Akibatnya, aliran air bercampur lumpur dan sedimen tambang masuk ke sungai-sungai kecil seperti Kali Klancip dan Kali Asin yang kemudian meluap ke kawasan permukiman.
Selain kerusakan di hulu, masalah lain muncul pada bagian tengah dan hilir aliran sungai. Ruli menemukan banyak sungai mengalami penyempitan akibat pembangunan di bantaran sungai serta penumpukan limbah.
“Sungai yang secara teknis seharusnya memiliki lebar 12 meter untuk menampung debit banjir tahunan, ditemukan menyempit hingga hanya sekitar 3 meter di beberapa titik,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat kapasitas sungai tidak lagi mampu menampung aliran air saat hujan deras. Di sisi lain, aktivitas industri dan reklamasi di kawasan pesisir juga turut mengubah dinamika aliran air menuju laut.
Menurut Ruli, penyempitan muara sungai akibat pembangunan kawasan industri dan pelabuhan menyebabkan air sungai sulit keluar ketika pasang laut terjadi.
“Air laut yang mendorong masuk ke muara sungai bertemu dengan debit banjir dari hulu, sehingga air tidak dapat keluar ke laut dan justru meluap ke daratan,” jelasnya.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Ruli menilai penanganan banjir di Bojonegara harus dilakukan secara terpadu dari kawasan hulu hingga pesisir.
Dia menyarankan pembangunan sabodam atau check dam di area tambang untuk menahan sedimen, restorasi vegetasi di perbukitan, hingga normalisasi sungai yang mengalami penyempitan.
“Normalisasi dan pelebaran Sungai Klancip perlu dilakukan hingga mencapai lebar minimal 12 meter secara konsisten dari hulu sampai hilir,” katanya.
Selain itu, pembangunan kolam retensi, tanggul pantai, serta pintu air otomatis di muara sungai juga dinilai penting untuk mengantisipasi pertemuan antara banjir kiriman dari darat dan pasang laut.
Ruli juga menekankan pentingnya penegakan hukum terhadap tambang ilegal serta audit lingkungan terhadap perusahaan yang beroperasi di kawasan industri Bojonegara.
“Langkah fisik tidak akan bertahan lama tanpa didukung tata kelola lingkungan yang kuat dan penegakan hukum yang tegas,” ujarnya.
Ia menegaskan, banjir yang terjadi di Bojonegara merupakan peringatan bahwa pembangunan industri harus tetap mempertimbangkan daya dukung lingkungan.
Banjir di Bojonegara bukan sekadar kegagalan infrastruktur, melainkan cerminan kegagalan tata kelola lingkungan dalam mengimbangi laju industrialisasi yang agresif. ***















