Indonesia berpotensi menarik banyak Perusahaan global.

Maya Pratiwi, Direktur Eksekutif Lembaga Riset Ekonomi Global, mengingatkan agar peluang ini jangan sampai terlewat. “Keanggotaan di BRICS harus jadi momentum membangun industri yang lebih kompetitif. Jangan sekedar jadi pasar, tapi juga mengoptimalkan transfer teknologi dan penciptaan lapangan kerja,” jelasnya.

Strategis dan Tantangan yang Menanti

Meski peluang terbuka, tantangan juga tidak ringan. Pertama, ketergantungan pada dolar AS masih tinggi. Peralihan ke BRICS Chain butuh waktu agar diterima luas. Kedua, infrastruktur industri dalam negeri belum sepenuhnya siap menampung relokasi besar-besaran dari China.

Ketiga, masalah birokrasi dan regulasi yang rumit masih menjadi hambatan investor. Tanpa reformasi nyata, Indonesia bisa kalah bersaing dengan India atau Vietnam yang lebih agresif menarik investasi.

Selain itu, Indonesia harus berhati-hati ditengah Tarik-menarik geopolitik. Bergabung dengan BRICS membawa keuntungan, tetapi hubungan dengan AS dan Uni Eropa juga tetap penting. Diplomasi ekonomi menjadi kunci agar Indonesia tidak dianggap condong ke satu blok saja.

Menurut analisis politik internasional Rizal Hamdani, posisi Indonesia unik. “Dengan prinsip bebas-aktif, Indonesia bisa jadi penyimbang antara Barat dan Timur. Kita berpotensi jadi mediator sekaligus pusat produksi di Asia Tenggara, asal konsisten menjaga kepentingan nasional,” katanya.

Masa Depan BRICS dan Dunia Multipolar

BRICS kini menghadapi ujian besar mampukah menjadi motor ekonomi alternatif dunia, atau sekedar simbol geopolitik. Masuknya negara-negara baru, terutama Indonesia, membuat forum ini berpotensi menentang dominasi Barat. Namun efektivitasnya bergantung pada kemampuan menyatukan kepentingan yang beragam.

Bagi Indonesia, tantangan nya jelas: jangan hanya berhenti pada keanggotaan formal. Pemerintah perlu strategi konkret, mulai dari diversifikasi ekspor, penguatan industry, hingga memaksimalkan pendanaan dari NDB. Kalau tidak, peluang besar bisa berlalu begitu saja.

Ke depan, dunia tampaknya akan semakin terbagi kedalam dua blok besar: Barat yang dipimpin AS, dan BRICS yang berisi kekuatan ekonomi baru. Di Tengah persaingan itu, Indonesia punya kesempatan emas untuk tampil sebagai pemain strategis yang netral dan mampu mengubah tekanan menjadi peluang.

“Sejarah membuktikan, krisis sering melahirkan peluang. Pertanyaannya, siapakah Indonesia menyambutnya?” pungkas Maya Pratiwi.

Dampak Rantai Pasok dan Harga Komoditas

Gejolak yang ditimbulkan oleh kebijakan Trump tidak hanya berdampak pada neraca perdagangan. Rantai pasok global, yang sudah rapuh akibat pandemi dan konflik geopolitik sebelumnya, kembali terguncang. Kenaikan biaya logistik dan penundaan pengiriman menjadi hal yang lumrah. Bagi Indonesia, situasi ini memaksa para pelaku usaha untuk lebih lincah dalam mengelola rantai pasok dan mencari alternatif supplier atau rute pengiriman yang lebih efisien.

Di sisi lain, harga komoditas dunia yang bergejolak membawa dampak ganda. Sebagai negara pengekspor komoditas seperti batu bara, minyak sawit, dan nikel, Indonesia bisa diuntungkan saat harga naik. Namun, kenaikan harga energi dan pangan impor juga berpotensi memicu inflasi di dalam negeri. Bank Indonesia dituntut untuk mampu menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global ini.

Peran Strategis Sektor Digital dan Ekonomi Kreatif

BACAJUGA:

mahasiswa

Mahasiswa Teknik Lingkungan Nilai AMPAL Banten Tidak Fokus Bahas Dampak Lingkungan

17 Januari 2026 | 17:40
pemuda

Isra Miraj, Pemuda dan Islam Berkemajuan

16 Januari 2026 | 21:22
Pemuda Kota Serang Minta SPMB Harus Ada Perbaikan Karena Banyak Warga Mengeluh

Peringatan Air Berulang di Kota Serang

13 Januari 2026 | 17:27
Soleh, Pemerhati Birokrasi dan Pelayanan Publik

Analisis Penerapan Manajemen Talenta dalam Birokrasi Pemerintahan

8 Januari 2026 | 15:54

Dalam menghadapi tantangan ini, sektor digital dan ekonomi kreatif Indonesia dapat menjadi penopang baru. Dengan populasi muda yang masif dan adopsi teknologi yang cepat, Indonesia memiliki pondasi yang kuat. Keanggotaan di BRICS membuka peluang kolaborasi di bidang teknologi finansial, e-commerce, dan startup digital dengan negara-negara seperti China, India, dan UEA.

