BANTENRAYA.COM – Tingginya harga dan minimnya ketersediaan bahan pangan dipasaran, membuat laju inflasi di Provinsi Banten terus mengalami kenaikan.
Hal tersebut dibuktikan dengan angka persentase inflasi daerah di Banten yang masih stagnan di angka 3,06 persen di atas rata-rata angka inflasi nasional sebesar 3,0 persen.
Pj Gubernur Banten Al Muktabar mengatakan, penyumbang angka inflasi tertinggi ada pada komoditas beras dan cabai-cabaian.
Baca Juga: Capaian Tak Capai 80 Persen, Bupati Serang Soroti Penerimaan Pendapatan Tahun Anggaran 2023
Ia menuturkan, pada Desember 2023 lalu, beras menyumbang angka 0,53 persen untuk inflasi daerah, dan cabai di angka 0,24 persen.
Kedua komoditas tersebut, kata Al Muktabar, sudah mengalami kondisi yang membaik seetelah sebelumnya sangat mempengaruhi laju inflasi nasional.
“Untuk saat ini kita berfokus pada pengendalian harga di beberapa komoditas penyumbang inflasi,” ujarnya.
Baca Juga: Niat Tolong Temannya, ABG Hilang di Curug Kadupunah Lebak Ditemukan Tewas
“Seperti diantaranya adalah beras, bawang-bawangan, cabai dan daging ayam,” katanya saat ditemui usai mengikuti rapat koordinasi inflasi bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) via zoom meeting, pada Senin 15 Januari 2024.
“Posisinya sekarang itu masih ada selisih sekitar tujuh persenan, sudah jauh lebih turun dibandingkan beberapa waktu sebelumnya,” tuturnya.
“Tetapi tentu kita masih tetap memerlukan berbagai upaya untuk bisa mengendalikan harga beras dan menyuplai stok beras untuk masyarakat,” sambungnya.
Baca Juga: 1 Menit Lalu! Kode Redeem FF Free Fire 16 Januari 2023, Klaim Diamond, Room Card hingga Emote Gratis
Al Muktabar juga mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan kepada pemerintah pusat untuk meminta bibit dan pupuk agar segera dilakukan masa tanam pada.
Ia menilai, kelangkaan dan minimnya stok beras di Banten adalah dikarenakan sebelumnya Banten tengah mengalami fenomena el Nino atau kemarau panjang.
“Kita tahu bahwa beberapa bulan yang lalu kita sempat mengalami fenomena alam El Nino, dan itu sangat mempengaruhi masa panen kita di Banten sebagai lumbung padi nasional,” ungkapnya.
Baca Juga: 5 Cara Sederhana Alias Mudah Menghasilkan Uang dari Ponsel, Ada yang Bisa Sambil Rebahan
“Dan kita juga sudah kooridinasikan dan komunikasikan kepada pemerintah pusat untuk meminta dikirimkan bibit dan pupuknya dalam rangka mempercepat masa tanam,” lanjutnya.
Lebih lanjut Al Muktabar mengatakan, dibutuhkan kerja sama dan kolaborasi lintas sektor untuk dapat mengendalikan inflasi yang terjadi di Banten.
Untuk itu, kata dia, pemantauan dan koordinasi bersama adalah langkah yang bertujuan untuk mengevaluasi kondisi di setiap daerah di Provinsi Banten.
Baca Juga: INFO LOKER! PT Doosan Heavy Industries Butuh Karyawan untuk Posisi Ini
“Sehingga persoalan seperti apa, dan apa saja yang sedang dihadapi, bisa diintervensi bersama-sama,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian M Agus Tauchid mengatakan, saat ini Banten tengah mengalami kekurangan stok beras.
Karena, kebutuhan konsumsi beras untuk masyarakat Banten per bulannya mencapai 119.677 ton beras.
Sementara, produksi beras di Banten pada bulan Januari 2024 menurut prediksinya hanya mencapai 73.132 ton beras atau terjadi defisit beras.
“Jadi pada bulan Januari ini kita mengalami defisit angka sebesar 73.436 ton beras. Dan itu sudah berlangsung sejak Desember 2023 lalu,” ujarnya.
“Kami prediksi, dengan pemantauan yang sudah dilakukan, kondisi akan membaik di bulan Maret mendatang, karena di bulan itu produksi beras di Banten mengalami surplus,” kata Agus.
Agus menjelaskan, bukan tanpa alasan mengapa dirinya memprediksi akan surplus beras pada bulan Maret mendatang.
Hal tersebut dikarenakan pada Bulan Maret itu adalah hasil panen yang telah ditanam pada bulan Desember 2023 lalu.
Sementara, kata dia, untuk di Januari 2024 ini, adalah dampak karena fenomena alam kemarau el Nino yang sempat melanda Provinsi Banten.
“Untuk memenuhi dan menstabilkan harga di pasaran, kita mengandalkan beras impor yang ada dalam stok cadangan pangan pemerintah,” tuturnya.
“Hal itu dilakukan agar dapat menstabilkan harga beras dan mencegah pergerakan laju inflasi,” jelasnya.
Lebih lanjut Agus mengatakan, jumlah beras impor yang masuk ke Banten mencapai 70 ribu ton untuk setiap bulannya. Hal itu dilakukan untuk menambal defisit beras yang terjadi di Banten.
Baca Juga: Sewa Baterai Motor Listrik Polytron di Kota Serang Makin Diminati, Ini Alasannya
“Ada sekitar 70 ribu ton per bulan. Tapi kita harapkan kpndisi akan stabil di bulan Maret-April, karena barang (beras-red) akan cukup banyak dan mudah-mudahan dapat menuju harga keseimbangan baru,” imbuhnya.
Pada kesempatan yang lain, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten Babar Suharso mengungkapkan, kondisi harga beras yang tinggi sudah berlangsung cukup lama.
Penyebab utamanya, kata dia, masyarakat Banten lebih minat kepada beras lokal premium dibanding beras SPHP dari Bulog.
Sehingga, hal tersebut membuat harga beras di Provinsi Banten, masih konsisten berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp 13 ribu untuk jenis beras premium dalam beberapa minggu terakhir.
Baca Juga: Lets Go! Kode Redeem ML 16 Januari 2024, Ada Hadiah Eksklusif dari Moonton Secara Gratis Tanpa Topup
“Sejak awal itu memang sudah ada kenaikan, kita sudah antisipasi juga dengan mengeluarkan beras SPHP, tapi tetap saja tinggi karena ternyata masyarakat Banten lebih memilih beras lokal yang masuk kategori premium,” ucapnya.
“Jadi permintaan akan beras lokal premium ini meningkat, sementara beras medium kita kurang diminati,” kata Babar.
Ia mengatakan, jelang musim panen raya yang akan terjadi pada beberapa bulan ke depan, pihaknya berharap agar kondisi stabilitas harga di pasaran dapat lebih terjaga dan dapat terkendali.
“Tapi bulan ini (diprediksi) sudah memasuki masa panen raya, sehingga mudah-mudahan harganya sudah mulai mendekati normal,” pungkasnya. (mg-rafi) ***



















