SERANG, BANTEN RAYA- Sejumlah pedagang di Kota Serang mengeluhkan penurunan omset atau pendapatan selama penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat Covid-19 sejak 3 Juli 2021 lalu. Pendapatan mereka pun semakin hari semakin sedikit. Bahkan mereka terancam gulung tikar karena modal terus terpakai, sementara pendapatan terus menurun.
Salim, salah seorang penjual soto dan bubur ayam di Stadion Maulana Yusuf (MY) Ciceri, Kota Serang mengatakan, sejak PPKM darurat Jawa-Bali diterapkan, pendapatannya semakin hari terus menurun. Kota Serang sendiri merupakan salah satu daerah yang wajib melaksanakan PPKM darurat.
“Selama PPKM darurat pendapatan saya turun, bahkan terjun bebas,” katanya, Kamis (8/7/2021).
Salim menceritakan, biasanya dalam sehari ia bisa menghabiskan 300 sampai 400 mangkuk soto dan bubur ayam. Namun saat PPKM darurat diberlakukan seperti sekarang, dalam sehari ia hanya mampu menjual 100 mangkuk soto dan bubur ayam.
“Kalau sebelum PPKM darurat itu 300 sampe 400 porsi itu pasti habis sehari,” ujar Salim.
Ia menuturkan, pemberlakuan PPKM darurat di Kota Serang membuat pegawai di perkantoran, sekolah, hingga masyarakat biasa jarang datang ke lapak jualannya yang berada di dekat kantor Disparpora Kota Serang dan SD Islam Bina Bangsa. Padahal, biasanya setiap pagi lapak jualannya ramai dengan konsumen.
“Yang olah raga sama orang tua yang nunggu anaknya sekolah biasanya pada makan di sini. Kalau sekarang enggak serame dulu,” ucapnya.
Salim juga mengeluhkan harga bahan-bahan yang diperlukan untuk jualan seperti beras, ayam, bawang, dan cabai yang mulai merangkak naik. Hal ini menyebabkan modal yang dikeluarkan menjadi lebih banyak, sementara keutungan semakin menipis.
“Hampir semua harga pada naek. Jadi untungnya makin tipis,” ujar Salim.
Meski demikian, dia bersyukur karena masih bisa memberi makan keluarganya, walau hanya sebatas kebutuhan perut.
“Alhamdulillah, cukup buat makan sama belanja bahan saja. Karena kan porsi juga kan dibatasi hanya sedikit,” tuturnya.
Saksikan Podcast Meja Redaksi di Banten Raya Channel
Dulhadi, pedagang bubur ayam di Pasar Lama, Kota Serang merasakan hal yang sama dengan Salim. Duhadi mengatakan, saat ini penjualan bubur ayam miliknya sedang menurun drastis lantaran ada pemberlakuan PPKM darurat. Biasanya, walau dalam masa pandemi Covid-19, empat sampai lima liter bubur ayam atau sekitar 140 porsi bisa habis dalam sehari.
“Tapi sejak ada korona, terus ditambah PPKM (darurat) sekarang ini, paling cuma dua liter, itu pun kadang tidak habis. Makanya sekarang ini semakin terasa ujiannya,” ujarnya.
Dulhadi mengatakan, bukan hanya dirinya saja yang merasakan kesulitan seperti ini, tapi pedagang-pedagang lain pun merasakan hal yang sama. Baik pedagang kecil seperti dirinya maupun pedagang besar dengan modal besar.
“Mungkin bukan hanya saya, pedagang lain juga merasakan,” tuturnya. (tohir/rahmat)















