BANTENRAYA.COM – Bank Banten (BEKS) menjadi sorotan Bursa Efek Indonesia atau BEI untuk berbagai hal yang dianggap perlu penjelasan manajemen.
BEI fokus pada pos yang tercatat di laporan keuangan BEKS pada periode 30 September 2025.
Salah satu hal yang menarik perhatian dari pertanyaan BEI ialah soal defisit. Di sini, Bank Banten tercatat memiliki hingga defisit Rp2,82 triliun.
BEI memberikan pertanyaan terkait bagaimana kondisi tersebut bisa terjadi hingga langkah apa yang disiapkan Bank Banten untuk mengatasi defisit tersebut.
Melalui surat tertanda Corporate Secretary Bank Banten Ferdy Ardian dan Kepala Divisi Perencanaan Akuntansi dan Keuangan Bank Banten Purbaji Basuki dalam keterbukaan informasi publik.
Bank Banten menjelaskan, defisit yang dimaksud terjadi karena kerugian operasional yang terakumulasi pada tahun-tahun sebelumnya. Termasuk disebabkan penyisihan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang signifikan.
BACA JUGA : BEI Banten Sambut Baik Rencana Free Float 30 Persen
Atas kondisi itu, Bank Banten pun telah menyiapkan peningkatan efisiensi operasional. Kemudian, fokus pada segmen yang profitable, hingga mempertimbangkan opsi penambahan modal melalui rights issue atau strategic investor.
Selain itu, Bank Banten telah melakukan penilaian going concern dan menyimpulkan bahwa rencana perbaikan dan dukungan pemegang saham, perseroan dapat melanjutkan operasi.
Terlepas dari itu, Bank Banten sebelumnya sudah masuk dalam kelompok usaha bank (KUB) Bank Jatim. Di sini, Bank Jatim menjadi Pemegang Saham Pengendali II dari Bank Banten.
Selain itu, BEI juga menyoroti soal pembiayaan rumah yang digelontorkan bank Banten sebesar Rp888,8 miliar yang tumbuh 29.089 persen, pada 30 September 2025 dibandingkan periode 31 Desember 2024.
Manajemen Bank Banten menjawab, pada tahun 2024, kategori Pembiayaan Rumah hanya mencakup 5 sekom. Seiring dengan penyempurnaan sistem pelaporan dan pemetaan metadata di tahun 2025, cakupan sekom dalam kategori tersebut diperluas menjadi 11 sekom.
Hal ini mengakibatkan sejumlah pos pembiayaan yang sebelumnya dilaporkan di bawah kategori “Lain-lain” pada tahun 2024, dialihkan dan dikonsolidasikan ke dalam kategori “Pembiayaan Rumah” pada tahun 2025.
BACA JUGA : Galeri Investasi BEI di Kampus Berkomitmen Tingkatkan Jumlah Investor
Dengan demikian, peningkatan yang signifikan tersebut secara substansial mencerminkan perubahan klasifikasi dan perluasan cakupan pelaporan, yang memberikan gambaran yang lebih komprehensif dan terpadu mengenai portofolio pembiayaan rumah pada periode pelaporan 2025.
Perluasan cakupan sektor ekonomi (sekom) mengubah komposisi portofolio pembiayaan rumah itu sendiri, meskipun porsinya relatif kecil sekitar 0,02 persen dari total kredit Bank yang mencapai Rp4.447 triliun. Dengan outstanding sebesar Rp891,43 miliar dan rata-rata tenor 8 tahun.
Bank Banten mengklaim kualitas kredit yang diberikan juga baik yakni sebesar 93,07 persen dari outstanding pembiayaan rumah termasuk dalam kolektibilitas 1 (lancar), menunjukkan performa pembayaran yang sehat hingga saat ini.
Pihaknya juga menjelaskan jika tidak terdapat konsentrasi signifikan pada segmen atau debitur tertentu. Portofolio tersebar dengan debitur terbesar di bawah 5 persen dari total pembiayaan rumah. (***)



