Pemerintah didorong untuk memfasilitasi kemitraan strategis ini. “Kita lihat bagaimana GoTo dan Traveloka bisa go international. Dengan jaringan BRICS, startup lokal bisa mendapat akses pendanaan dan pasar yang lebih luas. Ini adalah arena baru yang tidak boleh kita abaikan,” tambah Maya Pratiwi.

Menyongsong Kedaulatan Energi dan Pangan

Ketegangan geopolitik juga menyadarkan akan pentingnya kedaulatan energi dan pangan. BRICS, dengan anggota seperti Rusia, Arab Saudi, dan Iran sebagai kekuatan energi, serta Brazil dan Indonesia sebagai lumbung pangan, memiliki potensi untuk menciptakan sistem ketahanan yang mandiri.

Indonesia dapat memanfaatkan forum ini untuk menarik investasi di sektor energi terbarukan, seperti panel surya dan kendaraan listrik, sekaligus menjamin stabilitas pasokan pangan melalui kerja sama pertanian dengan Ethiopia dan India. Hal ini sejalan dengan visi jangka panjang Indonesia untuk menjadi negara yang mandiri dan berdaulat.

Tantangan Internal: SDM dan Inovasi

Namun, semua peluang eksternal tidak akan berarti tanpa kesiapan internal. Tantangan terbesar justru ada pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan tingkat inovasi. Sistem pendidikan dan vokasi Indonesia perlu segera beradaptasi dengan kebutuhan industri masa depan, khususnya di bidang teknologi hijau, artificial intelligence, dan manufaktur canggih.

Rendahnya anggaran penelitian dan pengembangan (R&D) juga menjadi kendala. Untuk bersaing dengan India yang memiliki IT Bangalore atau China dengan Shenzhen-nya, Indonesia harus berani berinvestasi lebih besar dalam menciptakan ekosistem inovasi yang kuat. Tanpa lompatan dalam hal SDM dan inovasi, Indonesia berisiko hanya menjadi penonton dalam percaturan ekonomi global yang semakin ketat.

Kesimpulan: Di Tangan Generasi Muda

Akhirnya, narasi BRICS versus tarif Trump ini bukan lagi sekadar wacana para elite. Ia adalah realitas yang akan dihadapi oleh generasi muda Indonesia. Mereka yang akan merasakan langsung dampak dari terbukanya lapangan kerja baru atau justru tersendatnya industri tradisional.

Kesiapan Indonesia menyambut peluang dan menghadapi tantangan ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa dalam membenahi diri dari dalam, menjaga stabilitas politik, dan menjalankan diplomasi yang cerdas dan luwes. Masa depan Indonesia di panggung dunia multipolar ada di tangan kita semua, dan momentum BRICS adalah ujian pertama yang harus dijawab dengan tindakan nyata, bukan hanya kata-kata.

Penulis adalah Mahasiswa Semester 1, Mata Kuliah Pengantar Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP, Untirta

 

Editor: M Hilman Fikri
Tags: bricsilmu komunikasiTrumpUNTIRTA
Previous Post

Pendaftaran Indomaret Run 2025 Dibuka Besok, Ada 5K Hingga Half Marathon dengan Rute PIK 2

Next Post

Untirta Raih Penghargaan PPID Terbaik di Anugerah Humas Indonesia 2025

Related Posts

mahasiswa
Opini

Mahasiswa Teknik Lingkungan Nilai AMPAL Banten Tidak Fokus Bahas Dampak Lingkungan

17 Januari 2026 | 17:40
pemuda
Opini

Isra Miraj, Pemuda dan Islam Berkemajuan

16 Januari 2026 | 21:22
Pemuda Kota Serang Minta SPMB Harus Ada Perbaikan Karena Banyak Warga Mengeluh
Opini

Peringatan Air Berulang di Kota Serang

13 Januari 2026 | 17:27
Soleh, Pemerhati Birokrasi dan Pelayanan Publik
Opini

Analisis Penerapan Manajemen Talenta dalam Birokrasi Pemerintahan

8 Januari 2026 | 15:54
tahun baru
Opini

Jangan Hura-hura, Kita Masih Berduka

2 Januari 2026 | 09:23
tahun baru
Opini

Malam Tahun Baru Tanpa Kembang Api, Ikhtiar Merawat Keselamatan dan Kewarasan Bersama

