BANTENRAYA.COM – Sebanyak 1.862 tenaga honorer di Kota Cilegon akan ikut dalam tes PPPK penuh waktu formasi Pemkot Cilegon.
Di mana, ribuan tenaga honorer tersebut akan memerebutkan kuota formasi 72 kursi PPPK penuh waktu.
Dalam tes PPPK penuh waktu itu sendiri, nantinya akan dilakukan sistem perangkingan, sehingga yang masuk adalah dengan nilai tertinggi.
Baca Juga: BRI Dukung Liga Kompas U14, Ajang Regenerasi Atlet Sepakbola Nasional
Kepala Bidang (Kabid) Pengadaan, Pemberhentian, dan Informasi Pegawai pada Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Cilegon Esih Yuandesih membenarkan ada sebanyak 1.862 pegawai honorer yang akan ikut dalam tes.
Dari seribuan peserta tersebut sekitar 90 persen diantaranya dipastikan tak akan mendapatkan mimpinya karena hanya tersedia 72 formasi.
“Iya betul (72 PPPK Paruh Waktu-red). 1.862 peserta (ikut dalam tes-red),” katanya, Rabu 7 Mei 2025.
Baca Juga: Lowongan Kerja di PT Timas Suplindo, Tersedia Banyak Posisi
Untuk sistem sendiri, jelas Esih, berbeda dengan sebelumnya yang memprioritaskan tenaga honorer Kategori (THK) 2 yang sudah tercatat di Badan Kepegawaian Nasional.
Sementara untuk tes PPPK penuh waktu kali ini akan menggunakan sistem peringkat atau perangkingan.
“Berdasarkan perangkingan atau peringkat nilai,” katanya menjawab apakah prioritas THK 2 atau berdasarkan perangkingan.
Baca Juga: Rekrutmen BPN Jawa Timur 2025, S1 Semua Jurusan Bisa Mendaftar
Esih menyatakan, bagi nantinya honorer yang tidak lolos belum ada kebijakan menjadi PPPK Paruh Waktu atau tidak sebagaimana tes tahap 1 yang sudah dilakukan.
“Kaitan ini belum ada kebijakan dari pemerintah pusat,” ucapnya.
Esih membenarkan, awal BKPSDM Kota Cilegon mengajukan sebanyak 300 formasi. Namun, hanya 72 formasi yang diberikan pemerintah pusat.
Baca Juga: Warga Keluhkan Pelebaran Jalan Tol Merak-Jakarta, Buat Terowongan Kaligandu Macet!
“Iya betul awal usulan formasi sebanyak 300 formasi,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu tenaga honorer yang sudah bekerja 10 tahun lebih di Kota Cilegon yang enggan disebutkan namanya menyatakan, dirinya sudah bekerja dan mengabdi selama 10 tahun lebih. Untuk itu, berharap dirinya bisa menjadi prioritas.
“Ini yang menjadi kendala. Kami harus berkompetisi dengan para honorer yang baru masuk hanya 2 tahun lalu. Ini tentu tidak adil,” ucapnya.
“Saya berharap yang sudah bekerja puluhan tahun menjadi prioritas, sehingga ada kejelasan nasib honorer yang sudah lama mengabdi dan bekerja,” ujarnya. ***

















