BANTENRAYA.COM – Fibonacci Retracement adalah sebuah alat dalam analisis teknikal yang berfungsi untuk menentukan level level support dan resistance yang didasarkan pada rasio Fibonacci. Dalam konteks futures trading, indikator ini dapat memandu trader dalam menetapkan titik masuk, peluang, dan batas kerugian.
Untuk itu kemampuan membaca pergerakan kurs bitcoin sangat penting ketika kamu ingin trading Bitcoin atau aset lainnya. Dengan menganalisa melalui grafik pergerakan pasar maka kamu bisa menghindari kerugian dan mendapatkan peluang.
Sebelum membahas tentang bagaimana menggunakan Fibonacci dalam futures trading, maka kamu juga harus mengetahui definisi Fibonacci, indikatornya, dan cara memanfaatkan Fibonacci tersebut.
Baca Juga: 7 Gombalan Maut Yayat Preman Pensiun 9, Penjual Kopi Sang Pemuja Keindangan di Bumi dan Langit
Apa itu Fibonacci?
Dilansir dari Pintu Academy, Fibonacci merujuk pada kumpulan angka yang dibuat dengan cara menjumlahkan dua angka sebelumnya. Deret angka dalam urutan Fibonacci adalah: 0, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, dan seterusnya. Deretan ini dapat digunakan untuk membangun retracement dan ekstensi Fibonacci.
Namun dalam konteks retracement dan ekstensi Fibonacci, angka-angka ini diubah menjadi rasio yang ditampilkan dalam persentase atau bilangan desimal.
Contoh angka yang ada pada retracement Fibonacci adalah 0,236 atau 23,6%, 0,382 atau 38,2%, 0,618 atau 61,8%, 0,764 atau 78,6%, hingga 1 atau 100%. Sebaliknya, angka dalam ekstensi Fibonacci terdiri dari 1,000 atau 100%, 1,618 atau 161,8%, 2,618 atau 261,8%, 3,618 atau 361,8%, dan 4,236 atau 423,6%.
Baca Juga: Jadwal Libur Lebaran Idul Fitri 2025 Anak Sekolah Dimulai 21 Maret, Simak Informasinya Di Sini
Rasio-rasio ini sering terlihat dalam pergerakan harga aset karena berhubungan dengan psikologi manusia dan perilaku pasar (perilaku kawanan). Anggapan ini didukung oleh fakta bahwa pergerakan harga tidak pernah lurus, melainkan membentuk pola zig-zag.
Contohnya, dalam uptrend, harga tidak akan langsung naik, tetapi akan ada koreksi kecil sebelum melanjutkan kenaikan. Begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, rasio tersebut dapat digunakan sebagai panduan untuk meramalkan arah pergerakan harga.
Tak mengherankan jika retracement dan ekstensi Fibonacci digunakan untuk menentukan level support, resistance, atau target harga. Hal ini menjadikan keduanya sangat efektif saat digabungkan dengan limit order untuk meningkatkan eksekusi trading.
Baca Juga: BBPOM Bakal Sidak Jajanan Makanan di Luar Sekolah di Kota Serang
Indikator Fibonacci
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, indikator Fibonacci terdiri dari dua jenis: retracement Fibonacci dan ekstensi Fibonacci.
- Fibonacci Retracement
Retracement Fibonacci adalah garis horizontal di grafik harga yang menunjukkan area kemungkinan akan ada support atau resistance. Ini memperlihatkan seberapa besar kemungkinan tren sebelumnya akan mengalami pembalikan sebelum melanjutkan arahnya.
Dengan kata lain, ia digunakan untuk memperkirakan pullback yang terjadi dalam suatu trend pergerakan harga. Pullback adalah gerakan harga yang berlawanan dengan arah trend yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Kenali Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar, Inilah Amalan yang Dianjurkan untuk Raih Keberkahan
Dengan memanfaatkan retracement Fibonacci, trader dapat menunjuk level support dan resistance potensial selama harga mengalami retracement dalam suatu tren. Saat terjadi retracement di uptrend, level Fibonacci yang muncul dapat digunakan sebagai area support atau titik masuk.
Sebaliknya, retracement di downtrend akan mengarah pada level Fibonacci yang bisa berfungsi sebagai resistance atau titik keluar. Harga pada retracement Fibonacci diperoleh dengan menerapkan rasio Fibonacci, seperti 23,6%, 38,2%, 50%, 61,8%, dan 78,6% pada swing harga sebelumnya.
- Fibonacci Extension
Ekstensi Fibonacci adalah garis horizontal pada grafik harga yang menunjukkan level harga di mana tren mungkin mencapai target harga atau berbalik arah.
Baca Juga: Dewan Banten Soroti Banyak Jalur Mudik di Provinsi Banten yang Rusak
Ini berbeda dari retracement Fibonacci, karena ekstensi ini tidak mempertimbangkan retracement harga dan lebih fokus pada perkiraan sejauh mana harga akan bergerak setelah pullback selesai.
Anggapannya, ketika harga melewati satu level ekstensi Fibonacci, kemungkinan besar pergerakannya akan terus berlanjut. Dengan kata lain, ekstensi Fibonacci menunjukkan area yang mungkin menarik perhatian.
