BANTENRAYA.COM – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Cilegon bekerjasama dengan Yayasan Gaksa Trans Kultura meluncurkan buku Tandak Pantun Tanah Jawara.
Dimana, buku tersebut diharapkan mampu menjadikan Bahasa Cilegon dan Banten tetap lestari.
Presiden Yayasan Gaksa Banten Ega Prayoga menegaskan, buku tersebut menjadi upaya agar budaya dan Bahasa Cilegon dna Banten bisa terus dilestarikan.
Baca Juga: Dinkes Cilegon Batasi Kuota Cek Kesehatan Gratis Saat Ulang Tahun, Satu Hari Hanya 30 Orang
“Peluncuran buku ini juga merupakan upaya kami dalam melestarikan budaya, terutama bahasa Cilegon dan Banten, katanya, Minggu 16 Februari 2025.
Ega menyatakan, sebagai Yayasan yang memiliki visi pengembangan budaya diharapkan dengan buku tersebut banyak dibaca dan dijadikan referensi.
“Dengan peluncuran buku ini, kami mewujudkan visi kami untuk menjadi pusat pengembangan kebudayaan melalui berbagai aktivitas kesenian yang memberikan dampak signifikan terhadap pendidikan dan kehidupan masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala DPK Kota Cilegon Ismatullah Syihabudin menyampaikan, apresiasi kepada Yayasan Gaksa atas dukungannya dalam proses ini. “Dengan dukungan Yayasan ini maka buku ini bisa terbit,” jelasnya.
Penyair asal Singapura Rohani Din menyampaikan, dirinya terlibat langsung dalam proses penulisan Tandak Pantun Tanah Jawara. Dimana, tantangan dalam menyelesaikan buku tersebut.
“Buku ini hampir tidak jadi terbit karena kondisi kesehatan kami, namun alhamdulillah, doa kami dikabulkan dan buku ini akhirnya dapat diterbitkan,” katanya.
Baca Juga: Banyak Honorer Belum Diangkat Jadi ASN, Komisi II DPR Dorong Regulasi PPPK Gaji yang Layak
Disisi lain, papar Ani panggilan akrab Rohani Din menyatakan, ada sebanyak 44 guru dari 44 sekolah di Banten yang mengirimkan pantun dan menjadi buku. Termasuk, Ismatullah juga yang rajin mengirimkan pantunnya.
“Buku ini ditulis oleh 44 guru dari 44 sekolah di Cilegon dan Serang, termasuk kepala DPK pak Ismatullah yang banyak sekali mengirimkan pantunnya, sehingga lahirlah buku ini dengan 160 halaman yang berisi lebih dari 300 Pantun, yang juga ditulis selama 1 tahun melalui pelatihan,” pungkasnya.***

