31 Desember 2025 | 13:58
Load More

Popular

  • Pemkot Cilegon

    Satgas PAD Pemkot Cilegon Bakal Paksa Sekolah Negeri Beli Air Kemasan dari Perumda Cilegon Mandiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 10 Pejabat Eselon II Pemprov Banten Dilantik, 3 Di antaranya Promosi Jabatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puluhan Pedagang Daging di Kios Pasar Kranggot Cilegon Kompak Mogok Jualan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Daftar Lengkap Pejabat Eselon II Pemprov Banten yang Kena Rotasi Mutasi, Sejumlah Nama Baru Jadi Bos OPD

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Arti Kalimat ‘Nyawit Nih Orang’ yang Banyak Digunakan di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soto Klaten Tempat Sarapan Favorit Warga Serang, Harganya Cuma Rp5 Ribu dan Bikin Kenyang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OPD Pemkot Cilegon Diminta Pintar Cari Dana Pusat, Bapperida Punya Keyakinan Soal Mandatori Efisiensi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lurah Kebonsari Bangun Saung Bengkel Inovasi Tanpa APBD Untuk Kumpul Warga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Persita Tangerang vs Persija Jakarta, Alarm Bahaya untuk Pendekar Cisadane

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anggaran Dicoret, Pengadaan Truk Sampah di DLH Kabupaten Lebak Batal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trending
  • Comments
  • Latest
SMAN 1 Cimarga

Pengakuan Siswi SMAN 1 Cimarga yang Ikut Mogok Sekolah, Bukan Dukung Siswa Merokok tapi……

18 Oktober 2025 | 12:16
matahari cilegon

Gedung Eks Matahari Lama Cilegon Mulai Dibersihkan, Bakal Jadi Gedung UMKM

8 Januari 2026 | 18:36
Forum Honorer Kota Serang

Forum Honorer Serang Nilai Pelantikan 3.800 PPPK Paruh Waktu sebagai Pelecehan Martabat Pekerja

22 Oktober 2025 | 22:25
SMAN 1 Cimarga

Para Siswa SMAN 1 Cimarga Kena Mental Terus Dipojokan Warganet, Pemkab Lebak Kirim Psikolog

16 Oktober 2025 | 19:45

Dukung Pemulihan Ekonomi Nasional, Bjb Backup Total Pembiayaan UMKM

Asooooy… Kepala Desa akan Diajak Studi Banding ke Korea dan China

Seluruh Ospek di Kampus Diputuskan Digelar Online, Termasuk di Banten

Mudik Resmi Dilarang, Efektif 24 April

Kereta api

Tiga Jalur Kereta Api yang Punya Pemandangan Indah di Pulau Jawa

27 Januari 2026 | 07:56
Capiton FotoPemain Persik Kediri (jersey putih) dikepung dua pemain Malut United FC dalam laga BRI Super League 2025-2026. (Instagram @persikfcofficial)

Persik Kediri Vs Bali United FC, Masihkah Macan Putih Bertaring di Kandangnya?

27 Januari 2026 | 07:48
Iphone

Anker Rilis Jajaran Charger dan Docking Baru untuk iPhone di CES 2026

27 Januari 2026 | 07:40
Samsung

Saatnya Ganti, Ini Daftar Lengkap HP Samsung yang Tak Lagi Dapat Update di 2026

27 Januari 2026 | 07:33

Tag

2022 Andra Soni ASN banjir Banten BRI Brigadir J BRI Super League Cilegon drakor drama Korea Film Harga Tiket Helldy Agustian Indonesia Jadwal jadwal tayang Kabupaten Lebak kabupaten serang Kota Cilegon Kota Serang Lebak link nonton link twibbon lowongan kerja Pandeglang Pemkot Cilegon pemkot serang Pemprov Banten pilkada Polisi Preman Pensiun 6 Preman Pensiun 7 profil provinsi banten Ramadhan Robinsar serang sinopsis spoiler sub indo Timnas Indonesia Twibbon UMKM viral
Banten Raya

© 2026 Banten Raya - Berkualitas dan Berbeda

Nomor ID Pers : 26666 | Status Pendataan : Terverifikasi Faktual | Sertifikat : 1393/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Digital Banten Raya
  • Ecommerce Banten Raya
  • Siding Banten Raya
  • Share Banten Raya

Ikuti Kami

  • Daerah
  • Nasional
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal

© 2026 Banten Raya - Berkualitas dan Berbeda