BANTENRAYA.COM – Pemerintah Kota atau Pemkot Cilegon akan menggandeng investor asal Korea Selatan untuk membantu dalam mengelola Tempat Pengolahan Sampah Akhir atau TPSA Bagendung.
Meski, sebelumnya Pemkot Cilegon di era kepemimpinan Walilkota Helldy Agustian menjajaki kerja sama dengan Bank Dunia dalam pengelolaan TPSA Bagendung.
Namun proyek kerja sama tersebut kini batal dilakukan antara Pemkot Cilegon dengan Bank Dunia.
Walikota Cilegon Robinsar mengatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan investor asal Korea Selatan sebagai pengelola sampah dari pemilahan hingga proses pengolahan.
Baca Juga: Berawal dari Iseng, Pemuda Asal Kabupaten Pandeglang Dapat Rp1 Miliar dari Bisnis Fotografi
Kata dia, program kerja sama dengan Korea Selatan ini sudah ada proposalnya sejak 2 tahun lalu.
“Program dari Bank Dunia juga gak jadi, makanya saya sudah diskusikan akan menjalin kerja sama dengan investor Korea Selatan selaku pengelola sampahnya,” kata Robinsar kepada Banten Raya saat ditemui di kantor Walikota Cilegon, Senin 28 Juli 2025.
Saat ini pihaknya mengaku masih kekurangan peralatan-peralatan dan Sumber Daya Manusia atau SDM untuk di TPSA Bagendung.
Pengelolaan sampah di TPSA Bagendung tersebut untuk dijadikan berupa bahan bakar energi hijau.
Baca Juga: Apakah Tanggal 17 Agustus 2025 Terdapat Cuti Bersama? Cek Penjelasannya
“Nantinya olahan sampah dari TPSA Bagendung ini berupa bahan bakar energi hijau dan akan digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Suralaya,” tuturnya.
Ia mengungkapkan, kerja sama dengan investor asal Korea Selatan untuk pengolahan sampah TPSA Bagendung tersebut akan dimulai pada tahun 2026 mendatang.
“InsyaAllah program kerjasama dengan Investor Korea Selaatan ini akan terlaksana tahun 2026 nanti,” ungkapnya.
Dari kerja sama dengan investor Korea Selatan ini TPSA Bagendung diperkirakan dapat mengelola sampah sebanyak 170 ton dalam satu hari.
Baca Juga: Gebrakan Baru Mitsubishi Fuso di GIIAS 2025, Mobil yang Bawa Power Bank untuk Isi Daya
Pihak investor yang akan membantu dalam mengelola sampah, memilah, memproses sampah dari pihak investor, sampai nanti bisa dikirim ke pihak terkait.
“Kalau yang saat ini hanya 10 ton perhari, dan tidak maksimal. Yang bisa terurai hanya 3 ton saja. Nanti mesinnya akan datang langsung dari Korea Selatan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala DLH Kota Cilegon Sabri Mahyudin menyampaikan, pihaknya melakukan terobosan baru terkait pengelolaan sampah dan dengan investor Korea Selatan ini sudah berkoordinasi sejak Februari kemarin.
Batalnya Kota Cilegon mendapatkan bantuan dari Bank Dunia tertera dalam surat Kementrian PU bahwa terbatasnya sisa waktu pelaksanaan pinjaman ISWMP berakhir pada November 2025, dan belum mendapat persetujuan perpanjangan.
Baca Juga: Dewan Tidak Permasalahkan Sekda dari Luar Pemkab Serang
“Kalau Bank Dunia batal itu sudah dari kebijakan pusatnya, maka nanti investor Korea Selatan ini mencoba meningkatkan kapasitas sampah,” pungkasnya.***

















