Oleh: Dedy Khaerudin
BANTENRAYA.COM – Provinsi Banten merupakan wilayan dengan banyak ragam produk unggulan Industri kreatif yang dihasilkan, mulai dari kain tenun khas Banten, makanan tradisional, minuman, kerajinan dari bambu, tas, dompet dari kulit, dan lain-lain.
Dari 16 subsektor industri kreatif di Indonesia yang berkontribusi terhadap PDB nasional di dominasi oleh 3 subsektor, antara lain kuliner 41,69%, fashion 18,15%, dan kriya 15,70%.
Sementara itu produksi terhadap ekspor Indonesia juga di dominasi oleh subsektor berturut-turut, yaitu fashion (56%), kriya (37%), kuliner (6%) dan lainnya (1%).
Baca Juga: Menteri Kebudayaan Fadli Zon Usul Situs Banten Lama Jadi Cagar Budaya Nasional
Kemudian jika dilihat dari asal masing-masing provinsi Jawa Barat (33,56%), Jawa Timur (20,85%), Banten (15,66%) merupakan 3 provinsi yang memberikan kontribusi paling besar dan menyerap tenaga kerja, didominasi lulusan SMP 36,10%, SMA 57,20%, dan Diploma keatas 6,70% (BPS., & BeKaf, 2018).
Banten, sebagai peringkat ketiga dalam kontribusi ekspor produk industri kerajinan, hal tersebut belum mencerminkan secara utuh produk kerajinan yang sesungguhnya.
Hal tersebut berdasarkan data masih didominasi komoditas sepatu dan peralatan kaki lainnya.
Baca Juga: Rakor, STAI Syekh Manshur Usung Lima Program Prioritas untuk Tahun 2025
Sementara itu tingkat pengangguran terbuka Provinsi Banten mencapai 6,68% posisi kedua tertinggi di Indonesia, hal tersebut menunjukan bahwa peran industri kreatif sektor industri kerajinan belum optimal dalam mengatasi permasalahan pengangguran (BPS, 2024).
Kondisi tersebut perlu adanya langkah kongkrit bersama, yang perlu dirumuskan antara pemerintah dengan pelaku usaha agar tercipta sinergi dalam kontribusi meningkatkan usaha dari sektor ini.
Konsep program pemerintah yang dirancang dibuat sedemikian rupa untuk mencukupi dan memenuhi akan kebutuhan bagi para pelaku usaha guna mengembangkan usahanya.
Baca Juga: Nonton When The Stars Gossip Episode 6 Sub Indo: Rahasia Ryong dan Seung Joon Bakal Terbongkar?
Program tesebut misalnya; memberikan pelatihan keterampilan berbasis kebutuhan pasar, membuka akses pendidikan vokasi untuk mendukung pengembangan industri kreatif, memfasilitasi pelaku usaha melalui pendampingan untuk meningkatkan kualitas produk, legalitas usaha, dan sertifikasi, serta pembuatan hak paten.
Upaya lain yang dilakukan seperti melakukan promosi produk lokal melalui platform digital, pameran rutin, serta pemberian insentif berupa subsidi bahan baku atau kredit usaha rakyat juga penting dilakukan.
Sedangkan dari pelaku usaha lebih fokus pada inovasi produk dengan mengintegrasikan desain tradisional dan modern, meningkatkan kapasitas tenaga kerja melalui pelatihan, serta memanfaatkan teknologi digital seperti e-commerce dan media sosial untuk memperluas pasar.
Baca Juga: Begini Isi Klarifikasi Uya Kuya, Usai Video Rekaman Bekas Kebakaran Los Angles
Kolaborasi dengan komunitas lokal juga menjadi kunci untuk menggali ide kreatif dan menciptakan peluang kerja berbasis kelompok.
Sinergi ini dapat direalisasikan melalui pembangunan kawasan ekonomi kreatif yang terintegrasi dengan fasilitas produksi, pelatihan, dan pemasaran, serta program branding terpadu untuk meningkatkan identitas produk lokal di pasar global.
Dengan langkah-langkah kesinergian tersebut, diharapkan industry kerajinan di Banten dapat berkembang lebih optimal, guna menampung dan mengurangi tingkat pengangguran di Banten yang masih tinggi.
Baca Juga: Belum Kantongi Izin, Pagar Laut Ilegal di Tangerang Bakal Dibongkar Pemprov Banten
Keselarasan program pemerintah dengan kebutuhan para pelaku usaha untuk mengembangkan industri kerajinan sangatlah penting, tanpa adanya hal tersebut mustahil akan terjalin kebersamaan membangun budaya ekonomi lokal bisa terwujud.***
Penulis adalah Mahasiswa Doctoral Teknik Industri, UII Yogjakarta.




















