BANTENRAYA.COM – Bila Pangandaran punya kopi luwak, Banten punya kopi lalay.
Kopi luwak diproduksi oleh hewan luwak, sementara kopi lalay diproduksi oleh kelelawar.
Lalu bagaimana rasanya?
Beni Badaruzzaman, pegiat kopi Gunung Karang, mengambil sebuah biji kopi dari bungkusnya.
Baca Juga: Buruh Dorong Kenaikan UMK Kabupaten Serang 10,9 Persen, Jadi Segini Besarannya
Berbeda dengan biji kopi pada umumnya yang berwarna cokelat, biji kopi yang dipegang Beni tampak lebih ke warna krem.
Perlahan dia mengupas biji kopi itu.
Ada kulit kopi yang keras.
Lalu dia mengupas lagi kulit kopi yang lebih tipis dari yang sebelumnya.
Baca Juga: Pilkada, Apa Hakikatnya Bagi Masyarakat Daerah
Itulah biji kopi kelelawar khas Gunung Karang, Banten.
Beni mengatakan, itulah karakteristik dari kopi kelelawar atau lalay dalam bahasa Sunda.
Bila kopi pada umumnya sudah dalam bentuk biji kopi, kopi kelelawar pasti menyisakan dua dari tiga kulit kopinya.
Sebab kelelawar tidak pernah memakan kulit kopi yang keras yang merupakan kulit kedua dan ketiga setelah kulit atau daging kopi dimakannya.
“Makanya kalau ada yang bilang kopi lalay tapi hanya bijinya dan nggak ada kulitnya maka diragukan keasliannya,” kata Beni.
Sayangnya, jumlah kopi lalay Gunung Karang sangat sedikit.
Dalam setahun, petani hanya mampu mengumpulkan 400 kg biji kopi lalay.
Baru pada tahun 2024 lalu biji kopi lalay yang berhasil dikumpulkan petani mencapai 800 kg setahun.
Baca Juga: Harga Telur Ayam di Pasar Induk Rau Kota Serang Merangkak Naik, Sudah Tembus Rp 30 Ribu
Sedikitnya biji kopi lalay karena proses memanem biji kopi dilakukan dengan memungut biji kopi yang ada di tanah.
Biji-biji kopi ini dijatuhkan oleh kelelawar setelah daging kopi yang matang dimakan.
Berbeda dengan luwak yang bisa diternak dan dibudidaya untuk menghasilkan kopi luwak, hingga saat ini belum ada yang bisa mengembangbiakkan kelelawar untuk menghasilkan kopi lalay.
Sehingga, para petani masih mengandalkan proses alamiah ketika memanen biji kopi.
Baca Juga: Rangkaian Dies Natalis, STAI Syekh Manshur Gelar Stadium General Literasi Finansial
Namun terbatasnya jumlah kopi lalay membuat harga kopi lalay sangat nendang.
Saat ini, harga kopi lalay adalah Rp450 ribu per kg, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga kopi robusta pada umumnya.
Kopi lalay sendiri merupakan kopi dengan variestas beragam, mulai dari robusta, arabika, liberika, hingga ekselsa.
Kopi lalay diperkirakan berasal dari pohon kopi berusia ratusan tahun yang ada di daerah Lawangtaji, Gunung Karang, Kabupaten Pandeglang.
Baca Juga: Semua Pasangan Calon pada Pilkada Kota Cilegon 2024 Dinilai Patuh dalam Pelaporan Dana Kampanye
Beni mengaku, baru beberapa tahun ke belakang nyebur di dunia perkopian.
Sahabatnya bernama Maman yang pertama kali mengajaknya untuk mengembangkan kopi lalay.
Kang Maman, penemu kopi lalay, mengatakan, keunikan kopi lalay ada pada kopinya.
Kopi ini dipanen secara alami oleh kelelawar dengan memakan daging buah kopi yang sudah matang (cheri) lalu membuang biji kopinya ke tanah.
Baca Juga: Penyerapan DIPA 2025 di Provinsi Banten, Pj Gubernur Tekankan Efektivitas dan Dampak bagi Masyarakat
Biji-biji kopi yang berserakan di tanah inilah yang dikumpulkan oleh masyarakat sekitar lalu diproses menjadi biji kopi.
Produk kopi lalay ini kemudian diberi merek “Leupeh Lalay”.***


















