BANTENRAYA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon terus memberikan perhatian serius dalam penanganan dan penanggulangan masalah banjir.
Bahkan, respons cepat dalam setiap penanganan banjir dilakukan seluruh perangkat daerah.
Dalam upaya menyelesaikan dan melakukan penanggulangan banjir di Kota Cilegon, Pemkot Cilegon juga membangun kolaborasi dengan semua pihak, baik masyarakat, badan usaha milik negara (BUMN) dan industri dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Banjir Kota Cilegon.
Bersama Satgas, sejumlah pemetaan penanganan jangka pendek dan jangka Panjang dibuat. Mulai dari normalisasi, pelebaran dimensi drainase dan gorong-gorong dilakukan.
BACA JUGA: SK RT dan RW di Cilegon Bisa Digadai ke BPRS CM untuk Pengembangan UMKM
Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Setda) Kota Cilegon Ahmad Aziz Setia Ade Putra menjelaskan, normalisasi saluran dilakukan baik itu yang milik pemerinta kota, nasional dan termasuk saluran di Industri.
Hal itu menjadi langkah cepat penangnan yang dilakukan.
“Terkait dengan penanganan banjir, saat ini sudah melakukan hal-hal terkait dengan tindak lanjut. Pasca terjadi banjir, yang pertama kita melakukan normalisasi-normalisasi saluran. Yang baik itu yang dimiliki oleh pemerintah kota, oleh BPJN (Balai Pelaksana Jalan Nasional), termasuk industri,” jelasnya, Senin (23/2/2026).
Aziz menyampaikan, untuk sejumlah saluran dan gorong-gorong juga dilakukan peningkatan dimensi, misalnya yang di samping PT LOC dan PT Selago sudah dilakukan.
Bahkan, BPJN melakukan peningkatan dimensi untuk gorong-gorong.
“Peningkatan dimensi dilakukan, selain normalisasi juga diperlebar saluran dan gorong-gorong,” ujarnya.
Gerakan menanam satu juta pohon, lanjut Aziz, juga menjadi salah satu upaya untuk menyelesaikan masalah di hulu aliran sungai.
Dimana, ada 4 kecamatan yang dilakukan penanaman pohon, terutama di sejumlah titik terdampak banjir.
“Sudah disebar di 4 kecamatan yang terdampak banjir,” jelasnya.
Aziz menyatakan, upaya yang dilakukan lainnya yakni melakukan penutupan tambang pasir ilegal dan penghentian aktivitas sementara tambang pasir legal.
“Untuk tambang ilegal itu sudah pasti akan ditutup. Kalau yang legal itu yang nantinya butuh pembahasan kembali,” ucapnya.
Langkah cepat yang strategis juga diambil setelah banjir, jelas Aziz, dimana melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTR) Kota Cilegon melakukan perbaikan tembok penahan tanah atau tanggul kali yang sudah jebol akibat banjir.
“Kemudian terkait dengan kerusakan-kerusakan akibat banjir. Dinas PUPR sudah menginventarisir dibantu dengan para lurah yang terdampak, berapa saluran rusak dan tanggul jebol dilakukan perbaikan,” ujarnya.
Untuk upaya jangka pendek lainnya, papar Aziz, juga melakukan humanisasi dengan penyedotan air lewat pompa yang diberikan dari PT KAI.
“Alhamdulillah mereka menyumbangkan kurang lebih ada beberapa unit pompa untuk mempercepat aliran air. Manakala ada penyumbatan atau pengecilan yang melewati baik itu rata kereta maupun jalan nasional,” jelasnya.
Walikota Cilegon Robinsar mengungkapkan, tidak hanya jangka pendek saja, penanganan jangka panjang juga dilakukan dengan menyiapkan master plan penanganan banjir yang dikerjasamakan dengan perusahaan dan industri
“Jangka panjang kita akan membuat master plan. Master plant terkait dengan pengendalian banjir. Kita akan bekerjasama dengan pihak perusahaan. Sudah ada komunikasi dan permohonan untuk bekerjasama. Karena ada beberapa wilayah yang pengelolaannya oleh pemerintah dan kawasan. Berarti harus bersinergi,” ucapnya.
Termasuk, ucap Robinsar, soal rencana adanya pembangunan Low Water Spring (LWS) sepanjang jalan nasional Jalan Raya Anyer – Cilegon dari Kecamatan Citangkil dan Ciwandan juga diharapkan bisa direalisasikan.
“Rencana ke depan, kita mengusulkan untuk pembuatan LWS di sepanjang jalur yang nasional kemarin terdampak. Alhamdulillah ada respon dari pihak perusahaan mudah-mudahan ini bisa direalisasi,” ujarnya. (Uri)