Untuk alasan ini, para pedagang sering memanfaatkan fibonacci extensions untuk menetapkan target harga sebagai titik untuk mengambil peluang. Dalam penerapan fibonacci extensions, pedagang telah yakin bahwa harga dari aset tersebut akan mengalami kenaikan ke depan.
Baca Juga: Liga 4 Putaran Nasional Dimulai 21 April, Persic dan Harimau Indonesia Siap-Siap
Tingkat harga pada fibonacci extensions diperoleh dengan menggunakan rasio fibonacci seperti 61.8%, 100%, 127.2%, 161.8%, dan 261.8% setelah retracement yang telah terjadi sebelumnya.
Memahami Fibonacci
Fibonacci Retracement berakar pada deret Fibonacci, di mana setiap angka adalah hasil penjumlahan dari dua angka sebelumnya. Rasio penting yang diterapkan dalam analisis teknikal mencakup 23,6%, 38,2%, 50%, 61,8%, dan 78,6%.
Dalam futures trading, Fibonacci membantu mengidentifikasi area di mana harga mungkin mengalami penarikan kembali sebelum melanjutkan tren utama. Misalnya, dalam tren naik, harga sering kali mengalami koreksi hingga mencapai level 38,2% atau 61,8% sebelum kembali naik.
Baca Juga: Dispora Kabupaten Tangerang Dorong Peningkatan Prestasi Atlet Melalui 50 Pelatih PPLPD
Cara Menggunakan Fibonacci Retracement dalam Futures Trading
Menentukan Titik Tertinggi dan Titik Terendah
Untuk memanfaatkan Fibonacci, trader perlu menemukan titik tertinggi (swing high) dan titik terendah (swing low) dari tren yang berlangsung.
- Ketika harga berada dalam tren naik, gambar garis dari swing low ke swing high.
- Ketika harga dalam tren turun, gambar garis dari swing high ke swing low.
Menentukan Level Masuk dan Keluar
Setelah garis Fibonacci ditarik, trader dapat menggunakan level-level retracement ini sebagai panduan untuk menentukan titik masuk dan keluar:
Baca Juga: Kenali Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar, Inilah Amalan yang Dianjurkan untuk Raih Keberkahan
Masuk Beli: Jika harga naik dan mengalami koreksi hingga level 38,2% atau 61,8%, ini bisa menjadi lokasi yang baik untuk membuka posisi long.
Masuk Jual: Jika harga turun dan mendapatkan penarikan kembali hingga level 38,2% atau 61,8%, ini bisa menjadi peluang untuk membuka posisi short.
Stop-Loss: Tempatkan stop-loss sedikit di bawah level retracement berikutnya untuk mengantisipasi pergerakan harga yang berlawanan.
Ambil Peluang: Sasaran peluang bisa ditempatkan di level ekstensi Fibonacci atau di area resistance yang terdekat.
Baca Juga: Pemprov Banten Klaim Kondisi Fiskal Keuangan Sehat, Meski Ada Banyak Efisiensi Anggaran
Kombinasi dengan Indikator Lain
Fibonacci Retracement akan menjadi lebih ampuh jika digabungkan dengan indikator lain seperti Moving Average, RSI, atau MACD untuk memperkuat sinyal masuk dan keluar.
Kesalahan Umum dalam Penggunaan Fibonacci Retracement
Menggunakan Swing High dan Swing Low yang Tidak Akurat
Menetapkan titik swing yang tidak tepat dapat menghasilkan level retracement yang salah dan menyebabkan keputusan trading yang tidak akurat.
Baca Juga: Pesantren Kilat di Kota Tangerang Diadakan Serentak, Siap Semarakkan Ramadhan 2025
Mengandalkan Fibonacci Tanpa Bukti Tambahan
Sebaiknya, Fibonacci Retracement tidak digunakan sebagai satu-satunya alat analisis. Bukti tambahan dari pergerakan harga atau indikator teknikal lainnya diperlukan untuk meningkatkan ketepatan analisis.
Mengabaikan Tren Utama
Menggunakan Fibonacci Retracement berlawanan dengan tren utama dapat menambah risiko kesalahan analisis. Pastikan selalu mengikuti arah trend yang dominan sebelum membuka posisi.
Dari pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan, sebagai alat analisis teknikal, fibonacci retracement serta extensions dapat membantu trader dalam menentukan zona support, resistance, serta target harga. Namun demikian, sama seperti indikator teknikal lain, kedua alat ini tidak selalu memberikan hasil yang tepat.
Baca Juga: Teori Cinta Mati Episode 10A dan 10B: Nasib Aleya hingga Bara Bakal Jadi Ubi?
Selain itu, indikator fibonacci tidak dapat digunakan secara terpisah sebagai satu-satunya metode analisis. Penggunaan alat analisis teknikal lainnya, seperti moving average, stochastic, dan indikator teknikal lainnya, tetap diperlukan untuk mencapai hasil analisis yang lebih baik.
Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif.
Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor.***



















