BANTENRAYA.COM – Sahabat kita yang pergaulannya mendekatkan ke maksiat akan mempengaruhi keimanan kita.
Demikian disampaikan Ustadz Adi Hidayat dalam kajiannya di youtube Adi Hidayat Official, yang diunggah pada Selasa, 21 September 2022.
Dalam kajian yang mengangkat tema “Nasehat Rasulullah untuk Para Orangtua” itu, UAH – nama tenar Ustadz Adi Hidayat, dengan siapa dia bergaul, dia akan mempengaruhi keimanannya.
Baca Juga: Ustadz Adi Hidayat Ingatkan Para Orangtua, Pilih Sekolah Ajarkan Salat dan Cinta Alquran
Kata UAH, teman adalah yang mengiringi aktivitas keseharian, baik di kantor maupun di rumah, seperti istri, atau suami, dan lainnya.
“Bahkan di rumah sendiri, teman hidup suaminya, istrinya sangat pengaruh. Jadi, kalau pergaulan itu menghadirkan sahabat. Sahabat itu dari kata Sohibu artinya dekat, melekat. Kalau yang dekat mendekatkan ke maksiat atau minimal yang hal-hal meragukan atau bercampur, bahasa agamanya Subhat, ini pengaruhi iman, pada pelemahan (Iman),” kata UAH.
Ia menjelaskan, sebelum punya sahabat, biasanya tidur lebih awal agar bisa Salat Tahajud. Karena dapat sahabat yang hobinya nonton bola hingga larut malam, ia terpaksa harus ikut nonton.
Baca Juga: Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj Prihatin Warga NU banyak yang Terpuruk Bahkan Miskin
“Sering ngajak, kamu nih demi persahabatan kita, ayolah nonton, Mesi nih pertandingan pertama, PSG, udah kemaren kesulitan, misal. Terus didorong dorong, akhirnya dicoba dicoba, lama lama (Kebiasaan nonton). Ini bisa turunkan, melemahkan keadaan iman,” tegasnya.
“Pak ustadz, nonton bola kan tidak maksiat?Betul tidak maksiat, tidak dilarang, boleh boleh saja, tapi dikerjakannya kapan? di waktu apa? dan berpengaruh nggak kepada yang positif?,” sambung UAH.
Menurut UAH, dirinya sering memberikan gambaran kepada teman-temannya, jika sesuatu yang bisa dikerjakan atau dilihat besok dan ada peluang untuk dikerjakan yang sama saja dengan yang sekarang itu akan lebih baik ditangguhkan waktunya bila kegiatannya bersamaan dengan sesuatu yang esok hari itu tidak sama nilainya dengan sekarang.
“Contoh misalnya, ada pertandiangan bola, sekarang ada rekaman, rekamannya ada. Apa yang dilhat malam nanti, besoknya bisa dicek lagi. Jangankan besok, pekan depan bisa dilihat, jangankan pekan depan ituangan jam itu sudah muncul, dan sama persis, hasilnya tidak berubah tayang. Saat bersamaan waktunya berlangsung dengan Salat Tahajud, mislanya, Tahajud malam ini kan tidak sama dengan Tahajud besok, Tahajud besok untuk besok, kalau tidak dikerjakan sekarang pahalanya hilang, kesempatan ilang. Maka jika kesempatannya sama, nonton bola dengan Tahajud akan lebih baik dahulukan dulu yang banyak manfaatnya, untuk hati, untuk kehidupan kita akhirat kita, bola bis kita lihat nanti,” jelasnya. **

















